Biografi RKH. Fakhruddin Aschal, Khodim al-Ma’had Syaichona Moh. Cholil

oleh -7 Dilihat

Di Bangkalan, tepatnya di pusat kota, berdiri tegak sebuah Pesantren yang banyak melahirkan ulama-ulama hebat di Nusantara. Termasuk diantaranya adalah Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari Jombang, Pendiri Nahdlatul Ulama. Pesantren itu tidak lain adalah Pesantren Syaichona Moh. Cholil, sebuah nama yang dinisbatkan kepada pendirinya yang tak lain adalah Syaichona Muhammad Cholil Bangkalan.

Syaichona Muhammad Cholil (w. 1925 M), selain mencetak para ulama hebat di Nusantara, juga melahirkan para Dzurriyah yang akan melanjutkan perjuangan beliau dalam mengayomi masyarakat maupun melanjutkan tradisi Pesantren sebagai tempat menimba ilmu bagi masyarakat awam. Salah satu dari sekian banyak Dzurriyah beliau itu adalah RKH. Fakhruddin Aschal.

Sosok yang biasa dipanggil Ra Fakhrud atau Lora Fakhrud ini merupakan putra dari KHS. Abdullah Schal dan Nyai Hj. Sumtin. Lahir di Demangan pada 14 Oktober 1978 M sebagai anak laki-laki ketiga dari 13 putra-putri KHS. Abdullah Schal bersama Nyai Hj. Sumtin.

Sebagaimana anak-anak umumnya, Kiai Fakhrud kecil memulai pendidikan dasarnya di bawah asuhan orang tua. Beliau besar dalam didikan sosok KHS. Abdullah Schal, seorang tokoh masyarakat yang juga merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil pada masa itu.

Sebagaimana yang diutarakan Ra Fakhrud sendiri, faktor lingkungan yang berbasis pesantren dan juga merupakan putra dari seorang tokoh yang penuh wibawa, membuat beliau bersikap layaknya murid kepada guru di hadapan orang tua. “Se erasaaghih ghuleh, dek reng toah nikah benni ngangghep reng toah, tapeh nganggep ghureh (Yang dirasakan saya, kepada orang tua itu bukan menganggap sebagai orang tua, tapi layaknya seorang guru” kenang Ra Fakhrud masa-masa kecilnya dalam asuhan orang tua.

Begitulah didikan orang tua yang dirasakan oleh Ra Fakhrud begitupun saudara-saudaranya sejak kecil. Hingga sikap manja seorang anak kepada orang tua, layaknya anak pada umumnya, sama sekali tidak dirasakan oleh Ra Fakhrud.

Sikap ta’dzim dan rasa hormat itu juga lah yang menjadikan Kiai Fakhrud betul-betul berbakti dan selalu patuh kepada perintah orang tua. Setiap Abahnya memerintah, Ra Fakhrud merasa tidak punya pilihan lain untuk tidak patuh. “Tettih mun misal kon makon dek ghuleh, ghi ghuleh kotuh ghellem lok bisa mengela kotuh nurok (Jadi kalau semisal menyuruh kepada saya, ya saya harus mau, tidak bisa menghela, dan harus patuh)”. Dawuh beliau.

Sejak usia anak-anak, sebagaimana kakak-kakaknya yang lain, Ra Fakhrud mengikuti program Kanak-Kanak (TK) di Masjid Jamik Bangkalan yang tempatnya tidak begitu jauh dari kediaman beliau. Sementara pendidikan dasar formal di SDN Demangan II yang terletak di arah selatan Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil sekitar 100 Meter.

Dalam Pendidikan Agama, beliau memulai menuntut ilmu di Madrasah Ibtidaiyah Demangan I, sebuah lembaga yang dulunya terletak disekitar belakang Masjid Jamik. Pada pagi hari lembaga ini digunakan sebagai SDN Demangan I, sementara sore harinya menjadi tempat belajar tingkat Ibtidaiyah.

Ra Fakhrud memulai pendidikan Al-Qur’annya dengan mengaji kepada KH. Abdul Mu’thi Cholili di Pondok Pesantren Dzulkariman Jalan Kesorjan Demangan. Hal ini karena beliau mengikuti kakak-kakaknya yang juga belajar mengaji di Pondok tersebut. KH. Abdul Mu’thi memang menjadi sosok Kiai yang dipercaya KHS. Abdulloh Schal untuk mendidik putra-putranya di bidang Al-Qu’an.

  • Pengembaraan Mencari Ilmu

Setelah lulus dari sekolah dasar, Ra. Fakhrud kemudian melanjutkan pendidikannya dengan menimba ilmu di Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan. Pondok Pesantren Sidogiri memang menjadi pelabuhan awal putra-putra KHS. Abdullah Schal, termasuk Ra Fakhrud. “Sadhejeh stretanan nikah mondhuk dek Sidogiri (Semua saudara itu mondok ke Sidogiri)”. Terangnya.

Awal masuk Pondok Pesantren Sidogiri, Ra Fakhrud bermukim di asrama Pondok Kiai Muhammad Abdul Basith yang dikenal dengan asrama barat. Kiai Muhammad Abdul Basith merupakan Pengasuh Banat I Pondok Pesantren Sidogiri kala itu. Meski berada di asrama barat, beliau juga mengikuti pengajian Kiai Abd. Alim Abd. Jalil di Pondok Pesantren Sidogiri Putra. “Ghi ngajhih jughen dek Kiai Abdul Alim Cuma Asramanah neng dhelem Mas Muhammad (Ya ikut ngaji juga pada Kiai Abdul Alim, Cuma Asramanya di dhalem Mas Muhammad),” kisahnya. Namun karena ada kebijakan dari Majelis Keluarga Pondok Pesantren Sidogiri tentang santri yang sekolah di Madrasah Miftahul Ulum Pondok Pesantren Sidogiri, Ra Fakhrud akhirnya pindah ke asrama di Pondok Pusat.

Selepas nyantri di Sidogiri, Ra Fakhrud melanjutkan pendidikan ke Tanah Suci Makkah. Di Makkah beliau berlabuh di Pesantren Ar-Riyadl yang kala itu diasuh oleh Syaikh Muhammad bin Ismail Utsman Zain, seorang ulama yang memiliki penguasaan yang sangat luas dalam ilmu keislaman. Sebelumnya Pesantren itu diasuh oleh Syaikh Ismail Utsman Zain, Ayah Syaikh Muhammad, yang juga merupakan guru dari KHS. Abdullah Schal. Pada Syaikh Muhammad, beliau mengaji beberapa kitab antaranya Bahjatun-Nufus.

Ra Fakhrud juga mengisahkan bahwa pada Bulan Puasa, biasanya beliau ikut kakaknya, Alm. RKH. Fakhrillah Aschal, yang kala itu masih mondok di sana, untuk mengikuti pengajian Syaikh Sa’duddin Al-Murod, di Jeddah. Syaikh Sa’duddin Al-Murod merupakan salah satu ulama yang juga menjadi Mursyid Thariqah Asy-Syadziliyah yang juga merupakan guru dari Abah beliau, KHS. Abdullah Schal. Selama satu tahun pertama berada di Pesantren Ar-Riyadl, beliau tidak bisa leluasa keluar mengikuti pengajian di luar pesantren, sehingga untuk bisa ngaji kepada Syaikh Sa’ad harus ditemani kakaknya itu.

Pada tahun kedua, atas restu dari Syaikh Muhammad beliau bermukim di luar pesantren. Hal itu tentu membuat Ra Fakhrud lebih leluasa ikut pengajian Syaikh Sa’ad di Jeddah. “sehinggeh bedeh neng loar nikah, bisa bile’eh pein ngajhi dek Syaikh Saad (Sehingga, kalau ada di luar pesantren, bisa kapan saja ngaji kepada Syaikh Sa’ad)” ujar beliau.

Selain mengaji kepada Syaikh Sa’duddin Al-Murod, beliau juga rutin mengikuti pengajian Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki sehabis shalat Isya’. Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliky merupakan ulama yang keluasan ilmunya tidak diragukan lagi. Hingga tak heran jika Ra Fakhrud juga mengais ilmu dari sosok Alim ‘Allamah itu. Pada Sayyid Muhammad, beliau banyak mengaji kitab-kitab hadits, antaranya Shahih Bukhari dan Nasa’i.

Setelah kurang lebih tiga tahun lamanya menuntut ilmu di tanah suci Makkah, beliau akhirnya pulang ke Indonesia. Pulang bukan berarti berhenti mencari ilmu. Setelah dari Makkah, beliau melanjutkan pengembaraanya menuntut ilmu kepada KH. Thaifur Ali Wafa, sosok ulama yang sangat produktif asal Sumenep sana. KH. Thaifur Ali Wafa rupanya merupakan kakak ipar dari Ra Fakhrud sendiri. KH. Thaifur menikah dengan Nyai Hj. Nur Bilqis, yang tak lain adalah saudara perempuan Ra Fakhrud, putri KHS. Abdullah Schal.

“Ngaji kepada kak Thoifur itu” ungkap Ra Fakhrud, “sistemnya setoran. Saya yang baca kitab, Kak Thoifur yang akan membenarkan. Seterusnya sampai khatam”. Beliau juga menyebutkan bahwa ia mengaji kepada KH. Thoifur bersama dua saudaranya, yaitu Lora Moh. Nasih dan Lora Karror Abdullah.

Hal itu terus dijalani oleh beliau sampai kurang lebih setengah tahun. Hingga ketika KH. Thaifur berangkat haji dan pengajian libur, Ra Fakhrud memutuskan untuk mengikuti kursus Bahasa Inggris di Pare demi mengisi kekosongan. Karena tekad bulat untuk mendalami Bahasa Inggris, beliau menempuh kursus bahasa Inggris selama Enam Bulan.

Setelah dirasa sudah cukup mempelajari Bahasa Inggris, Ra Fakhrud kemudian hendak kembali ke Sumenep melanjutkan mengaji kepada KH. Thaifur Ali Wafa. Namun sayangnya, kakak perempuan beliau, yaitu Nyai Hj. Nur Bilqis, tidak memberi izin. “Ella lok usa abaleih, mondhuk peih, nyareh pondhuk be’en (Sudah tidak perlu kembali, mondok saja, cari pondok kamu) ” Kata Nyai Hj. Nur Bilqis kepada Ra Fakhrud.

Ra Fakhrud kemudian nyantri kembali ke Tanah Jawa. Kali ini beliau nyantri pada Kiai Baidhowi Gedangsewu, Kediri, Jawa Timur. Pengajian yang diasuh oleh Kiai Baidhowi menggunakan sistem kursus. Beberapa kitab pokok dikursuskan disana dengan tempo satu bulan. Pada Kiai Baidhowi, Ra Fakhrud belajar beberapa kitab kelas menengah seperti Al-Fiyah, Sullam Munawwaroq, dan Jawahirul Maknun dan diselesaikan selama tiga bulan.

Tak berhenti di situ, Ra Fakhrud masih melanjutkan pengembaraannya sebagai santri. Kali ini, beliau berlabuh di sebuah lembaga Pesantren di daerah pare sana. Di pesantren itu, Ra Fakhrud mengikuti pengajian kilatan, suatu sistem ngaji kitab yang hanya memaknai tanpa keterangan. Di Pesantren itu juga, beliau mengikuti pengajian di Pondok Pesantren Fathul Ulum Kwagean saat libur maulid tiba. Dan setiap bulan puasa, mengikuti pengajian di Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang asuhan KH. Maimun Zubair. Rutinitas mengaji setiap liburan itu beliau lakukan selama dua tahun berada di Pare, Kediri. Rutinitas itu tidak lain demi mengisi kekosongan saat libur maulid dan ramadhan saat beliau tidak pulang. Hal itu mungkin sudah bisa menggambarkan betapa gigihnya sosok seorang Ra Fakhrud dalam menuntut ilmu.

Kegigihan seorang Ra Fakhrud dalam pengembaraan mencari ilmu tidak lepas dari peran dan didikan KHS. Abdullah Schal. Dalam ceritanya, suatu ketika Ra Fakhrud diminta oleh adiknya, Ra Nasih, untuk mengajar bahasa Inggris di Pesantren Demangan tempat tinggalnya sendiri, hingga akhirnya beliau pamit boyong dan kembali ke Demangan tanpa sepengetahuan KHS. Abdullah Schal. Selepas boyong dari Kediri dan hendak mengajar bahasa Inggris di Pesantren Demangan, tepatnya pada bulan Syawal, beliau ditanya oleh Abahnya perihal alasan tidak kembali ke Pesantren. Setelah Ra Fakhrud menuturkan kalau dirinya mau mengajar bahasa Inggris, spontan Abanya dawuh, “Ella mondhuk peih (Jangan, mondok saja sana)”. Mendengar dawuh Abahnya itu, Ra Fakhrud merasa tidak punya pilihan lain dan memilih sam’an wa tho’atan kepada perintah orang tua.

Ra Fakhrud kemudian kembali ke Kediri. Karena sudah pamit boyong kepada teman-temanya, Ra Fakhrud merasa tidak kerasan jika kembali mondok di sana. Akhirnya atas rekomendasi dari salah satu temannya, Ra Fakhrud mengikuti pengajian di Pondok Pesantren Fathul Ulum Kwagean.

Ra Fakhrud menceritakan bagaimana potret ketekunannya saat awal-awal mondok di Kwagean. Selama tahun pertama berada di Pesantren tersebut, beliau sangat rajin muthola’ah sendiri dan mengumpulkan beberapa keterangan langka yang menurut beliau dianggap menarik.

Ketekunan dan keasikan dalam mencari ilmu juga beliau ceritakan saat mengaji kepada Kyai. Ra Fakhrud merasa mendapat dorongan semangat yang lebih jika mengaji kepada Kyai ketimbang belajar memahami kitab sendiri. Apalagi waktu itu beliau mengaji kitab Ihya’ Ulumuddin, sebuah kitab tasawuf fenomenal karya Hujjatul Islam Al-Ghazali. Selain kitab Ihya’ Ulumuddin, beliau juga sangat menyukai pengajian kitab Murahul Labid. Marahil Labid merupakan kitab tafsir monumental karya Imam Nawawi Banten. “Tettih duek kitab nikah se benar-benar eka leburin bektoh nikah (Jadi dua kitab ini yang benar-benar saya sukai waktu itu)”. terangnya.

Ra Fakhrud mengais ilmu di Kwagean kurang lebih selama 7 tahun. Setelah itu boyong dari pondok mengabdikan diri di Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil, pondok pesantren warisan dari leluhur beliau.

  • Masih Mondok Setelah Menikah

Hal ini mungkin cukup aneh. Sudah nikah kok masih mondok?. Tapi itulah yang dijalani oleh seorang RKH. Fakhruddin Aschal.

Kisah itu bermula ketika ibunda Ra Fakhrud, Nyai Hj.Sumtin meninggal dunia. Ketika itu Ra Fakhrud masih mencari ilmu di Kwagean. Mendengar Kabar duka dari Demangan, Ra Fakhrud akhirnya pulang ke Demangan selama tujuh. Ketika ingin kembali lagi ke Kwagenan, beliau mendapat pesan dari sang Abah, KHS. Abdullah Schal, “Be’en mun nurok lampanah umminah, dekkik apolong muso phekallah san la omor 21, padeh muso umminah been (kamu kalau ikut jejak ummi kamu, nanti akan serumah dengan tunanganmu ketika dia sudah berusia 21 sama seperti ummi kamu). Ra Fakhrud hanya diam tidak bisa berkata apa-apa saat itu. Kala itu beliau sudah bertunangan dengan Neng Mamluatul Istianah.

Singkat cerita, pasca dua tahun dari wafatnya ibunda beliau, tepatnya tahun 2008, kabar duka kembali datang dari Demangan. Abah Ra Fakhrud, KHS. Abdullah Schal meninggal dunia. Ra Fakhrud akhirnya kembali pulang dari Kwagean ke Demangan. Sebagaimana yang diceritakan oleh Ra Fakhrud sendiri, pasca Abahnya wafat, beliau beserta dua saudaranya melangsungkan akad nikah secara bersamaan. Ra Fakhrud kemudian ingat pesan Abahnya bahwa ia akan satu rumah dengan sang istri ketika sang istri berusia 21 tahun.

Atas dasar itulah Ra Fakhrud memilih melanjutkan mondok di Kwagean sampai istrinya berusia 21 tahun. Di tahun 2012 beliau boyong dari Kwagean. Dan di tahun itu juga istri beliau sudah berusia 21 tahun. “Kalau dihitung setelah akad, untuk istri berumur 21 tahun itu kurang 4 tahun.Ya jadi mondoknya 4 tahun” terangnya.

Dari pernikahannya dengan Nyai Hj. Mamluatul Istianah, Ra Fakhrud dikaruniai enam putra-putri, yaitu Lora Muhammad Fajrul Islam, Neng Faysya Adroini, Lora Fathullah, Neng Farhatul Kholidah, Neng Fadilah Syarifah, Neng Faidotul Hasanah.

  • Fokus Mengajar Santri

Selepas kembali ke Demangan setelah sekian lama mengembara mencari ilmu di pulau Jawa maupun Tanah Suci Makkah, aktivitas yang banyak mengisi keseharian RKH. Fakhruddin Aschal adalah mengajar dan mengurusi santri.

Mula-mula Ra Fakhrud mengisi beberapa pengajian kitab diantaranya adalah kitab Tafsir Ayatul Ahkam karya Syaikh Ali As-Shobuni. Beberapa tahun kemudian, kisaran 2018 beliau rutin mengisi pengajian Tafsir Jalalain setiap sore. Dan pengajian kitab Maraqil Ubudiyah setiap malam selasa sehabis shalat maghrib.

Selain itu, Ra Fakhrud juga memangku jabatan sebagai kepala Madrasah Al-Ma’arif Pondok Pesantren Syaichona Cholil selama periode kepengasuhan kakaknya, RKH. Fakhrillah Aschal. Selama itu juga, Ra Fakhrud banyak melakukan perubahan pada Madrasah Al-Ma’arif  baik dalam sistem pendidikan maupun hal lainnya. Hal itu tidak lain karena rasa syafaqah beliau yang begitu besar melihat kondisi santri saat itu dengan sistem yang ada di Madrasah.

Itulah RKH. Fakhruddin Aschal yang banyak mengisi aktivitas kesehariannya dengan mengisi pengajian dan mengajar santri. Tidak ada agenda menghadiri undangan masyarakat. Tak jarang beliau menolak undangan masyarakat. Selain karena saat itu RKH. Fakhrillah Aschal-lah yang banyak terjun di masyarakat, juga karena penulis pernah mendengar beliau dhawuh kalau beliau lebih suka mengajar para santri di kelas ketimbang terjun di masyarakat.

Karena hal itu, tak jarang ada sebagian kalangan masyarakat yang tidak mengenali Ra Fakhrud sebagai sosok Kiai yang alim keturunan ulama besar. Masyarakat, khususnya Bangkalan, lebih banyak mengenali saudara-saudara beliau yang memang banyak terjun di masyarakat.

  • Menjadi Khodim al-Ma’had Pondok Pesantren

Estafet Kepengasuhan Pondok Pesantren Demangan sudah mencapai beberapa generasi sejak didirikan oleh Syaichona Muhammad Cholil pada tahun 1874. Setelah Syaikhona Muhammad Kholil wafat pada tahun 1925, kepemimpinan Pondok Pesantren Demangan selanjutnya diasuh oleh KH. Imron bin Syaikhona Muhammad Kholil. Menurut buku RKH. Fakhrillah Aschal, Perjuangan dan Keteladanan, setelah Syaikhona Muhammad Kholil wafat, Pondok Pesantren Syaichona Muhammad Cholil mengalami kevakuman hingga tiba masa kepengasuhan KHS. Abdullah Schal.

KHS. Abdullah Schal memimpin Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil kurang lebih selama 42 tahun sejak sekitar tahun 1967 hingga beliau wafat pada tahun 2008. Setelah itu, Pondok Pesantren Demangan diasuh oleh RKH. Fakhrillah Aschal, putra tertua KHS. Abdullah Schal, sampai tahun 2022. Pasca RKH. Fakhrillah Aschal wafat, RKH. Fakhruddin Aschal lalu didaulat sebagai penerus kepemimpinan Pondok Pesantren Demangan.

Sebagaimana yang dikisahkan Ra Fakhrud sendiri, setelah RKH. Fakhrillah Aschal wafat pada 14 Mei 2022, kepemimpinan Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil menjadi perhatian besar bagi majlis keluarga. Hingga dalam suatu kesempatan, tepatnya satu hari setelah wafatnya RKH. Fakhrillah Aschal, Nyai Hj. Mutmainnah Aschal bertanya kepada Habib Luthfi bin Yahya terkait siapa yang menjadi pengganti RKH. Fakhrillah Aschal. “Tunggu tiga hari lagi, nanti ada keputusan” dawuh Habib Luthfi kepada Nyai Hj. Mutmainnah Aschal.

Ternyata, sejak satu hari pasca wafatnya RKH. Fakhrillah Aschal hal itu memang sedang dibicarakan oleh majlis keluarga tanpa sepengetahuan Ra Fakhrud. Dan semuanya sepakat bahwa Ra Fakhrud-lah yang menjadi penerus RKH. Fakhrillah Aschal menjadi pengasuh Pesantren.

Setelah dikonfirmasi, dengan penuh rendah hati dan rasa tawadhu’ Ra Fakhrud menolak menjadi pengasuh. Beliau merasa tidak akan mampu mengemban amanah ini. “Mphon lah lok usa ghuleh (Sudahlah, tidak usah saya)” Dawuh Ra Fakhrud kepada saudara-saudaranya.

Ra Fakhrud mencoba membujuk saudara-saudaranya. Namun, keputusan sudah bulat. Ra Fakhrud tidak bisa menghelah lagi. Akhirnya Ra Fakhrud mencoba meyakinkan dirinya dalam mengemban amanah ini. Dalam batin, Ra Fakhrud berkata pada dirinya sendiri:

“Apa yang kamu takutkan jadi pengasuh? ubah kamu itu jangan jadi pengasuh, diniati berkhidmah saja. Jika kamu tidak mau jadi pengasuh, berkhidmah saja kepada Pondok, berkhidmah kepada para leluhur”

Hal itu sedikit membuat diri Ra Fakhrud menjadi tenang. Ditambah lagi, beliau tiba-tiba ingat Al-Qur’an Surat Al-Qashash ayat 34 yang mengisahkan doa Nabi Musa as. kepada Allah Swt. agar menjadikan Harun as. sebagai teman dakwahnya. Dari itu, beliau akhirnya mau menjadi pengasuh dan meminta kepada RKH. Nasih Aschal, adik beliau, untuk menemaninya dalam berdakwah.

Begitulah RKH. Fakhruddin Aschal, sosok ‘alim yang penuh rendah hati. Kisah pengembaraan ilmu beliau patut untuk menjadi panutan bagi para santri. Sikap tawadhu’ dan kerendahan hati beliau juga harus dijadikan suri tauladan oleh kita semua. Wallahu A’lamu.

Penulis : Bhusiri

Publisher : Fakhrul

banner 700x350

No More Posts Available.

No more pages to load.