Mengapa Ayat Penutup Surah Al-Baqoroh Begitu Istimewa?

oleh -2,342 views

Pekan berikutnya, KH. Muhammad Ismail Al-Ascholy menjelaskan redaksi berikut:

سورة البقرة

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِن نَّسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ، وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنتَ مَوْلَانَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

Artinya: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat (balasan) dari apa yang diusahakannya dan ia menanggung (dosa) dari apa yang dikerjakannya. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau menghukum kami jika kami lupa atau kami salah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami dalam menghadapi kaum yang kafir.”

Pada lafaz lā yukallifullāhu nafsan di atas, KH. Ismail Al-Ascholy mengungkapkan bahwa sebenarnya manusia selalu mampu menghadapi setiap perintah dan ujian dari Allah Swt. Bahkan salat yang dahulu berjumlah lima puluh pun sebenarnya mampu saja dilakukan oleh manusia.

Karena apabila menjumlahkan salat-salat sunah dalam sehari semalam, maka pada akhirnya bisa sampai lima puluh kali salat bahkan lebih. Seperti salat qabliyah Subuh, kemudian salat Isyraq (menurut pendapat yang memperbolehkan), salat Duha delapan rakaat, lalu salat qabliyah dan ba‘diyah Zuhur, kemudian salat tasbih lima rakaat, kemudian Asar, lalu salat qabliyah Magrib (menurut pendapat yang memperbolehkan), dan seterusnya.

Artinya, seandainya Nabi Musa tidak mencegah Nabi Muhammad, bisa saja umat Nabi Muhammad mampu melakukannya. Bahkan Ali Zainal Abidin, salah satu cicit Rasulullah saw., mampu melakukan salat sampai seribu rakaat dalam sehari.

Namun, karena kemampuan manusia berbeda-beda, maka Allah Swt. memberikan keringanan:

يُرِيدُ ٱللَّهُ بِكُمُ ٱلۡیُسۡرَ وَلَا یُرِیدُ بِكُمُ ٱلۡعُسۡرَ

Artinya: “Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesulitan bagimu.”

Dulu, Nabi Muhammad pada awal-awal melaksanakan salat (sebelum diperintahkan salat lima waktu, yaitu salat pagi dan salat malam), beliau mengangkat salah satu kakinya agar terasa lebih sulit, karena al-ajru biqadri at-ta‘ab (besarnya pahala tergantung kadar kesulitan). Hingga pada akhirnya turun ayat:

طه ۝١ مَاۤ أَنزَلۡنَا عَلَیۡكَ ٱلۡقُرۡءَانَ لِتَشۡقَىٰۤ ۝٢ إِلَّا تَذۡكِرَةࣰ لِّمَن یَخۡشَىٰ ۝٣

Artinya: “Ṭāhā. Kami tidak menurunkan Al-Qur’an kepadamu agar engkau menjadi susah, tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah).”

Sejak saat itu Nabi Muhammad menggunakan dua kaki.

Kemudian juga, pada masa awal turunnya salat, Nabi Muhammad dalam salat malamnya tidak pernah kurang dari seluruh ayat yang telah diturunkan oleh Allah. Makanya Allah berfirman:

یَـٰۤأَیُّهَا ٱلۡمُزَّمِّلُ ۝١ قُمِ ٱلَّیۡلَ إِلَّا قَلِیلࣰا ۝٢ نِّصۡفَهُۥۤ أَوِ ٱنقُصۡ مِنۡهُ قَلِیلًا ۝٣ أَوۡ زِدۡ عَلَیۡهِ وَرَتِّلِ ٱلۡقُرۡءَانَ تَرۡتِیلًا ۝٤﴾ [المزمل ١-٤]

Artinya: “Wahai orang yang berselimut! Bangunlah (untuk salat) pada malam hari, kecuali sedikit darinya; (yaitu) separuh malam atau kurangilah sedikit dari separuh itu, atau tambahkanlah (waktunya); dan bacalah Al-Qur’an itu dengan tartil.”

Jika satu malam terdapat sepuluh jam, maka lima jam diisi dengan ibadah dan sisanya tidur. Bisa juga kurang sedikit, yaitu empat setengah jam, atau ditambah menjadi enam jam. Jadi antara empat hingga enam jam digunakan untuk beribadah kepada Allah Swt. Itulah asal-usul ibadah malam.

Para ulama terdahulu mengatakan bahwa Surah Al-Muzammil adalah surah kedua yang turun setelah Iqra’ (Al-‘Alaq) sebanyak tujuh ayat. Setelah itu Malaikat Jibril lama tidak turun. Ketika Nabi menginginkan turunnya wahyu, maka diturunkanlah Yā ayyuhal muddatsir dan Surah Al-Muzammil.

Pada lafaz warattilil-qur’āna tartīlā, Nabi hanya membaca Surah Iqra’ tujuh ayat dan Surah Al-Muzammil secara lengkap, yang diulang-ulang. Ini menunjukkan bahwa orang yang sering mengulang Al-Qur’an akan mendapatkan penghayatan yang lebih mendalam dibandingkan yang hanya membaca sekali.

Nabi saja ketika beribadah kepada Allah Swt., dalam satu riwayat beliau mengulang-ulang ayat yang menceritakan doa Nabi Isa:

إِن تُعَذِّبۡهُمۡ فَإِنَّهُمۡ عِبَادُكَۖ وَإِن تَغۡفِرۡ لَهُمۡ فَإِنَّكَ أَنتَ ٱلۡعَزِیزُ ٱلۡحَكِیمُ

Artinya: “Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu; dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sungguh Engkaulah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”

Ayat ini diulang oleh Nabi sampai beliau menangis. Dahulu, Nabi saw. setiap menjumpai ayat rahmat beliau langsung memintanya kepada Allah; setiap menjumpai ayat azab beliau meminta dijauhkan; setiap menjumpai ayat raja’ beliau mengulanginya; dan setiap menjumpai ayat perintah ta‘awwudz beliau langsung melaksanakannya. Apa pun yang diperintahkan Al-Qur’an, beliau langsung mengerjakannya.

Maka sejak Nabi diutus sampai wafat, ada sahabat yang selama setahun masih berusaha memahami Surah Al-Baqarah hanya lima ayat saja, karena ingin benar-benar memahami dan mengamalkannya.

Jadi, perintah-perintah berat pada masa lalu sebenarnya masih dalam kadar kemampuan manusia. Itulah makna dari lā yukallifullāhu nafsan illā wus‘ahā.


Orang-orang mukmin pada zaman Nabi berdoa:

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِن نَّسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا

Artinya: “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau menghukum kami jika kami lupa atau kami salah.”

Tidak ada satu pun tempat, organisasi, atau peraturan yang memperbolehkan anggotanya meminta maaf hanya dengan alasan lupa. Namun kepada Allah, hamba-Nya tetap meminta dimaafkan, dan Allah memaafkan. Allah berfirman:

وَٱذۡكُر رَّبَّكَ إِذَا نَسِیتَ وَقُلۡ عَسَىٰۤ أَن یَهۡدِیَنِ رَبِّی لِأَقۡرَبَ مِنۡ هَـٰذَا رَشَدࣰا

Artinya: “Dan ingatlah Tuhanmu apabila engkau lupa, dan katakanlah: ‘Mudah-mudahan Tuhanku memberikan petunjuk kepadaku kepada yang lebih dekat kepada kebenaran daripada ini.’”


Permintaan kedua:

رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِنَا

Artinya: “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami.”

Orang zaman dulu, jika bajunya terkena najis harus dibuang atau dipotong, berbeda dengan umat Nabi Muhammad yang cukup mencucinya.

Umat terdahulu, jika melakukan maksiat, cara tobatnya adalah pergi ke Baitul Maqdis; ketika salat tobat di sana barulah dimaafkan. Berbeda dengan umat Nabi Muhammad yang cukup mengucapkan astaghfirullāh.

Jika umat terdahulu murtad, cara tobatnya harus dikumpulkan di tempat gelap dan dibunuh, sebagaimana ayat:

فَٱقۡتُلُوۤا۟ أَنفُسَكُمۡ ذَ ٰ⁠لِكُمۡ خَیۡرࣱ لَّكُمۡ عِندَ بَارِىِٕكُمۡ فَتَابَ عَلَیۡكُمۡۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِیمُ

Artinya: “Maka bunuhlah dirimu (sebagai bentuk tobat). Itu lebih baik bagimu di sisi Penciptamu. Lalu Allah menerima tobatmu. Sesungguhnya Dia Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.”


Permintaan ketiga:

وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ

Artinya: “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya.”

Ini adalah permintaan agar tidak diberi ujian yang tidak mampu dihadapi. Karena itu setiap cobaan dari Allah pasti sesuai kemampuan hamba-Nya.

Permintaan terakhir:

وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنتَ مَوْلَانَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

Artinya: “Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami menghadapi kaum yang kafir.”

Setiap doa di sini, Allah menjawab na‘am (iya).

Orang yang membaca ayat atau doa ini akan diberi oleh Allah perkara yang tidak memberatkannya.

رغب في قراءة سورة البقرة لما كان فيها من الفضائل، ومنها أواخر السورة.فهذه دلالة على حث سؤال ورجاء حسن الخاتمة، يعني سورة البقرة تزيد فضيلتها بوجود خواتيمها حتى افتخر بها النبي له وقال: أعطيت خواتيم سورة البقرة من بيت كنز من تحت العرش لم يعطهن نبي قبلي

Artinya: “Membaca Surah Al-Baqarah lebih disukai karena banyaknya keutamaan di dalamnya, termasuk diantaranya adalah ayat-ayat terakhirnya. Ini menunjukkan anjuran untuk meminta dan berharap husnul khotimah. Artinya, Surah Al-Baqarah semakin mulia dengan adanya ayat-ayat terakhirnya, sehingga Nabi Muhammad saw. merasa bangga dan berkata: ‘Aku diberi akhir-akhir Surah Al-Baqarah dari bawah Arsy, yang mana hal itu tidak diberikan kepada nabi sebelumku.'”

Author: Fakhrullah

banner 700x350

No More Posts Available.

No more pages to load.