Pekan berikutnya, KH. Muhammad Ismail Al-Ascholy menjelaskan teks berikut:
وقال في تفسير قوله تعالى
سورة ال عمران
إِنَّ مَثَلَ عِيسَى عِندَ اللَّهِ كَمَثَلِ آدَمَ خَلَقَهُ مِن تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُن فَيَكُونُ
Artinya: “Sesungguhnya perumpamaan (penciptaan) Isa di sisi Allah adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian berfirman kepadanya, ‘Jadilah!’, maka jadilah dia.”
Ayat ini menjadi senjata bagi orang Islam secara umum, atau bagi orang-orang yang mengkaji perbandingan agama secara khusus, bahwa dalil orang Yahudi yang mengatakan Nabi Isa adalah sesuatu yang mustahil tanpa adanya bapak sehingga dianggap anak zina adalah keliru. Ayat ini menjadi senjata bagi umat Islam bahwa Nabi Isa bukan sesuatu yang aneh; itu adalah hal biasa bagi Allah, karena Allah memiliki contoh yang lebih hebat dari itu, yaitu Nabi Adam a.s. yang tidak memiliki bapak sekaligus tidak memiliki ibu.
Sekaligus ayat ini menjadi jawaban bagi orang Nasrani yang mengatakan bahwa Nabi Isa adalah anak Tuhan karena lahir tanpa bapak. Karena hal itu dianggap tidak mungkin, maka satu-satunya jawaban menurut mereka adalah bahwa Nabi Isa adalah anak Tuhan. Mereka mengatakan ayahnya adalah Allah.
Maka umat Islam juga diberi senjata oleh Allah Swt. Jika Nabi Isa dianggap anak Tuhan hanya karena tidak memiliki bapak, berarti Nabi Adam lebih layak dianggap Tuhan daripada Nabi Isa, karena ia bukan hanya tidak memiliki bapak tetapi juga tidak memiliki ibu.
وتلك آية من الله تعالى تعبر على أنه قادر على أن يخلق الناس بدون أب أو بدون والدين، والله سبحانه وتعالى خلق الخلق على أربع كيفيات؛ بلا وسيلة وهو آدم، بلا وسيلة أب وهو عيسى، بلا وسيلة أم وهي حواء لأنها خلقت من ضلع آدم، بوسيلة أب وأم وهو غيرهم.
Artinya: “Dan itu adalah suatu tanda dari Allah Ta‘ala yang menunjukkan bahwa Dia Maha Kuasa untuk menciptakan manusia tanpa ayah atau tanpa kedua orang tua. Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā menciptakan makhluk dengan empat cara: tanpa perantara apa pun, yaitu Nabi Adam; tanpa perantara ayah, yaitu Nabi Isa; tanpa perantara ibu, yaitu Sayyidah Hawa—karena ia diciptakan dari tulang rusuk Nabi Adam; serta dengan perantara ayah dan ibu, yaitu selain mereka.”
Semua itu adalah mukjizat yang tidak akan terulang kembali secara adat, tetapi mungkin terjadi secara qudrah. Maka jika zaman sekarang ada yang mengatakan ada orang lahir tanpa bapak atau ibu, hal itu mustahil secara adat la qudratan.
Mengapa Allah menciptakan Nabi Isa seperti itu? Karena untuk memperlihatkan kepada Bani Israel yang pada saat itu terlalu percaya kepada ilmu thabi‘at atau hukum alam—bahwa anak hanya bisa lahir jika ada bapak dan ibu, api pasti panas, dan lainnya—tanpa memperhatikan kekuasaan Allah.
والآية واضحة عياناً وأظهر بياناً وحق للناظرين الإيمان بها فإن الله تعالى لا يُظهر آية أخرى مثلها لدلالة صدق ما بينته، إذ كثرة السؤال في إظهار الآيات تدل على شدة تعنت الطالبين كما وقع في عصر موسى وقومه، والله رؤوف رحيم فيعطي ما يطلبونه وهم ظالمون، فعطاؤه تعالى صار مكراً لهم منه، وذلك قوله: … أَهْبِطُوا مِصْرًا فَإِنَّ لَكُمْ مَا سَأَلْتُم … (البقرة: 61)، ثم قال بعد ذلك: … وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ وَالْمَسْكَنَةُ وَبَاءُوا بِغَضَبٍ مِنَ اللَّهِ … (البقرة: 61)
Artinya: “Ayat itu sangat jelas terlihat dan amat terang penjelasannya, dan sudah sepantasnya bagi orang yang melihatnya untuk beriman kepadanya. Sebab Allah Ta‘ala tidak akan menampakkan ayat lain yang semisal untuk menunjukkan kebenaran apa yang telah dijelaskan-Nya. Banyaknya permintaan untuk menampakkan mukjizat menunjukkan betapa keras kepala dan membangkangnya para peminta, sebagaimana terjadi pada masa Nabi Musa dan kaumnya. Allah Maha Lembut lagi Maha Penyayang; Dia tetap memberi apa yang mereka minta padahal mereka itu zalim. Namun pemberian-Nya itu menjadi makar bagi mereka. Itulah makna firman-Nya: ‘…masuklah kalian ke sebuah negeri, niscaya kalian memperoleh apa yang kalian minta…’ (Al-Baqarah: 61). Kemudian Allah berfirman setelah itu: ‘Dan mereka ditimpa kehinaan dan kemiskinan, serta kembali membawa kemurkaan dari Allah…’ (Al-Baqarah: 61).”
Maksudnya, jika seseorang sering berkata, “Ya Allah, tunjukkan kuasa-Mu,” dan semisalnya, itu menunjukkan ia membangkanag kepada Allah Swt. karena tidak percaya kecuali jika terjadi pada dirinya sendiri.
وقال: الإنجيل مردود عند بني إسرائيل، ثم جاء قوم بيزنطة آمنوا بعيسى ولكنهم لا يفهمون لغة الإنجيل فترجم
Artinya: “KH. Maimun Zubair berkata, ‘Injil itu ditolak oleh Bani Israil. Kemudian datang kaum Bizantium yang beriman kepada Isa, tetapi mereka tidak memahami bahasa Injil sehingga Injil itu diterjemahkan.”
Ketika Nabi Isa diutus kepada Bani Israil, sembilan puluh persen dari mereka (orang Yahudi) menolak beliau sekaligus menolak Injil, karena dianggap mengubah Taurat—padahal merekalah yang mengubah isi Taurat. Ketika Injil datang untuk membenarkan Taurat, maka Injil lah yang ditolak.
Kemudian datang kaum Bizantium yang beriman kepada Nabi Isa. Akan tetapi mereka tidak memahami bahasa Injil. Ada yang mengatakan bahwa bahasa Injil adalah Ibrani, ada yang mengatakan Suryani, dan ada yang mengatakan Armani—bahasa yang digunakan pada masa penjajahan Romawi.
Bizantium dahulu menjajah kaum Nabi Isa. Kemudian mereka beriman kepada Nabi Isa, tetapi karena tidak memahami bahasa beliau, Injil diterjemahkan oleh para sahabat Nabi Isa (kaum Hawariyun) ke dalam bahasa Romawi. Akhirnya hingga kini tidak ada Injil yang orisinal karena Injil tertua sudah berbahasa Romawi.
Ketika sebuah buku diterjemahkan, maka keorisinalitasannya berkurang. Maka Allah menurunkan Al-Qur’an pada akhir zaman dan menjaga keorisinalitasnya dengan bahasa Arab agar tidak seperti kitab Injil. Dan yang menjaga Al-Qur’an langsung adalah Allah sendiri sebagaimana firman-Nya:
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
Artinya: “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya.”
Author: Fakhrullah







