Solusi Ketika Tertinggal Takbir Sholat Hari Raya 

oleh -206 views

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa dalam sholat hari raya, baik Idul Fitri ataupun Idul Adha disunnahkan agar melakukan takbir di rakaat pertama sebanyak tujuh kali dan di rakaat kedua sebanyak lima kali.

Dan juga disunnahkan dalam rakaat pertama setelah membaca surah al-Fatihah agar membaca surah Qaf, kemudian dalam Rakaat kedua setelah surah al-Fatihah agar membaca surah al-Qamar. Hal itu bisa kita temukan redaksinya dengan jelas dalam kitab-kitab dasar ilmu Fiqh, diantaranya yang ditulis oleh Syeikh Ibnu Qasim dalam kitab Fathul Qaribnya ;

وهي أي صلاة العيد (ركعتان) يحرم بهما بنية عيد الفطر أو الأضحى، ويأتي بدعاء الافتتاح؛ و (يكبر في) الركعة (الأولى سبعا سوى تكبيرة الإحرام)، ثم يتعوذ ويقرأ بعدها سورة «ق» جهرًا، (و) يكبر (في) الركعة (الثانية خمسا سوى تكبيرة القيام) ثم يتعوذ، ثم يقرأ الفاتحةوسورة «اقتَرَبَت» جهرا

Artinya: Sholat Ied terdiri dari dua rakaat, hendaknya melakukan takbiratul ihram dengan niat sholat Idul Fitri atau Idul Adha, kemudian membaca doa iftitah, setelah itu hendaknya melakukan takbir dalam rakaat pertama sebanyak tujuh kali selain takbiratul ihram, kemudian hendaknya membaca ta’awwud dan surah al-Fatihah, setelah  itu dilanjutkan membaca surah Qaf dengan keras. Di rakaat kedua Hendaknya melakukan takbir sebanyak lima kali selain takbiratul ihram, kemudian membaca ta’awwud dan surah al-Fatihah, baru setelah itu membaca iqtarabat (Surah al-Qamar) dengan keras.

Problematika timbul ketika sebagian orang ragu-ragu atau lupa terhadap hitungan takbirnya sehingga membuatnya bingung dengan apa yang harus dilakukan ketika terjadi demikian. Dalam hal ini, Syekh Sulaiman bin Muhammad bin Umar al-Bujairimi dalam kitab al-Bujairiminya mengatakan

وَلَوْ شَكَّ فِي عَدَدِ التَّكْبِيرَاتِ أَخَذَ بِالْأَقَلِّ كَمَا فِي عَدَدِ الرَّكَعَاتِ، وَهَذِهِ التَّكْبِيرَاتُ مِنْ الْهَيْئَاتِ كَالتَّعَوُّذِ وَدُعَاءِ الِافْتِتَاحِ فَلَيْسَتْ فَرْضًا وَلَا بَعْضًا فَلَا يَسْجُدُ لِتَرْكِهِنَّ وَإِنْ كَانَ التَّرْكُ لِكُلِّهِنَّ أَوْ بَعْضِهِنَّ مَكْرُوهًا، وَيُكَبِّرَ فِي قَضَاءِ صَلَاةِ الْعِيدِ مُطْلَقًا لِأَنَّهُ مِنْ هَيْئَاتِهَا كَمَا مَرَّ

Artinya : Apabila seseorang ragu-ragu terhadap hitungan takbirnya (takbir hari raya) maka hendaknya mengambil yang lebih sedikit sebagaimana dalam hitungan rakaat sholat. Takbir sholat hari raya ini termasuk bagian dari sunnah hai’at seperti ta’awwud dan do’a iftitah, itu semua bukan termasuk fardhu dan juga bukan termasuk sunnah ab’ad sehingga tidak perlu untuk melakukan sujud sahwi ketika meninggalkannya, namun apabila meninggalkan semuanya atau sebagiannya maka makruh, dan hendaknya melakukan takbir (takbir hari raya) ketika mengqodo’ shoat Ied secara mutlak karena takbir tersebut merupakan sunnah hai’at dalam sholat Ied sebagaimana telah lewat.

Kemudian Syeikh Zakaria al-Anshori memberikan solusi bagi orang yang lupa terhadap takbir sholat hari raya, hal itu beliau sampaikan dalam kitab Asna al-Matolibnya sebagai berikut ;

فَرْعٌ إذَا نَسِيَ الْمُصَلِّي يَعْنِي تَرَكَ (التَّكْبِيرَ) الْمَذْكُورَ وَلَوْ عَمْدًا أَوْ جَهْلًا مَحَلُّهُ (فَقَرَأَ) الْفَاتِحَةَ أَوْ شَيْئًا مِنْهَا (أَوْ قَرَأَ الْإِمَامُ) ذَلِكَ (قَبْلَ أَنْ يُتِمَّ) هُوَ أَوْ الْمَأْمُومُ التَّكْبِيرَ (لَمْ يَعُدْ إلَيْهِ) التَّارِكُ فِي الْأُولَى (وَلَمْ يُتِمَّ) هـ الْإِمَامُ أَوْ الْمَأْمُومُ فِي الثَّانِيَةِ لِلتَّلَبُّسِ بِفَرْضٍ وَلِفَوَاتِ مَحَلِّهِ

Artinya : ketika seseorang meninggalkan takbirnya (takbir sunnah dalam sholat Ied) baik karena lupa ataupun disengaja kemudian orang tersebut membaca surah al-Fatihah/ beberapa ayat dari surah al-Fatihah, atau imamnya telah membaca Fatihah sebelum ia ataupun makmumnya menyempurnakan takbirnya maka tidak perlu untuk mengulang takbirnya kembali dalam rakaat pertama dan tidak perlu untuk menyempurnakan takbirnya dalam rakaat kedua karena sudah melakukan fardhu yang lain dan karena sudah lewat dari waktunya.

Hal serupa senada dengan redaksi yang disampaikan oleh Syeikh Sulaiman dalam kitab Hasyiah al-Bujairiminya sebagai berikut ;

وَلَوْ نَسِيَ التَّكْبِيرَاتِ وَشَرَعَ فِي الْقِرَاءَةِ وَلَوْ لَمْ يُتِمَّ الْفَاتِحَةَ لَمْ يَتَدَارَكْهَا، وَلَوْ تَذَكَّرَهَا بَعْدَ التَّعَوُّذِ وَلَمْ يَقْرَأْ كَبَّرَ بِخِلَافِ مَا لَوْ تَعَوَّذَ قَبْلَ الِافْتِتَاحِ لَا يَأْتِي بِهِ لِأَنَّهُ بَعْدَ التَّعَوُّذِ لَا يَكُونُ مُسْتَفْتِحًا

Artinya : Apabila seseorang lupa terhadap beberapa takbir sholat hari raya dan telah membaca fatihah walaupun belum selesai dari fatihahnya maka tidak perlu melakukan takbir, namun apabila ingat terhadap takbir tersebut setelah membaca ta’awwud dan belum membaca Fatihah maka hendaknya melakukan takbir, beda halnya apabila telah membaca ta’awwud sebelum membaca doa iftitah maka tidak perlu membaca iftitah, karena setelah ta’awwud tidak ada pembukaan lagi (iftitah)

Sederhananya, apabila seorang makmum ketinggalan takbir imam dalam sholat hari raya (Takbir yang tujuh atau yang lima) maka tidak perlu menambahnya, namun langsung mengikuti gerakan imam sesuai sampai mana ia menututinya

Referensi:

  • Syeikh Sulaiman bin Muhammad bin Umar | Hasyiah al-Bujairimi ala al-Khotib
  • Syekh Zakaria al-Anshori | Asna al-Matolib
  • Syekh Ibnu Qasim al-Ghazi | Fathu al-Qarib al-Mujib

 

Author : Fakhrullah

Ilustrator : Fakhrul

banner 700x350

No More Posts Available.

No more pages to load.