Syaichona Moh. Cholil dan Ilmu Nahwu

oleh -1,636 views

Syaichona.net- Dengan hadirnya kitab Syarhul Khalil ala Matnil Ajurumiyah ini mengindikasikan bahwa perhatian Syaichona Cholil kepada ilmu nahwu sangatlah tinggi, mengingat tanpa ilmu nahwu kalam Arab khususnya al-Quran dan hadits tidak bisa dipahami.

Berkata Syaikh Syarafuddin bin Yahya al-Imrithi :

وَالنَّحْوُ اَوْلَى اَوّلاً اَنْ يُعْلَمَا ۞ اِذِ اْلكَلاَمُ دُوْنَـهُ لَنْ يُــــفْهَمَا

“Dan nahwu itu lebih baik untuk dipelajari pertama kali, karena kalam tanpa nahwu itu tidak difahami.”

Kitab Syarhul Khalil yang dikarang oleh beliau ini adalah komentar terhadap kitab Matan Ajurumiyah karya Syaikh Abu Abdillah Muhammad bin Muhammad bin Daud as-Shanhaji yang membahas tentang ilmu gramatika bahasa Arab, atau yang dikenal dengan ilmu nahwu.

Kitab Syarh al-Khalil ‘ala Matn al-Ajurrumiyyah

Guru saya dulu mengatakan, kalau hanya sekedar ingin bisa membaca kitab gandul (tidak ada harakat dan ma’nanya), pahamilah kitab Matan Ajurumiyah dari awal hingga bab I’rab, Insyaa Allah sudah bisa membaca kitab gandul.

Sering kali kita temukan di masjid-masjid atau mushalla, ketika muaddzin selesai mengumandangkan adzan lalu membaca bacaan tertentu untuk menunggu rampungnya jamaah, mereka membacanya dengan susunan atau harakat yang salah.

Semisal bacaan berikut :

أستغفر الله رب البرايا أستغفر الله من الخطايا رب زدنى علما نافعا ووفقنى عملا مقبولا

يا ألله يا محمد يَا أَبا بَكْرِنِ الصِّدّّيْق يا عمر عثمان وعلي سيتى فاطيمة بيت الرسول

Sering kali dibaca dengan redaksi yang keliru, baik susunannya atau harakatnya. Mereka membaca :

يَا أَبُو بَكَرْ يَا صِدِّيْق

Selain bacaan di atas, di dalam Tahlilan juga terdapat bacaan doa yang sering dibaca salah oleh yang memimpin bacaan Tahlil. Contohnya :

اَللّٰهُم اصرِفْ عَنّا السُّوءَ بما شِئْتَ وكيف شئت إِنَّك عَلٰى مَا تَشَاءُ قَدِيْر

Mereka salah dengan membaca “Matasyaau Qadir,” dengan dibaca tanwin hamzahnya menjadi :

عَلٰى ما تَشَاءٌ قَدِيْر

Semua itu jelas menandakan bahwa muaddzin dan yang memimpin bacaan Tahlil dengan salah, karena meraka tidak paham ilmu nahwu.

Betapa pentingnya belajar ilmu nahwu sejak dini bagi para pelajar, untuk memahami ilmu agama yang rata-rata ditulis dengan bahasa Arab. Saking dari pentingnya, hingga ada sekolah atau program pesantren yang mengkhususkan belajar ilmu nahwu dengan tenggang waktu yang ditentukan. Bahkan hingga lahir metode-metode baru semisal Amtsilati dan al-Miftah lil Ulum.

Nahwu adalah bapaknya ilmu, dan shorrof adalah ibunya. Berkata Syaikh Abul Fadlail Hisamuddin dalam Marahil Arwah fis Shorfi :

اعلم أن الصرف أم العلوم والنحو أبوها

“Ketahuilah, Bahwa ilmu shorrof adalah ibu dari semua ilmu, sedangkan nahwu adalah ayahnya.”

Jadi, jika anda ingin melamar ilmu, kenali dulu bapak ibunya. Seperti halnya jika anda ingin meluluhkan seorang perawan, kuasai dulu bapak ibunya.

Dalam sejarahnya, Syaichona Moh. Cholil lebih sering terdengar hubungan keilmuannya dengan ilmu nahwu, dibanding ilmu-ilmu yang lain.

Waktu di pesantren, beliau mendapatkan ilmu Ladunni yang diajarkan oleh gurunya dalam mimpi adalah tentang ilmu nahwu. Ketika memberi doa penangkal maling, beliau mengambil dari bacaan yang sering menjadi contoh dalam ilmu nahwu, yakni lafadl Qaama Zaidun. Bahkan ketika terkahir mondok di Makkah, beliau menulis kitab Alfiyah Ibnu Malik selama 4 tahun lamanya. Setiap 2 hari dapat 1 kitab. Sehingga beliau tidak dapat melihat mata hari selama itu, karena dari sibuknya menulis kitab yang berisikan ilmu nahwu itu.

Jadi dalam bidang ilmu nahwu beliau sangat mendalam, sehingga ilmu yang lain pun juga ikut dikuasai. Kata ulama :

فمن تبحر بعلم فقد تبحر بعلوم

“Barang siapa menguasai satu bidang ilmu (nahwu), maka ia akan menguasai banyak ilmu yang lainnya.”

Oleh : Shofiyullah el_Adnany

Publisher : Fakhrul

banner 700x350

No More Posts Available.

No more pages to load.