Pertemuan Syeikh Nawawi Banten, Syaikhona Kholil Dan Syeikh Sholeh Darat

oleh -2,450 views

“Peran Pesantren tidak bisa dielakkan dari sejarah karena tidak hanya menjaga nilai agama tapi juga nilai bangsa,” Ungkap KH. Makki Nasir selaku Ketua PCNU Kabupaten Bangkalan ketika menyampaikan peran Syaichona Moh Cholil saat berdirinya NU yang diunggah dalam akun Youtube NU Online.

Beliau menyampaikan bahwa dalam upaya kemerdekaan Indonesia banyak sekali peran ulama yang terlibat di dalamnya, baik secara ideologi ataupun secara fisik, diantara ulama yang ikut serta memperjuangkan kemerdekaan adalah Pangeran Diponegoro yang saat itu mulai masuk era modern.

“Kami Berusaha mengkaji hal ini dari era Pangeran Diponegoro, era Pangeran Diponegoro ini sudah masuk era modern mulai ada perubahan dari sistem monarki ke sistem bangsa-bangsa. Bagaimana ketika peristiwa Pangeran Diponegoro ini menjadi pemicu bagi politik Belanda memisahkan antara keraton dengan pesantren, karena kita tau bahwa Pengeran Diponegoro ini keluarga keraton, santri, ahli thoriqoh dan pahlawan Indonesia.” Tutur Kiai Makki, Panggilan akrabnya.

Kemudian beliau menceritakan kisah pertemuan tiga tokoh ulama besar yang membahas tentang rencana kemerdekaan Indonesia serta perihal keadaan umat islam di Indonesia.

“Ada sebuah peristiwa yang sangat fenomenal, saya kutip dari almarhum KH. Batam, beliau selalu menceritakan bahwa pada tahun 1895 M itu terjadi pertemuan besar antara Syeikh Nawawi Banten, Syaichona Moh Cholil Bangkalan dan KH. Sholeh darat serta kiai-kiai lokal, mereka bertemu di Alas Roban,”

Rupanya dari pertemuan tiga tokoh ulama tersebut saling membagi tugas, yang mana Syeikh Nawawi Banten masyhur akan keilmuannya sehingga mengajar di Makkah al-Mukarromah serta menulis banyak kitab disana, sedangkan Syaikhona Moh Kholil masyhur akan ilmu batinnya atau kewaliannya sehingga banyak mengkader dan mendidik para santri dari berbagai penjuru Indonesia, dan Kiai Sholeh Darat lebih cendrung terjun berdakwah di lingkungan bangsawan.

“Tentu beliau-beliau ini musyawarah agar terhindar dari belanda, berbicara tentang keumatan negara dan semacamnya, dan saya yakin juga yang dibicarakan adalah politik timur tengah. Maka setelah itu Syekh Nawawi kembali ke Makkah yang dua tahun kemudian beliau wafat, tepatnya pada tahun 1897 M, Syaikhona Moh Kholil pulang ke Bangkalan mengkader para santri sedangkan Syekh Sholeh Darat mengkader para bangsawan,” Ungkap Kiai Makki.

Baca juga :

Adapun Syeikh Sholeh Darat menikah dengan R.A Kartini yang merupakan keturunan Bangsawan, sehingga dengan begitu mereka berdua saling bahu membahu memperjuangkan kemerdekaan dengan mendidik putra putri bangsa.

“Sejarah mencatat R.A Kartini tidak hanya mumpuni dalam ilmu politik namun juga mumpuni dalam ilmu Al-Qur’an sehingga dengan diperkenalkannya ajaran Islam yang dijaga oleh ulama pesantren R.A Kartini membuat buku yang berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang, makanya tidak heran R.A Kartini meminta Syeikh Sholeh darat untuk menerjemahkannya ke dalam bahasa daerah agar mudah dipahami sehingga terbangun pemikirannya,”

Kembali kepada Syaikhona Moh Kholil, beliau Kembali ke Madura tanah kelahirannya untuk mengkader para santri dalam berkiprah dalam agama dan bangsa.

“Sedangkan Syaikhona Moh Kholil ini mengkader para santri bagaimana agar supaya terasah kemampuan santri, bahkan ada salah satu tulisan Syaikhona Kholil dalam kitab beliau tulisan pinggiran yang ditulis pada tahun 1891 M. Ini sebelum pertemuan Alas Roban, yaitu tulisan hubbul awton minal iman, Ini sebuah bukti bahwa ajaran mencintai tanah air ini sudah diajarkan di pesantren,” Tutur Kiai Makki.

Namun rupanya terjadi pro kontra akan adanya hadis tersebut sehingga menurut KH. Makki Nasir ada salah satu hadis Nabi yang bisa dijadikan dalil cinta tanah air sebagaimana yang telah dikaji oleh tim Aswaja NU Center. Adapun dalil tersebut bertendensi pada kisah Rasulullah SAW yang Ketika masuk Madinah, Sayyidina Abu Bakar dan Bilal terkena penyakit sehingga Rasulullah SAW berdoa sebagai berikut :

اللهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْمَدِينَةَ كَمَا حَبَّبْتَ مَكَّةَ أَوْ أَشَدَّ، وَصَحِّحْهَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي صَاعِهَا وَمُدِّهَا، وَحَوِّلْ حُمَّاهَا إِلَى الْجُحْفَةِ

Artinya : Ya Allah, berikanlah kecintaan kepada kami terhadap kota Madinah sebagaimana Engkau memberikan kepada kami kecintaan terhadap Makkah, atau bahkan lebih dari Makkah. Jadikanlah Madinah sebagai kota yang sehat, dan berikanlah keberkahan pada takaran sha’ dan takaran mudd kami, serta pindahkan penyakitnya ke Juhfah.

“Rasulullah dalam segala tindakannya selalu didasari keimanan, jadi cinta Rasulullah kepada Madinah dilandasi dengan iman. Dari situ ada tulisan hubbul auton minal iman, dan hal ini di populerkan dan digaungkan oleh KH. Hasyim Asy’ari menjadi hubbul waton minal iman,” Tegas KH. Makki Nasir.

Beliau memaparkan bahwa dalam proses berdirinya Nahdlatul Ulama memiliki banyak tantangan dan penuh dengan hambatan, karena selain ajaran ahlus sunnah yang semakin punah juga terjadi banyak bentrok dan kontra dengan Belanda.

“Lantas dari bagi tugas dari dua ulama ini Syaikhona Kholil dan KH. Sholeh Darat masuk pada masa kebangkitan nasional. Pada tahun 1900-San muncul berbagai pergerakan yang berupa organisasi tapi masih berupa sektoral, karena itu, maka mudah dipecah oleh Belanda dengan politik etisnya,”

“Sehingga tidak heran pada tahun 1918 M, juga 1912-1914-1916 M bagaimana para santri di Surabaya yang notabennya adalah alumni Syaikhona Kholil tidak mau ketinggalan dalam era kebangkitan nasional, maka dibikinlah Nahdlatul Wathan, Taswirul Afkar, Nahdlatu Tujjar, dan hal ini mudah dipatahkan oleh politik etisnya Belanda, bagaimana politik etisnya Belanda ini mampu memecah organisasi terbesar seperti SI menjadi SI merah yang menjadi embrionya PKI,” Jelas Kiai Makki.

Kiai Makki melanjutkan, bahwa pada tahun 1920 M para ulama berkumpul di Bangkalan karena resah dengan keadaan, khususnya terkait dengan ajaran Islam ahlus Sunnah waljamaah, akhirnya para ulama minta arahan kepada Syaikhona Kholil, maka oleh Syaikhona Kholil diberi ayat :

يُرِيْدُوْنَ لِيُطْفِـُٔوْا نُوْرَ اللّٰهِ بِاَفْوَاهِهِمْۗ وَاللّٰهُ مُتِمُّ نُوْرِه وَلَوْ كَرِهَ الْكٰفِرُوْنَ

Artinya : Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut mereka, sedangkan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya walaupun orang-orang kafir tidak menyukai.

Kiai Makki Nasir menjelaskan bahwa ayat ini merupakan sebuah konsep dasar dalam melakukan pergerakan untuk menjaga peradaban islam yang ahlus sunnah wal jamaah.

“Adanya ayat ini para ulama puas mendengarnya, ini menerangkan bahwa ayat tersebut merupakan sebuah pergerakan yang sudah terstruktur, masif dan direncanakan, yang diharapkan adalah padamnya cahaya Allah bukan menghilangkan agama Allah, karena orang beragama tanpa cahaya Allah akan menjadi perusak, tidak muncul kedamaian tidak muncul ketentraman,”

“Makanya seolah-olah Syaikhona Kholil mengatakan : Ingat yang disasar itu adalah padamnya nur Allah, bagaimana orang beragama semangat beragamanya tinggi namun tidak punya rasa empati pada manusia, artinya hablum minallah saja tidak ada hablum minan nas,” Ungkap KH. Makki Nasir.

Beliau juga menyampaikan bahwa setelah Syaikhona Kholil menyampaikan ayat tersebut lantas para ulama ini rapat membuat Jam’iyatul Ulama, kemudian terjadilah perdebatan ada yang mengusulkan untuk meneruskan SI, ada yang mengusulkan untuk tidak meneruskan SI karena telah dianggap rusak, sehingga terjadi diskusi antara KH. Hasyim Asy’ari dengan syeikh Khotib.

Akhirnya semangat tinggi untuk membuat langkah organisasi tetap tidak menemukan titik temu, bahkan ada peristiwa Komite Hijaz bahwa ulama pesantren tidak diakui karena tidak memiliki organisasi. Maka pada tahun 1924 M Syaikhona Kholil mengutus KH. As’ad Syamsul Arifin untuk menyampaikan isyaroh tentang konsep pergerakan berbentuk isyaroh tongkat dan ayat :

قَالَ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَىٰ غَنَمِي وَلِيَ فِيهَا مَآرِبُ أُخْرَىٰ

Artinya : Berkata Musa “Ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya”.

Menurut KH. Makki Nasir, dari isyaroh ini menjadi jawaban KH. Hasyim Asy’ari untuk membuat organisasi karena disitu merupakan konsep yang lengkap, namun yang mengganjal dari KH. Hasyim Asy’ari ini adalah tentang bagaimana cara mengumpulkannya.

Kemudian Syaikhona Kholil diberi jawaban sebuah konsep berbentuk simbol tongkat, tongkat itu adalah sebuah simbol komando dalam pergerakan teroganisir, bagaimana Nabi Allah Musa memimpin 12 qabilah dalam sebuah tongkat yang artinya satukan bukan seragamkan, Syaikhona Kholil menyampaikan tongkat itu lengkap dengan petunjuk teknisnya.

Kemudian Kiai Makki menjabarkan setiap lafadz dari ayat yang disampaikan oleh Syaikhona Moh Kholil kepada KH. Hasyim Asy’ary sebagai berikut ;

Adapun potongan ayat :

قَالَ هِيَ عَصَايَ

Menurut beliau, untuk menyatukan harus ada sesuatu yang bisa dijadikan pegangan tegak berdiri yaitu persamaan universal. Maka ketika mengumpulkan ulama pesantren yang berbeda-beda, cara belajar yang berbeda, semua pasti dalam rangka mengajarkan Islam ahlus sunnah wal jamaah, maka Islam ahlus sunnah wal jamaah ini yang dijadikan asas pegangan bersama untuk tegak berdiri.

Selanjutnya potongan ayat :

وَأَهُشُّ بِهَا عَلَىٰ غَنَمِي وَلِيَ فِيهَا مَآرِبُ أُخْرَىٰ

Menurut beliau, organisasi tersebut selain untuk menjaga ajaran ahlus sunnah walj amaah juga untuk hal-hal yang lain seperti untuk mengembangkan pendidikan.

kemudian potongan ayat :

قَالَ أَلْقِهَا يَا مُوسَىٰ، فَأَلْقَاهَا فَإِذَا هِيَ حَيَّةٌ تَسْعَىٰ

Ketika nabi Musa diperintahkan oleh Allah SWT untuk melemparkan tongkat berubah menjadi ular, yang menciptakan ular Allah bukan nabi Musa untuk menghadapi penyihir Fir’aun yang ketika melempar tali menghipnotis agar kelihatan seperti ular.

lalu potongan ayat :

قَالَ خُذْهَا وَلَا تَخَفْ

Artinya controling organisasi harus kuat.

Dan yang terakhir potongan ayat :

سَنُعِيدُهَا سِيرَتَهَا الْأُولَىٰ

Artinya jika semua diatas telah dialksanakan maka semuanya akan menjadi normal seperti semula.

Menurut beliau, itu menjadi konsep yang dimandatkan kepada KH. Hasyim Asy’ari yang kemudian oleh KH. Hasyim Asy’ari dibentuk menjadi Qonun Asasi (aturan dasar) dan dari Qonun Asasi tersebut dijabarkan menjadi AD/ART yang mana AD/ART ini secara teknis pelaksanaanya akan ditinjau setiap muktamar dengan menyesuaikan dengan zaman dan dari AD/ART menjadi satuan kerja dan seterusnya.Allahu A’lam.

Author : Fakhrullah

banner 700x350

No More Posts Available.

No more pages to load.