Napak Tilas dan Muktamar

oleh -157 Dilihat

 

_Alhamdulillah_ napak Tilas telah terlaksana dengan sukses (ahad 15 Rojab). Pesertanya banyak. Partisipasi pun juga tidak terduga. Antusias pesertanya sangat terlihat luar biasa. Sumbringah. “_Tabarrukan_” Itulah kalimat yang keluar dari lisan peserta napak tilas.

Napak Tilas bukan hanya seremonial biasa. Bukan pula selebrasi tanpa makna. Ini adalah ungkapan syukur dan menyambung nilai khidmah di NU. Melaksanakan perintah dari guru ke guru. Merawat jamiyah dari hilir ke hulu. Dan, yang pasti adalah; meneguhkan kembali isyarah tongkat dan tasbih sebagai emberio lahirnya jamiyah Nahdaltul Ulama.

Dari Demangan berjalan kaki ke Pelabuhan Kamal, sekitar 18 KM. Kiai Aza’im cucu Kiai Asad menerima tongkat dan tasbih dari Kiai Fakhruddin Dzurriyah Syaichona Cholil, lalu dibawa untuk diantarkan ke Dzurriyah Mbah Hasyim. Dua Kiai muda (Ra. Zaim dan Ra. Fakhrud) adalah simbol kekuatan NU yang tidak akan lekang oleh arus apapun. sederhana, tak mencolok. Namun tak henti merawat dan menasbihkan diri sebagai pelayan NU. Termasuk dinamika yang berkembang. Keduanya tak berkomentar, hanya Ya Jabbar Ya Qahhar bergetar dibibir dan hati keduanya. Sosok tulus, tak berandai apapun, kecuali Jamiyah Nahdlatul ulama semakin maju dan terjaga.

Dzurriyah Mbah Cholil, Dzurriyah Mbah Hasyim dan Dzurriyah Kiai Asad adalah sosok yang selama ini selalu menengadahkan kedua tangannya untuk kebaikan NU. Tidak menjadi _”insinyur”_ kesiangan hanya untuk diakui oleh medsos sebagai penyelamat Jam’iyah. Sama sekali tidak. Doa para _dzurriyah_ muassis selalu terdengar rapi dari bilik bilik pesantren, bukan dengan adegan yang siap ditonton oleh halusinasi belaka.

Napak Tilas ini sebagai _ibrah_ sekaligus perjalanan _fikrah_. Petanda Dzurriyah yang punya saham sudah turun gunung. Jangan main main dengan Jamiyah NU. Ada tongkat yang siap membinasakan. Itu bukan ilusi, akan menjadi bukti bagi yang berani. Kata sambutan Ra. Nasih, _al-Asha liman Asha_.

Kegiatan Napak Tilas tak lepas dari sosok Rois Syuriyah PWNU Kaltim, Kiai Ali Cholil. Pengusul sekaligus konseptornya. Dingin tapi menusuk. Rela bolak balik Kaltim-Madura. Sokerejo-Jombang. Tak memikirkan sesuatu yang habis. Dalam benak Kiai Ali hanya ada nilai pengabdian yang suci. Diteruskanlah kepada Ra. Zaim, ulama muda didalamnya mengalir darah kiai As’ad. Juga kepada ke Keluarga Mbah Hasyim. _Saklek_. Acara Napak Tilas sukses digelar.

Akan _kwalat_, bagi siapapun yang mengklaim sebagai orang nomor wahid dalam acara napak tilas tersebut. Ini murni acara digagas oleh Komite Dzurriyah _muassis_. Terkhusus Cicit Syaichona Cholil, KH. Ali Cholil.

Lalu dengan Muktamar? Ada baik nya Muktamar yang ke 35 di laksanakan di Bangkalan. Bumi, dimana isyarah dan Konsepnya Jamiyah Nahdlatul Ulama bermula. Seratus tahun adalah usia untuk kemudian melakukan _tajdid_. Menjemput berkah, menguatkan akar.

Ini bukan usulan, tapi penegasan bahwa Muktamar di Tengah gonjang ganjing PBNU akan menemukan ruhnya kembali. Apakah Bangkalan siap? Saya tegaskan, jika Lampung bisa, mengapa Bangkalan tidak bisa. Insyallah Bangkalan siap. Semoga terealisasi.

Oleh: Ahrori Dhofir

banner 700x350

No More Posts Available.

No more pages to load.