Di acara peringatan 1000 harinya Alm. RKH. Fakhrillah Aschal, KH. Abdullah Hanani Basyamka menyampaikan tausiyahnya, dalam tausiah tersebut, beliau banyak menyampaikan fawaid, sejarah, dan kisah kisah para ulama, di antaranya adalah kisah Imam As-Subki, beliau bercerita:
Di Mesir ada ulama masyhur bernama Imam As-Subki, sewaktu mudanya beliau ingin berguru kepada Imam Nawawi di Syuriah, beliau pun berangkat ke tempat Imam Nawawi, ketika sampai di sana, banyak orang takziah, ternyata Imam Nawawi telah wafat.
Kemudian beliau bertanya kepada salah satu santri Imam Nawawi, “Dimana tempat biasa beliau duduk atau tempat beliau ketika menjadi imam?” Lalu ditunjukkan lah oleh santri tersebut.
Imam As-Subki pun langsung mencium tempat biasa Imam Nawawi duduk dan tempat ketika beliau menjadi imam sholat, serta meletakkan pipi dan dadanya pada tempat itu.
Santri tadi pun bertanya, “Kenapa engkau melakukan hal itu As Subki?” Imam As-Subki menjawab, “Karena saya tidak nututi untuk ngaji kepada beliau, tapi semoga saya mendapatkan barokah dari tempat-tempat ini.”
Kemudian setelah belasan tahun berlalu, Imam As-Subki menjadi ruknul islam (pilar agama), ketika beliau ditanya, darimanakah beliau mendapatkan derajat ini? Apakah dari mutholaahnya? Atau ibadah-ibadahnya?
Imam As-Subki selalu menjawab bahwa hal itu beliau peroleh karena barokah gurunya, yaitu dulu pernah mencium dan menempelkan pipi dan dadanya pada atsar gurunya (Imam Nawawi)
Sebagaimana guru kita Syaichona Moh Cholil, KHS. Abdullah Schal yang masih ada atsar-nya, yaitu tempat beliau beribadah dan mengajar para santri serta para dzurriyah beliau, maka hendaknya kita tabarrukan pada atsar-atsarnya.
Dalam kitab Durrotun Nasihin walaupun hadistnya tidak kuat disebutkan bahwa, orang mukmin yang mati maka ia akan mengelilingi rumahnya sampai 40 hari, setahun, atau 1000 hari untuk melihat rumahnya, harta yang digunakan dan hutangnya.
Maka kita adalah tetesan bukti kesetiaan dan kita saat ini dipandang oleh beliau. Apa yang menjadi warisan beliau mari kita lestarikan, jangan sampai kita membandingkan antara zaman-zaman guru kita dengan yang lain atau dzurriyahnya.
Tiga Hal yang Tidak Akan Dihapus Oleh Allah Swt.
Ra. Hanani, sapaan akrabnya, menyampaikan bahwa, ada tiga hal yang Allah tidak akan hapus, dua diantaranya adalah:
- Seorang anak tidak akan dihapus nisbatnya kepada sang ayah
- Orang yang mempunyai sanad tetap terhadap gurunya.
Pada point nomor dua ini, Ra. Hanani selipkan kisah tentang salah satu jamaah umrahnya yang sakit-sakitan, beliau bercerita bahwa, ada salah satu jemaahnya yang sakit-sakitan, beliau pun sowan kepada Syaikh Amin, “Syaikh saya mempunyai jemaah yang pada saat mereka berangkat sehat, namun ketika sampai di Makkah-Madinah seperti orang yang terganggu akalnya.” tutur Ra. Hanani
Kemudian setelah bercerita, Syaikh Amin berkata pada beliau, “Bisikkan pada telinganya namaku, Ahmad Amin Abu At-Tayyib.” Lalu dilakukanlah apa yang diperintahkan Syeikh Amin, dan jamaah tersebut langsung terdiam dan sembuh.
Amalan Dari Alm. RKH. Fakhrillah Aschal
Ra. Hanani juga menyampaikan salah satu amalan dari RKH. Fakhrillah Aschal, yaitu sebagaimana yang selalu di dauhkan oleh Kiai Fakhri kepada ikhwan Syadziliyah, beliau berkata, “Apabila kalian mempunyai keruwetan, bingung dan ditimpa bala’ maka sebutlah dalam hati nama Imam Abu Hasan As Syadzili.”
Suatu ketika ada kisah seorang kyai yang melakukan perjalanan dengan keluarganya ke daerah Proppo Pamekkasan, ditengah jalan beliau di cegat oleh belasan begal dan meminta beliau untuk menyerahkan kendaraannya.
Karena khawatir terhadap keluarganya, ia pun memberi kunci motor nya, namun saat beliau akan memberikan kunci motor tersebut, beliau ingat terhadap pesan Kiai Fakhri di atas, maka disebutlah nama Imam Abu Hasan As-Syadzili.
Dan anehnya dari arah jalan yang sepi muncullah pemuda mengendarai motor, wajahnya bersinar, baunya harum, pemuda ini membubarkan belasan begal tersebut, dan mereka langsung lari ketakutan.
Untuk berterimakasih, kiai ini mengejar pemuda tersebut, namun jejaknya hilang hingga ia menemukan sebuah toko dan menanyakan keberadaan pemuda tadi, barangkali melintasinya, ternyata mereka menjawab tidak, bahkan tidak ada satupun motor yang melintasinya tadi
Lalu kiai itu sadar bahwa ini adalah barokah dari menyebut nama Imam Abu Hasan As-Syadzili, seperti yang selalu di dauhkan oleh Kiai Fakhri.
Di penghujung tausiyahnya, Ra. Hanani menyarankan agar bertawassul kepada para ulama dan auliya’, diantaranya, beliau menyebut Syaichona Moh Cholil sebagai Sulthonu Al-Karomah, KHS. Abdullah Schal Shulthonu Al-Wilayah dan RKH. Fakhrillah Aschal Shulthonu As-Sholawat adalah:
١. سلطان الأولياء، الشيخ عبد القادر الجيلاني، الإمام أبو الحسن الشاذلي، الإمام محمد بهاء الدين النقشبندي
٢. سلطان العلماء، الإمام محمد بن ادريس الشافعي، الإمام نعمان بن ثابت أبو حنيفة
٣. سلطان العارفين، الإمام ابو يزيد البسطامي، الامام جنيد البغدادي
٤. سلطان العابدين، الشيخ ابراهيم بن الأدهم، الشيخ بشر العافى
٥. سلطان حجة الاسلام، الإمام أو حامد محمد بن محمد الغزالي الطوسي، الإمام شهاب الدين ابن حجر العسقلاني
٦. سلطان الكرامة، شيخنا محمد خليل بن عبد اللطيف البنكلاني
٧. سلطان الولاية، الشيخ عبدالله سخل البنكلاني
٨. سلطان الصلاوة، الشيخ فخر اللّه عسخل البنكلاني
Beliau menyampaikan agar disebut satu persatu nama-nama di atas mulai dari pertama hingga terakhir.
Author: Adibahkey
Editor: Fakhrullah







