Orang yang bekerja mencari harta yang halal, mempunyai beberapa keutamaan dibanding orang yang ahli ibadah tapi tanpa punya pekerjaan.
Menurut ulama :
وقد أكرم الله تعالى المحترفة بأمور فضّلوا بها على المتعبدين من غير حرفة
Allah Ta’ala telah memuliakan orang-orang yang berprofesi dengan beberapa hal yang membuat mereka lebih utama daripada ahli ibadah yang tidak memiliki profesi:
الأول: أن أعمال أحدهم له لكونه يأكل من كسبه لا من صدقات الناس وأوساخهم
1. Pertama: Bahwa pekerjaan salah seorang dari mereka adalah untuk dirinya sendiri, karena ia makan dari hasil usahanya sendiri, bukan dari sedekah atau kedermawanan orang lain.
الثاني: عدم دعواه العلم وتكبره على الجاهلين، فيشهد حقارة نفسه وتعظيم غيره
2. Kedua: Tidak mengaku berilmu dan tidak sombong terhadap orang-orang yang bodoh, sehingga ia menyaksikan kehinaan dirinya dan mengagungkan orang lain.
الثالث: سلامته من الشبه العقلية في الله تعالى وفي رسله وأحكامه
3. Ketiga: Selamat dari syubhat akal dalam memahami Allah Ta’ala, rasul-rasul-Nya, dan hukum-hukum-Nya.
الرابع: إذا وقع في معصية يصير يشهد قبحها لا يرى أنه فعل شيئاً يكفرها، وغير ذلك
4. Keempat: Jika terjerumus dalam maksiat, ia menyaksikan keburukannya dan tidak merasa bahwa ia tidak melakukan apa-apa yang dapat menghapusnya, dan lain sebagainya.
Sayyidi Ali al-Khawwash berkata:
عندي أن الذي يأكل من كسبه ولو مكروهاً كالحجام والعنواني أحسن من المتعبد الذي يأكل بدينه ويطعمه الناس بصلاحه.
”Menurutku, orang yang makan dari hasil usahanya sendiri, meskipun pekerjaan itu makruh seperti bekam dan membersihkan got, lebih baik daripada ahli ibadah yang makan dengan agamanya dan orang-orang memberinya makan karena kebaikannya.”
Oleh : Shofiyullah el_Adnany
Referensi : Al-Minah As-Sunniyah ‘Ala Al-Washiyyah Al-Mutabbawilah | halaman 83-84








