Menjauhi dari Masakan Terong Haram Mendapatkan Rumah dan Istri yang Cantik

oleh -165 Dilihat

Di Damaskus terdapat Masjid besar, indah dan megah yang diberi nama Masjid at-Taubah. Masjid itu adalah salah satu Masjid Jami’ yang diberkahi di negara itu. Di Masjid itu sejak 40 tahun tinggal seorang Santri yang taat dan tekun belajar. Kelak Santri itu dikenal sebagai seorang Syaikh pengajar yang alim, wara’, zuhud dan senantiasa mengamalkan ilmunya. Ia bernama Salim al-Masuthiy. Ia menjadi sosok yang diteladani dalam kesahajaan hidup, kepemimpinan, keperibadiannya yang luhur dan keperduliannya kepada orang lain.

Santri itu sehari-harinya ia tinggal disebuah kamar di Masjid itu. Untuk kebutuhan sehari-harinya ia berkerja, kadang diperoleh dari para dermawan disekitar Masjid itu.

Pada suatu hari, persedian makanannya habis dan tidak punya sepeser uang pun untuk membelinya hingga selama dua hari perutnya belum kemasukan makanan sama sekali. Pada hari ketiga, saat ia sudah tidak kuat lagi menahan rasa lapar dan diambang kematian. Lalu terlintas dalam benaknya, bahwa ia telah berada dalam batas darurat—memperbolehkan seseorang memakan bangkai dan mencuri dengan kadar kebutuhan untuk menyambung nyawa.

*****

Mejalang Subuh, saat orang-orang sedang nyenyak dalam mimpinya. Ia berencana memulai aksinya—mencuri makanan hanya untuk menyambung nyawa. Dengan tubuh yang lemah, ia menaiki lantai dua Masjid dan kebetulan bangunan Masjid tersebut terhubung dengan sebagian rumah penduduk sehingga bisa memungkinkan seseorang meloncat dan berjalan di atap rumah-rumah di dekat Masjid itu.

Tidak berselang lama, ia telah berada diatap salah satu rumah yang besar dan mewah dengan harapan di rumah itu ia bisa menemukan makanan. Lalu turun dan memasuki rumah tersebut. Alangkah terkejutnya dia, ternyata pemilik rumah telah terjaga sedang melakukan sholat. Agar tidak ketahuan pemilik rumah, ia segera berlari ke ruang sebelah.

Pucuk dicinta ulama pun tiba. Di ruangan itu ia mencium aroma makanan yang lezat menggoda selera hingga rasa laparnya kembali meronta. Ternyata ruangan yang ia masuki merupakan bagian dapur dari rumah itu.

Syahdan, tanpa menunggu komando ia membuka penutup makanan itu dan didapatnya masakan terong yang masih panas. Karena sangatnya lapar, ia pun segera mengambil sepotong dan memasukan ke dalam mulutnya tanpa perduli panas yang membakar. Namun belum sempat ia menelannya, pengetahuan dan keteguhan agamanya meronta sembari bergumam:

“Aku berlindung kepada Allah ﷻ, bukankah aku seorang Santri yang setiap hari berada di Masjid? Pantaskah aku menyatroni rumah orang lain dan mencuri makanannya?”

Seketika itu, Ia mengembalikan sisa potongan terong yang ditanganya dan memuntahkan apa yang ada di mulutnya. Ia pun menangis merasa berdosa dan menyesali perbuatannya lalu bergegas kembali ke Masjid tempat ia tinggal.

Sesampai di Masjid ia pura-pura tidak pernah terjadi apa-apa dan langsung mengikuti pengajian rutinan di Masjid itu yang diasuh oleh gurunya, meski kondisi tubuhnya sangat lemah karena menahan rasa lapar bahkan nyaris tidak sadarkan diri dan tidak bisa memahami apa yang ia didengar.

Selepas pengajian dan saat semua hadirin telah meninggalkan Masjid, menyisakan dia dan guru pengajarnya. Datang seorang perempuan yang memakai bercadar anggun menutupi semua auratnya menghampiri sang guru, lalu berbincang-bincang tentang suatu hal yang tidak dimengerti olehnya dan tanpa tahu maksud tujuannya, tiba-tiba sang guru memanggilnya seraya bertanya:

“Apakah engkau tidak ingin berkeluarga?

Iya menjawab;

“Tidak wahai guruku!”

Kemudian sang guru mengulangi pertanyaannya, namun ia memilih diam seribu bahasa hingga ketiga kalinya ia menjawab:

“Wahai guru! Aku adalah seorang laki-laki yang bahkan tidak memiliki uang untuk membeli sepotong roti pun, lalu apa gunanya aku menikah?”

Mendengar jawabannya, sang guru berkata: “Perempuan ini tadi telah datang kepadaku, menceritakan bahwa suaminya telah lama meninggal dunia. Sekarang ia hidup sebatang kara hanya menyisakan pamannya yang sudah tua renta yang sekarang juga ikut hadir di pengajian ini.” Sembari memberi isyarat kepada orang laki-laki yang duduk di dekat tiang Masjid.

Kemudian sang guru melanjutkan pembicaraannya: “Dan dia sekarang ingin menemukan pendamping hidup yang bisa menemani kesehariannya dan menjadi imamnya. Saya akan tanya lagi kepadamu, apakah kamu sudi menikahinya?”.

Iya akhirnya menjawab: “Iya guru, aku akan menikahinya.”

Lalu sang guru bertanya kepada perempuan itu: “Apakah kamu menerima dia menjadi suamimu?”

“Iya, aku menerima dia menjadi suamiku.”

Karena sudah sama-sama sepakat, hari itu juga sang guru menikahkan keduanya. Disaksikan dua saksi dan sang paman dari perempuan itu berperan sebagai walinya.

Setelah resepsi pernikahan itu, ia pulang ke rumah istrinya dan tinggal disana. Saat masuk kedalam rumah layaknya penganten baru, sang istri membuka cadar wajahnya agar sang suami puas memandangnya. Alangkah beruntungnya dia sekaligus haru karena perempuan yang telah resmi menjadi istrinya adalah perempuan muda yang berparas cantik jelita.

*****

Rumah perempuan itu memang sangat besar dan mewah. Rumah itu sejatinya didapat dari harta warisan mantan suaminya yang telah meninggal dunia.

Keesokan harinya, saat matahari menyunggingkan senyum pagi. Perempuan itu mengajaknya melihat-lihat seisi rumah sembari menunjukan kamar tidur, ruang utama, ruang makan, dapur dan kamar mandi. Namun belum jauh ia melangkah mengikuti istrinya, tepatnya di ruang tengah ia bak disambar petir di siang bolong kerena ternyata rumah itu adalah rumah yang pernah ia satroni tempo hari dan yang lebih mengejutkannya lagi, sang istri tiba-tiba berkata kepadanya:

“Aku tahu, bahwa kanda pernah masuk keruangan ini dan mencoba memakan makanan di meja itu.”

Ia hanya diam menahan rasa malu mendengar kesaksian istrinya.

“Kanda tidak perlu malu dan merasa bersalah atas kejadian yang telah berlalu. Bukankah Kanda tidak benar-benar memakan masakan terong itu? Semua ini adalah hadiah dari ketakwaan Kanda. Menjauh dari masakan terong yang haram, Allah ﷻ menggantinya dengan rumah dan isinya serta pemiliknya.” Sekian

Semoga Manfaat

Penulis: Abdul Adzim

Publisher: Fakhrul

Referensi:

✍️ Syaikh Haniy al-Hajj| Alfa Qishshah wa Qishshah min Qishashu al-Shalihin wa ash-Shalihat wa Nawadzir az-Zahidin wa az-Zahidat| al-Maktabah at-Taqfiqiyah, halaman 476-478.

banner 700x350

No More Posts Available.

No more pages to load.