Menerima Upah dari Khataman al-Qur’an

oleh -758 views

Syaichona.net- Sudah menjadi tradisi dimasyarakat Madura khususnya, mengundang seseorang membaca al-Quran dirumahnya, untuk acara tujuh hari, empat puluh hari dan seterusnya bagi keluarganya yang sudah meninggal dunia.

Tradisi tersebut berbeda-beda disetiap daerahnya, tapi yang umum yaitu mengundang dua, tiga orang atau lebih supaya membaca al-Quran sampai khatam.

Seperti biasanya setelah al-Quran khatam dibacakan, tuan rumah memberikan upah berupa uang kepada yang membaca. Bukan hanya upah, bahkan juga menyuguhkan hidangan-hidangan.

Lalu pertanyaannya, bolehkah mengambil upah dari bacaan al-Quran? Dalam kelanjutan hadits Rasulullah meneruskan sabdanya kepada para sahabat:

إِنَّ أَحَقَّ مَا أَخَذْتُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا كِتَابُ اللهِ

“Sesungguhnya yang paling berhak untuk kalian ambil upahnya adalah (membaca) kitab Allah” (HR Bukhari).

Untuk itu, Imam Malik, Imam Syafi’i dan yang lainnya, memperbolehkan mengambil upah dari bacaan al-Quran atau mengajarkannya.

وأجاز مالك والشافعي أخذ الأجر على قراءة القرآن وتعليمه. وهو رواية عن أحمد. وقال به أبو قلابة وأبو ثور وابن المنذر، لأن رسول الله صلى الله عليه وسلم زوج رجلا بما معه من القرآن وجعل ذلك يقوم مقام المهر، فجاز أخذ الأجرة عليه في الإجارة

“Imam Malik dan Imam Syafi’i memperbolehkan mengambil upah atas bacaan Al-Qur’an dan mengajarkannya. Pendapat demikian juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal, Abu Qalabah, Abu Tsur, dan Ibnu Mundzir, sebab Rasulullah pernah menikahkan seseorang dengan bacaan al-Qur’an yang ia kuasai dan hal tersebut diposisikan sebagai mahar, maka diperbolehkan mengambil upah atas al-Qur’an dalam akad Ijarah.”

Kesimpulannya, boleh hukumnya mengambil atau menerima upah dari bacaan al-Quran atau mengajarkannya.

Oleh : Shofiyullah el_Adnany

Publisher : Fakhrul

Teferensi : Kementrian Wakaf dan Urusan Keagama’an Kuwait, al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah, juz 1, hal. 291

banner 700x350

No More Posts Available.

No more pages to load.