Adab Berdiri Ketika Mahallul Qiyam

oleh -1,642 views

As-Sayid Zainal Abidin al-Barzanji merangkai sebuah Nadzam yang sangat indah dalam kitab Maulid al-Barzanjinya, menjelaskan tentang kesunnahan berdiri saat membaca Maulid Nabi.

Bait Nadzam tersebut terdiri dari Bahar Thawil yang wazannya berupa, فعولن مفاعيلن فعولن مفاعيلن yang diulang dua kali :

وقد سن أهل العلم والفضل والتقى
قياما على الأقدام مع حسن امعان

“Sungguh para Ahlul Ilmi, Ahlul Fadli dan Ahlut Taqwa menganggap sunnah hukumnya, berdiri (ketika disebutkan kelahirannya Nabi) dengan sebaik-baiknya sikap tawadhu’.”

Artinya, ulama menganggap sunnah berdiri ketika dibacakan kalimat “telah lahir seorang Nabi.” Berdiri untuk menampakkan rasa bahagia dan penuh pengagungan, dan tentu dengan segenap sikap sopan santun yang sangat baik. Kemudian al-Barzanji melanjutkan nadzamnya :

بتشخيص ذات المصطفى وهو حاضر
بأي مقام فيه يذكر بل دان

“Dengan menggambarkan dzatnya Nabi al-Musthafa, bahwa beliau datang pada setiap tempat yang disebut nama beliau, bahkan beliau sangat dekat.”

Artinya, berdiri dengan tawadhu’ sembari membayangkan diri Nabi yang sangat agung nan rupawan.

بأن يمثل نفسه كأنه يراه بعينه

“Dengan menerka-nerka diri beliau, seakan-akan kita melihat beliau dengan kedua mata.”

Kemudian membayangkan, bahwa beliau hadir di mana-mana tempat yang di situ dibacakan Maulid Nabi, bahkan beliau sangat dekat dengan orang-orang yang selalu menyebut namanya, lewat bacaan shalawat dan puji-pujian yang indah.

Sebaliknya, yang dinilai jauh dari akhlak yang baik adalah ketika berdiri bukan untuk mengagungkan Nabi, tapi hanya saling berebut makanan saja. Dan sama sekali tidak terlintas bayangan seorang Nabi saat berdirinya, juga tidak merasakan kehadiran beliau di tengah-tengah acara tersebut.

Semoga Nabi ﷺ tidak benci.

Oleh : Shofiyullah el_Adnany

Referensi : Targhibul Musytaqim Libayani Mandzumati Zainal Abidin al-Barzanji | Syaikh Nawawi al-Banteni | Halaman 17

banner 700x350

No More Posts Available.

No more pages to load.