Dulu saat mondok, ada teman kelas yang langganan tidak naik kelas. Bahkan ia bisa naik kelas tiga tahun sekali itu pun karena mendapat keringanan pihak Madrasah dan karena sering ketinggalan kelas, salah satu teman kelasnya dikemudian hari menjadi guru pengajarnya. Aneh tapi nyata.
Setahu saya, ia tidak naik kelas bukan karena banyak alpa tidak masuk sekolah atau malas belajar tapi memang kemampuan IQ (Intelligence Quotient)nya di bawah rata-rata. Saat jam belajar wajib ia selalu menelaah kitabnya, bertanya kepada teman atau seniornya yang dianggap mempuni dan bahkan ia selalu menambah jam belajarnya agar bisa hafal dan faham.
Alhamdullah dengan penuh kesabaran dan tekat semangat yang kuat ia tetap menuntut ilmu hingga ia lulus dari tingkat sekolah tingkat Aliyah lalu diangkat menjadi guru Ibtidaiyah meski ditingkat paling rendah. Nah, disaat menjadi guru inilah wawasan dan pengetahuannya mulai ter asah, hingga pelajaran yang dulu tidak difahami dan dimengerti lambat laun mulai terbuka. Mungkin barokah kesabaran, ketekunan belajar serta ketaatan pada guru dan Pesantren, Allah ﷻ membukakan hatinya untuk menjadi ahli ilmu dan sekarang setelah pulang ke rumahnya ia menjadi tokoh masyarakat di kampung halamannya bahkan dengar-dengar ia sudah bergelar doktor (S3) tentu setelah melalui tahapan kuliah di perguruan tinggi.
Ternyata ada ulama besar dan terkenal yang kisahnya mirip dengan teman saya di awal beliau mencari ilmu. Beliau adalah Syaikh Sa’duddin Mas’ud bin Umar at-Taftazani (W. 793 H/1390 M) atau yang dikenal dengan panggilan at-Taftazani. Seorang ulama yang multi talent dan produktif menghasilkan banyak karya tulis semisal ilmu Nahwu, Shorrof, Fiqih, Kalam, Tafsir al-Qur’an, Balaghah, Mantiq, Falsafah dan lainnya. Berikut kisah lengkapnya:
Syaikh Syahaduddin Abu al-Falah Abdul Hayyi bin Ahmad bin Muhammad Ibnu Imad al-Hanbaliy dalam karyanya Syadzarat adz-Dzahab fi Akhbar min Dzahab mengutip dari sebagian ulama yang ternama menuturkan:
وحكي بعض الأفاضل أن الشيخ سعد الدّين كان في ابتداء طلبه بعيد الفهم جدا، ولم يكن في جماعة العضد أبلد منه ومع ذلك فكان كثير الاجتهاد ولم يؤيسه جمود فهمه من الطلب، وكان العضد يضرب به المثل بين جماعته في البلاد، فاتفق أن أتاه إلى خلوته رجل لا يعرفه فقال له: قم يا سعد الدّين لنذهب إلى السير، فقال: ما للسير خلقت أنا، لا أفهم شيئا مع المطالعة فكيف إذا ذهبت إلى السير ولم أطالع، فذهب وعاد، وقال له: قم بنا إلى السير، فأجابه بالجواب الأول ولم يذهب معه، فذهب الرجل وعاد، وقال له مثل ما قال أولا، فقال: ما رأيت أبلد منك، ألم أقل لك ما للسير خلقت فقال له: رسول الله- صلّى الله عليه وسلّم- يدعوك فقام منزعجا ولم ينتعل بل خرج حافيا حتّى وصل به إلى مكان خارج البلد به شجيرات، فرأى النّبيّ- صلّى الله عليه وسلّم- في نفر من أصحابه تحت تلك الشجيرات فتبسم له، وقال: «نرسل إليك المرّة بعد المرّة ولم تأت» . فقال: يا رسول الله ما علمت أنك المرسل وأنت أعلم بما اعتذرت به من سوء فهمي وقلة حفظي، وأشكو إليك ذلك. فقال له رسول الله- صلّى الله عليه وسلّم-: «افتح فمك» وتفل له فيه ودعا له، ثم أمره بالعود إلى منزله وبشّره بالفتح، فعاد وقد تضلّع علما ونورا. فلما كان من الغد أتى إلى مجلس العضد وجلس مكانه فأورد في أثناء جلوسه أشياء ظنّ رفقته من الطلبة أنها لا معنى لها لما يعهدون منه فلما سمعها العضد بكى وقال: أمرك يا سعد الدّين إليّ فإنك اليوم غيرك فيما مضى، ثم قام من مجلسه وأجلسه فيه وفخّم أمره من يومئذ. انتهى
“Di ceritakan dari sebagian ulama yang utama bahwa Syaikh Sa’duddin al-Taftazani pada awal belajarnya sangat sulit memahami ilmu. Diantara murid-muridnya Syaikh al-Adhud (Adhuddin Abdurahman bin Ahmad bin Abd al-Ghaffar al-Ijiy (w.756 h), ia adalah murid yang paling bodoh. Tetapi ia banyak berusaha. Kebekuan pemahamannya tidak membuatnya putus asa untuk mencari ilmu. Al-Adhud menjadikannya sebagai contoh diantara muridnya dalam hal kebodohan.
Sampai suatu saat, ketika Sa’duddin menyendiri, tiba-tiba seorang laki-laki tidak dikenal mendatanginya. Laki-laki itu berkata: “Berdirilah wahai Sa’duddin, pergi bersama kami.”
Ia menjawab: “Aku diciptakan bukan untuk bepergian. Aku belajar saja masih tidak faham, bagaimana jika aku pergi dan tidak belajar.”
Laki-laki itu pergi dan kemudian kembali lagi. Ia berkata lagi: “Berdirilah, berangkat bersama kami.” Ia menjawab seperti jawaban yang pertama dan tidak mau pergi bersamanya. Laki-laki itu pergi dan kemudian kembali lagi. Lalu berkata seperti perkataan yang pertama. Ia menjawab: “Aku tidak melihat orang yang lebih bodoh dari kamu. Bukankah sudah aku katakan padamu, aku diciptakan bukan untuk pergi.”
Laki-laki itu berkata: “Rasulullah ﷺ memanggilmu.” Mendengar perkataan itu, Sa’duddin berdiri dengan terkejut. Tanpa memakai sandal, ia berangkat pergi sampai pada suatu tempat diluar daerah yang banyak semak belukar. Lalu ia melihat Nabi ﷺ bersama beberapa orang sahabat dibawah semak belukar itu. Baginda tersenyum kepadanya dan bersabda: “Aku memanggilmu beberapa kali, kamu tidak mau datang?”
Ia menjawab: “Wahai Rasulullah, aku tidak tahu bahwa engkaulah yang memanggilku. Tentu engkau lebih tahu dengan alasanku tentang keburukan pemahamanku dan lemahnya hafalanku. Aku mengadukan hal itu kepada engkau.”
Lalu Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya: “Buka mulutmu.” Baginda meludahi ke dalam mulutnya dan mendoakannya. Kemudian baginda menyuruhnya kembali lagi ke tempat tinggalnya. Baginda juga memberinya kabar gembira tentang keterbukaan hatinya pada ilmu pengetahuan.
Ia pun kembali dengan memiliki kedalaman ilmu dan pengetahuan yang sempurna. Keesokan harinya, ia mendatangi majlis gurunya, al-Adhud dan duduk di tempatnya. Pada waktu duduk itu, ia menyampaikan banyak hal, yang teman-teman seperguruannya mengira bahwa hal itu tidak ada artinya, karena apa yang selama ini mereka ketahui tentang kebodohannya. Tetapi begitu al-Adhud mendengar penyampaiannya, beliau langsung menangis dan berkata: “Persoalanmu menjadi urusanku wahai Sa’duddin. Kamu sekarang berbeda dengan yang sebelumnya.” Kemudian al-Adhud berdiri dari tempat duduknya dan menyuruh Sa’duddin duduk di situ untuk menyampaikan pelajaran kepada murid-muridnya. Dan sejak hari itu al-Adhud mengagungkan muridnya itu.” Waallahu A’lamu
Penulis: Abdul Adzim
Publisher: Fakhrul
Referensi:
✍️ Syaikh Syahaduddin Abu al-Falah Abdul Hayyi bin Ahmad bin Muhammad Ibnu Imad al-Hanbaliy| Syadzarat adz-Dzahab fi Akhbar min Dzahab| Daru al-Kutub al-Ilmiyah, juz 7, halaman 78.
.







