Hukum Menulis Tentang Ilmu

oleh -451 views

Syaichona.net- Syaikh Ibnu Hajar al-Haitamiy dalam kitab Tuhfatu al-Muhtaj bi Syar’i al-Minhaj mengatakan:

واجبة؛ إذ لو كانت كتابة الصكوك لحفظ الأموال خوفاً من ضياعها واجبة فكتابة العلم لحفظه وخوفاً من ضياعه أولى

“Menulis ilmu hukumnya wajib. Alasannya, jika menulis catatan keuangan untuk menjaga harta agar tidak tersia-siakan (hilang), tentu menjaga ilmu agar tidak hilang lebih utama.

Berikut lengkapnya redaksi kitab Tuhfatu al-Muhtaj (1/33):

وكتابة العلم مستحبة وقيل واجبة، وهو وجيه في الأزمنة المتأخرة وإلا لضاع العلم، وإذا وجبت كتابة الوثائق لحفظ الحقوق فالعلم أولى” ويمكن أن يجمع بين القولين: الوجوب والاستحباب بأن يحمل الوجوب على الكفاية أي بالنظر إلى مجموع الأمة، والاستحباب بالنظر إلى الأعيان، وهو كذلك فإضاعة العلم لا تجوز بمعنى أنه يحرم على الأمة أن تهمل كتابة العلم أو طباعته جملة وتفصيلاً لأنه بيان للدين، وهذا الأمر لن يكون – بإذن الله – لأن الله تكفل بحفظ القرآن والذي هو أصل العلم، ولأن الأمة معصومة من الخطأ، إلا في آخر الزمان عند رفع القرآن فحينها يرتفع العلم معه

“Menulis ilmu hukumnya sunah dan menurut pendapat yang lain (Qiil) hukumnya wajib. Pendapat ini dianggap sesuai dengan keadaan zaman akhir. Kalau tidak, maka ilmu akan hilang dan jika penulis surat-surat tanda kepercayaan untuk menjaga hak-hak yang semestinya dihukumi wajib maka menulis tentang ilmu tentu lebih utama. Namun dua pendapat (wajib dan sunah) tersebut memungkinkan untuk dikompromikan dengan cara pendapat yang menyatakan wajib diarahkan wajib kifayah meninjau pada keseluruhan umat dan pendapat yang menyatakan sunah diarahkan pada perorangan. Begitulah, maka arti dari tidak boleh menyia-nyiakan ilmu adalah haram bagi segenap umat Islam mengkosongkan kegiatan menulis ilmu dan mencetaknya baik secara global atau secara masif karena kegiatan itu merupakan penyebaran agama Islam dan perkara ini—diluar apa yang telah ditetapkan Allah ﷻ karena Allah ﷻ telah menjamin keterjagaan al-Qur’an dan al-Qur’an adalah esensi ilmu. Lagi pula umat ini terjaga dari kesalahan—kecuali di akhir zaman ketika al-Qur’an telah diangkat, maka ketika itu ilmu juga terangkat (hilang) bersama terangkatnya al-Qur’an.

Selanjutnya Syaikh Ibnu Hajar mengatakan:

أما كتابة أو طباعة بعضه وترك آخر فلا حرج فيه وإن كان يستحب كتابة أو طباعة كل مفيد يتيسر، وكذلك بالنسبة للأفراد إذا ما سمع علماً يستحب له كتابته كي يسهل له مراجعته أو حفظه أو إعارته أو إفادة آخرين بأي وجه كان، ولا نقول بالوجوب لأنه محفوظ في حقيقة الأمر وموجود في بطون الكتب المنتشرة وفي صدور العلماء

Adapun kegiatan menulis dan mencetak karya ilmiyah yang dilakukan sebagian umat dan yang lain meninggalkan, maka hal ini tidak mengakibatkan dosa sekalipun menulis dan mencetak karya ilmiyah yang bermanfaat serta mudah difaham hukumnya sunah. Begitu disunahkan jika dinisbatkan pada perorangan karena disunahkan bagi seseorang menulis tentang ilmu dari apa yang didengar tujuannya agar mudah bagi mentelaah kembali, menghafal, meminjamkan catatannya pada orang lain dan manfaat-manfaat yang akan didapat dari menulis dengan berbagai cara. Alasan kami tidak menyatakan hukum wajib dalam menulis ilmu kerena dalam hakikatnya ilmu telah dijaga oleh Allah ﷻ, telah terdokumentasi dalam kitab-kitab ulama yang telah tersebar luas dan telah tersimpan kuat dalam hati para ulama.

Waallahu A’lamu

Penulis : Abdul Adzim 

Publisher : Fakhrul

Referensi:

✍️ Syaikh Burhanuddin al-Fazariy Ibnu Farkah| Bayanu Ghardhi al-Muhtaj ila Kitabi al-Minhaj fi Fikhi al-Imam asy-Syafi’iy| Daru al-Kutub al-Ilmiyah hal 80-81.

✍️ Syaikh Syihafuddin Abu al-Abbas Ahmad bin Muhammad bin Ali Ibnu Hajar al-Haitamiy| Tuhfatu al-Muhataj bi Syarhi al-Minhaj| Daru al-Kutub al-Ilmiyah juz 1 hal 17.

banner 700x350

No More Posts Available.

No more pages to load.