Mengapa Baginda Nabi Mi’raj?

oleh -2,257 views

Isra’ mi’raj merupakan salah satu pristiwa penting yang tercatat dalam sejarah Islam, karena pada saat itu baginda Nabi bisa bertemu langsung dan berbicara dengan Tuhannya. Ulama berbeda pendapat terkait peristiwa ini, ada yang mengatakan ruhnya saja dan ada yang mengatakan jasad serta ruhnya. Akan tetapi pendapat yang paling kuat adalah yang mengatakan bahwa baginda Nabi melakukan isra’ mi’raj dengan ruh dan jasadnya.

Syekh Utsman bin Hasan menceritakan dalam kitabnya, Dhurroh Al-Waidhin, yang dikutip oleh Syekh Nawawi Al-Bantani dalam kitab Nurudholam Syarh Mandhumati Aqidatil Awam, tentang hikmah di balik mi’rajnya baginda Nabi, yaitu suatu ketika bumi membanggakan dirinya dan merasa lebih baik daripada langit, lalu terjadilah perdebatan antara langit dan bumi.

Bumi: “Saya lebih baik daripada engkau,  karena Allah Swt. menghiasiku dengan berbagai daerah, lautan, sungai, pepohonan, gunung-gunung  dan masih banyak lagi”

Langit: “Tidak. Justru saya yang lebih baik, karena matahari, bulan, bintang-bintang, planet-planet, arsy, kursi Allah, dan surga ada di langit.”

Bumi: “Saya punya baitullah yang dikunjungi dan dikelilingi oleh para nabi, rasul, wali Allah dan semua orang mukmin”

Langit: “Saya punya baitul makmur yang dikelilingi oleh para malaikat, surga yang ditempati oleh ruh para nabi, rasul,  para waliyullah dan orang-orang sholeh.”

Bumi: “Oke. Tapi perlu kamu ingat, bahwa sesungguhnya tuannya para rasul, akhir para nabi, kekasih tuhan alam semesta, paling utamanya ciptaan, dan makhluk yang palinng dimuliakan yaitu baginda Nabi Muhammad saw bertempat tinggal di bumi. Dan syariatnya pun diberlakukan di bumi.”

Ketika langit mendengar jawaban ini, dia tidak mampu untuk menjawabnya, dia diam dengan seribu bahasa. Kemudian langit menghadap Allah swt  seraya berdoa: “Wahai Tuhanku, engkau pasti mengabulkan do’a orang yang sedang terdesak,  sedangkan saya sedang  tidak mampu untuk menjawab bumi, maka saya memohon kepadamu untuk menaikkan baginda Nabi Muhammad saw ke langit, maka niscaya saya akan menjadi mulia sebabnya, sebagaiman bumi mulia dan bangga sebab keindahannya.”

Kemudian Allah mengabulkan permohonannya. Lalu Allah mengutus Malaikat Jibril untuk pergi ke surga dan mengambil salah satu hewan tunggangan, yaitu burok yang akan dijadikan kendaraan baginda Nabi.  Ketika Malaikat Jibril sampai ke surga, dia melihat empat puluh ribu burok sedang bersenang-senang di dalamnya. Di dahinya terdapat nama baginda Nabi Muhammad. Akan tetapi ada salah satu burok memalingkan wajahnya sedang menangis, berlinangan air mata.

Lalu Malaikat jibril menghampirinya dan berkata: “Wahai burok, kenapa kamu menangis?”

“Wahai jibril, sungguguh saya mendengar nama Muhammad mulai dari empat puluh tahun yang lalu. Saya sangat jatuh cinta dan ingin bertemu dengan pemilik nama tersebut. Samapai-sampai saya tidak bisa makan dan minum. Saya terbakar oleh api kerinduan.”  jawab burok

Malaikat jibril: Oke,  kalau begitu saya akan mempertemukanmu dengan orang yang sangat kamu cintai dan kamu rindukan itu.

Kemudian Malaikat jibril bersiap-siap dengan memasangkan pelana pada burok tersebut dan bergegas menuju baginda nabi.

 

Referensi: Nurudholam Syarh Mandhumati Aqidatil Awam, Hal 258-261.

Penulis: Muhlis J

Editor: Fakhrullah

 

banner 700x350

No More Posts Available.

No more pages to load.