Perbedaan Takbir Mursal & Takbir Muqoyyad Pada Hari Raya

oleh -864 views

Hari Raya dalam Islam hanya ada dua, yaitu Hari Raya Idul Fitri tanggal 1 Syawwal dan Hari Raya Idul Adha tanggal 10 Dzulhijjah. Umat Islam pada hari itu dianjurkan agar Idharul Farah atau menampakkan kebahagiaan kepada sesama

Selain itu, umat Islam juga dianjurkan untuk melakukan hal-hal yang disunnahkan oleh Rasulullah SAW, mulai dari mandi sunnah, sholat ied, memakai pakaian yang bagus dan lain-lain. Tak kalah pentingnya juga disunnahkan untuk melantunkan kalimat-kalimat takbir atau yang kita kenal dengan istilah “Takbiran”.

Adapun lafadz takbir yang masyhur sebagaimana ditulis oleh Syeikh Khotib as-Syarbini dalam kitab al-Iqna’nya sebagai berikut ;

الله أكبر الله أكبر الله أكبر لَا إِلَه إِلَّا الله وَالله أكبر الله أكبر وَللَّه الْحَمد

Dalam kitab al-Um dijelaskan bahwa alangkah baiknya setelah membaca takbir diatas sebanyak tiga kali agar menambah kalimat berikut ;

الله أكبر كَبِيرا وَالْحَمْد لله كثيرا وَسُبْحَان الله بكرَة وَأَصِيلا لَا إِلَه إِلَّا الله وَلَا نعْبد إِلَّا إِيَّاه مُخلصين لَهُ الدّين وَلَو كره الْكَافِرُونَ لَا إِلَه إِلَّا الله وَحده صدق وعده وَنصر عَبده وأعز جنده وَهزمَ الْأَحْزَاب وَحده لَا إِلَه إِلَّا الله وَالله أكبر

Dalam kajian takbir ini, ulama memaparkan dengan jelas tentang klasifikasi pembagian takbir ini dengan membaginya menjadi dua bagian, yang pertama adalah takbir Mursal dan yang kedua adalah takbir Muqoyyad.

Yang pertama adalah takbir Mursal, takbir Mursal ini dilantunkan baik pada Hari Raya Idul Fitri ataupun Idul Adha, dan takbir ini merupakan takbir yang tidak dilantunkan setelah selesai sholat pada hari raya, artinya tidak diqoyyiti atau tidak dibatasi oleh apapun, serta dilantunkan di Masjid-Masjid, di Pasar atau bahkan di Jalan Umum.

Adapun waktu pelaksanaan takbir ini dimulai dari terbenamnya matahari hari pada malam hari raya sampai imam sholat ied melakukan takbiratul ihram atau sampai imam keluar menuju sholat, atau juga sampai imam selesai dari shalatnya, baik itu dalam Hari Raya Idul Fitri ataupun Idul Adha. Sebagaimana dipaparkan oleh Imam Nawawi dalam kitab Raudlatu at-Thalibinnya

فَالْمُرْسَلُ لَا يُقَيَّدُ بِحَالٍ، بَلْ يُؤْتَى بِهِ فِي الْمَسَاجِدِ وَالْمَنَازِلِ وَالطُّرُقِ لَيْلًا وَنَهَارًا. فَالْمُرْسَلُ مَشْرُوعٌ فِي الْعِيدَيْنِ جَمِيعًا، وَأَوَّلُ وَقْتِهِ فِي الْعِيدَيْنِ بِغُرُوبِ الشَّمْسِ لَيْلَةَ الْعِيدِ، وَفِي آخِرِ وَقْتِهِ طَرِيقَانِ. أَصَحُّهُمَا: عَلَى ثَلَاثَةِ أَقْوَالٍ. أَظْهَرُهَا: يُكَبِّرُونَ إِلَى أَنْ يُحْرِمَ الْإِمَامُ بِصَلَاةِ الْعِيدِ. وَالثَّانِي: إِلَى أَنْ يَخْرُجَ الْإِمَامُ إِلَى الصَّلَاةِ. وَالثَّالِثُ: إِلَى أَنْ يَفْرُغَ مِنْهَا

Artinya : Takbir Mursal adalah takbir yang tidak dibatasi dengan suatu keadaan apapun, takbir ini dikumandangkan di Masjid-Masjid, di Pasar-Pasar atau juga di Jalan-Jalan Umum. Takbir Mursal ini juga di syariatkan dalam Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha. Adapun waktu pelaksanaannya dimulai dari terbenamnya matahari dimalam hari raya, sedangkan batas akhirnya ada tiga pendapat, yang pertama sampai imam sholat ied melakukan takbiratul ihram, yang kedua sampai imam keluar menuju sholat, dan yang ketiga sampai imam selesai dari shalatnya. 

Yang kedua adalah takbir Muqoyyad, takbir yang dibatasi. Artinya takbir ini dibatasi waktu pelaksanaannya dengan sholat, yaitu dengan dilantunkan setiap selesai sholat, baik itu sholat fardhu ataupun sholat sunnah, atau bahkan setelah sholat jenazah.

وَالْمُقَيَّدُ يُؤْتَى بِهِ فِي أَدْبَارِ الصَّلَاةِ خَاصَّةً.وَيُكَبِّرُ عَقِبَ النَّوَافِلِ الرَّاتِبَةِ، وَمِنْهَا صَلَاةُ الْعِيدِ، وَعَقِبَ النَّافِلَةِ الْمُطْلَقَةِ، وَعَقِبَ الْجِنَازَةِ عَلَى الْمَذْهَبِ فِي الْجَمِيعِ وَأَمَّا الْمُقَيَّدُ، فَيُشْرَعُ فِي الْأَضْحَى، وَلَا يُشْرَعُ فِي الْفِطْرِ عَلَى الْأَصَحِّ عِنْدَ الْأَكْثَرِينَ وَيُسْتَثْنَى مِنْهُ الْحَاجُّ، فَلَا يُكَبِّرُ لَيْلَةَ الْأَضْحَى، بَلْ ذِكْرُهُ التَّلْبِيَةُ

Artinya : Takbir Muqoyyad khusus dilakukan setelah selesai sholat. Hendaknya melantunkan takbir tersebut setelah sholat sunnah rawatib, sholat ied, sholat sunnah mutlak dan setelah sholat jenazah di masjid umum menurut madzhab Imam Syafi’i. Menurut qaul ashoh, takbir muqoyyad hanya disyariatkan dalam Hari Raya Idul Adha, tidak pada Hari Raya Idul Fitri. Dan dikecualikan dari itu adalah orang yang sedang melaksanakan ibadah haji, hendaknya orang yang sedang melaksanakan ibadah haji agar tidak membaca takbir di atas, akan tetapi membaca talbiah.

Adapun waktu pelaksanaannya bagi orang yang sedang melaksanakan ibadah haji dan orang yang tidak sedang melaksanakan haji itu beberda, sebagaimana diuraikan oleh Imam Nawawi ;

وَأَمَّا الْأَضْحَى، فَالنَّاسُ فِيهِ قِسْمَانِ. حُجَّاجٌ، وَغَيْرُهُمْ. فَالْحُجَّاجُ يَبْتَدِئُونَ التَّكْبِيرَ عَقِبَ ظُهْرِ يَوْمِ النَّحْرِ، وَيَخْتِمُونَهُ عَقِبَ الصُّبْحِ آخِرَ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ. وَأَمَّا غَيْرُ الْحُجَّاجِ، فَفِيهِمْ طَرِيقَانِ. أَصَحُّهُمَا: عَلَى ثَلَاثَةِ أَقْوَالٍ. أَظْهَرُهَا: أَنَّهُمْ كَالْحُجَّاجِ. وَالثَّانِي: يَبْتَدِئُونَ عَقِبَ الْمَغْرِبِ لَيْلَةَ النَّحْرِ إِلَى صُبْحِ الثَّالِثِ مِنْ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ. وَالثَّالِثُ: عَقِبَ الصُّبْحِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ وَيَخْتِمُونَهُ عَقِبَ الْعَصْرِ آخِرَ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ

Artinya : Dalam Hari Raya Idul Adha, terdapat dua golongan orang, yang pertama orang yang sedang melaksanakan ibadah haji, yang kedua adalah orang yang sedang tidak melaksanakannya. Adapun orang yang sedang melaksanakan ibadah haji waktu takbirnya dimulai dari setelah sholat dhuhur pada hari raya sampai setelah subuh di hari terakhir dari hari tasyrik, sedangkan bagi orang yang tidak sedang melaksanakan ibadah haji, waktu takbirnya ada tiga pendapat, yang pertama sebagaimana waktunya orang yang berhaji, yang kedua dimulai setelah sholat magrib di malam hari raya sampai setelah subuh hari ketiga dari hari tasyrik, yang ketiga dimulai dari subuhnya Hari Arafah sampai setelah asar di akhir hari tasyrik.

Syekh Khotib as-Syarbini menambahkan dalam kitab al-Iqna’nya bahwa takbir ini tidak dianjurkan setelah sholat dalam Hari Raya Idul Fitri karena tidak ada sumbernya

وَخرج بِمَا ذكر الصَّلَوَات فِي عيد الْفطر فَلَا يسن التَّكْبِير عَقبهَا لعدم وُرُوده

Artinya: Dikecualikan dari apa yang telah dijelaskan tadi (kesunnahan membaca takbir setelah sholat) yaitu sholat-sholat pada Hari Raya Idul Fitri, maka tidak disunnahkan melantunkan takbir setelah sholat dalam Hari Raya Idul Fitri ini karena tidak ada sumbernya.

Terakhir, Syeikh Nawawi bin Umar al-Jawi menyampaikan bahwa juga disunnahkan agar membaca sholawat kepada Rasulullah SAW setelah membaca kalimat takbir di atas, sholawat tersebut telah kami kutip dari kitab Qutul habib al-Goribnya yaitu

 اللهم صل على سيدنا محمد وعلى آل سيدنا محمد وعلى أصحاب سيدنا محمد وعلى أنصار سيدنا محمد وعلى أزواج سيدنا محمد وعلى ذرية سيدنا محمد وسلم تسليما كثيرا

Semoga bermanfaat dan selamat hari raya Idul Adha, 10 Dzulhijjah 1445 H.

 

Referensi :

  • Raudlatu at-Thalibin | Imam Nawawi
  • Hasyiah al-Bajuri | Syeikh Ibrahim al-Bajuri
  • Al-IQna’ | Syeikh Khotib as-Syarbini
  • Qutul habib al-Gorib | Syeikh Nawawi bin Umar al-Jawi.

 

Author : Fakhrullah

Ilustrator : Fakhrul

banner 700x350

No More Posts Available.

No more pages to load.