Darusan Al-Qur’an adalah Teladan dari Rasulullah ﷺ

oleh -845 views

Syaichona.net- Di antara kebiasaan Rasulullah ﷺ yang patut kita teladani di setiap bulan Ramadhan adalah banyak membaca dan tadarrus al-Qur’an. Tadarrus sendiri secara bahasa berasal dari asal kata “darasa yadrusu”, yang artinya mempelajari, meneliti, menelaah, mengkaji, dan mengambil pelajaran. Sementara istilah Tadarus di Indonesia, bisa diartikan kegiatan membaca ayat suci al-Qur’an secara bersama-sama serentak atau dibaca secara bergantian dan biasanya tadarus dilakukan selepas ibadah salat tarawih di masjid, mushollah dan dirumah selama bulan suci Ramadan.

Dalam kitab Lathaifu al-Ma’rif fima Limawasimi al-Aam min al-WadhaifAl-Hafidz, Abu al-Faraj Abdurrahman bin Ahmad bin Rajab al-Hanbaliy ad-Damsyiqiy (w. 794 h) mengatakan:

استحباب دراسة القرآن في رمضان والاجتماع على ذلك، وعرض القرآن على من هو أحفظ له، واستحباب الإكثار من تلاوة القرآن في شهر رمضان وفي حديث فاطمة رضي الله عنها عن أبيها ﷺ (أنه أخبرها أن جبريل عليه السلام كان يعارضه القرآن كل عام مرة، وأنه عارضه في عام وفاته مرتين)

Disunahkan tadarus al-Qur’an dan berkumpul karenanya, menampakkan bacaan al-Qur’an kepada orang dianggap lebih ahli dalam bidang al-Qur’an serta banyak membacanya di bulan Ramadhan. Dalam sebuah hadits riwayat Sayyidah Fatimah ra dari Ayahnya ﷺ disebutkan, Rasulullah ﷺ pernah mengkabarkan kepadanya. Bahwa malaikat Jibril as mengulang kembali bacaan al-Qur’an kepada Nabi ﷺ sekali setiap tahun dan dua kali selama setahun di tahun wafatnya Rasulullah ﷺ.

في حديث ابن عباس أن المدارسة بينهﷺ وبين جبريل كان ليلا يدل على استحباب الإكثار من التلاوة في رمضان ليلا، فإن الليل تنقطع فيه الشواغل، وتجتمع فيه الهمم، ويتواطأ فيه القلب واللسان على التدبر كما قال تعالى: {اِنَّ نَاشِئَةَ الَّيْلِ هِيَ اَشَدُّ وَطْـًٔا وَّاَقْوَمُ قِيْلًا ۗ } ﴿المزمل : ۶﴾ وشهر رمضان له خصوصية بالقرآن كما قال تعالى: {شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ} ﴿البقرة : ۱۸۵

Dalam hadits Ibnu Abbas ra menyebutkan, bahwa Tadarus yang dilakukan antara Rasulullah ﷺ dan malaikat Jibril as di malam hari, dan ini sebagai dalil akan kesunahan memperbanyak membaca al-Qur’an di malam hari saat bulan Ramadhan. Karena waktu malam adalah waktu terlepas dari segala kesibukan, terkumpulanya tekat dan menyatunya lisan dan hati untuk mempelajari isi kandungan al-Qur’an. Sebagaimana firman Allah ﷻ. Yang artinya: “Sungguh, bangun malam itu lebih kuat (mengisi jiwa); dan (bacaan pada waktu itu) lebih berkesan.” (QS. Al-Muzzammil: 6) serta bulan Ramadhan merupakan bulan khusus al-Qur’an sebagaimana firman Allah ﷻ yang artinya: “Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an.” (QS. Al-Baqarah: 185).

كان السلف يتلون القرآن في شهر رمضان في الصلاة وغيرها، كان الأسود يقرأ في كل ليلتين في رمضان، وكان النخعي يفعل ذلك في العشر الأواخر منه خاصة وفي بقية الشهر في ثلاث، وكان قتادة يختم في كل سبع دائما، وفي رمضان في كل ثلاث، وفي العشر الأواخر كل ليلة. وكان للشافعي في رمضان ستون ختمة يقرؤها في غير الصلاة

Para ulama salaf senantiasa membaca al-Qur’an di bulan Ramadhan dalam sholat dan lainnya. Al-Aswad membaca al-Qur’an setiap dua malam di bulan Ramadhan. An-Nakha’i juga melakukan hal sama secara khusus di sepuluh akhir bulan Ramadhan, sedangkan di bulan lain-lainnya sebanyak tiga malam. Qatadah selalu mengkhatamkan al-Qur’an setiap pekan di malam hari dan di bulan Ramadhan beliau menghatamkannya setiap tiga malam. Lalu di sepuluh akhir bulan Ramadhan, beliau mengkhatamkan al-Qur’an setiap malam. Sementara al-Imam asy-Syafi’i, saat bulan Ramadhan mengkhatamkan al-Qur’an sebanyak enam puluh kali di luar sholat.

ورد النهي عن قراءة القرآن في أقل من ثلاث على المداومة على ذلك، فأما في الأوقات المفضلة كشهر رمضان خصوصا الليالي التي يطلب فيها ليلة القدر أو في الأماكن المفضلة كمكة لمن دخلها من غير أهلها، فيستحب الإكثار فيها من تلاوة القرآن اغتناما للزمان والمكان

Dan terdapat larangan ulama membaca al-Qur’an kurang dari tiga hari secara rutin. Adapun di waktu-waktu yang utama semisal bulan Ramadhan khusunya di malam hari dengan tujuan memperoleh malam Lailatul Qadar atau ditempat-tempat yang utama seperti di Makkah bagi orang luar yang masuk Makah—selain penduduknya, maka disunahkan memperbanyak baca al-Qur’an karena mengutamakan zaman dan tempat.

اعلم أن المؤمن يجتمع له في شهر رمضان جهادان لنفسه: جهاد بالنهار على الصيام، وجهاد بالليل على القيام، فمن جمع بين هذين الجهادين ووفى بحقوقهما وصبر عليهما وفّى أجره بغير حساب

Ketahuilah! Sesungguhnya bagi orang mukmin di bulan Ramadhan memilik dua Jihad (memerangi) nafsunya: Pertama, ia melakukan jihad di siang hari dengan berpuasa. Kedua, ia melakukan jihad di malam hari dengan qayamul lail. Maka barang siapa yang bisa mengumpulkan dua jihad ini dan melaksanakan hak keduanya serta bersabar dalam melakukannya, niscaya ia disempurnakan pahalanya tanpa batas.

قال ابن مسعود رضي الله عنه: “ينبغي لقاريء القرآن أن يعرف بليله إذا الناس نائمون، ونهاره إذا الناس يفطرون، وببكائه إذا الناس يضحكون، وبورعه إذا الناس يخلطون، وبصمته إذا الناس يخوضون، وبخشوعه إذا الناس يختالون، وبحزنه إذا الناس يفرحون”

Ibnu Mas’ud ra berkata: “Hendaklah bagi orang yang membaca al-Qur’an, menjaga malamnya ketika orang-orang sedang tidur dan siang harinya ketika orang-orang tidak berpuasa. Menjaga tangisannya ketika orang-orang tertawa dan menjaga kewaraannya ketika orang-orang tidak menjaga kewaraannya. Menjaga diamnya ketika orang-orang menggunjing dan menjaga khusu’annya ketika orang-orang terperdaya serta menjaga kesedihannya ketika orang-orang bergembira.

قال أحمد بن أبي الحواري: “إني لأقرا القرآن وأنظر في آية فيحير عقلي بها، وأعجب من حفاظ القرآن كيف يهنيهم النوم ويسعهم أن يشغلوا بشيء من الدنيا وهم يتلون كلام الله، أما إنهم لو فهموا ما يتلون وعرفوا حقه وتلذذوا به واستحلوا المناجاة به لذهب عنهم النوم فرحا بما قد رزقوا”

Syaikh Ahmad bin Abi al-Hawriy berkata: “Sesungguhnya aku telah membaca al-Qur’an dan mengkaji satu Ayat darinya, lantas akalku menjadi kebingungan sebabnya dan aku heran kepada orang yang hafal al-Qur’an, bagaimana mereka bisa nyenyak tidur dan bebas menyibukkan dirinya denga urusan dunia padahal mereka orang-orang yang membaca kalam Allah ﷻ? Andai mereka faham dan tahu apa yang telah mereka baca, merasa lezat dengannya serta beralih bermunajat pada Allah ﷻ , niscaya rasa tidur akan sirna dari mereka karena bahagia dengan rezeki yang telah dikaruniakan kepada mereka.

يا من ضيّع عمره في غير الطاعة، يا من فرّط في شهره بل في دهره وأضاعه، يا من بضاعته التسويف والتفريط، وبئست البضاعة، يا من جعل خصمه القرآن، وشهر رمضان، كيف ترجو ممن جعلته خصمك الشفاعة

Wahai orang yang menyia-nyiakan usianya pada selain ketaatan. Wahai orang yang melewati batas dan membuang-buang waktu dalam bulan-bulan (yang dilalui) bahkan di tahun-tahunnya. Wahai orang terlena dan melampaui batas dengan harta dagangannya, dan itu sejelek-jeleknya barang dagangan. wahai orang yang menjadikan al-Qur’an dan bulan Ramadhan musuh, bagaimana engkau bisa berharap mendapat pertolongannya?

Diakhir tulisanya Syaikh Ibnu Rajab al-Hanbaliy menyerukan:

أين نحن من قوم إذا سمعوا داعي الله أجابوا الدعوة! وإذا تليت عليهم آيات الله جلّت قلوبهم جلوة! وإذا صاموا صامت منه الألسنة والأسماع والأبصار! أفما لنا فيهم أسوة؟

“Kemana kaum dari kalangan kita, ketika mereka mendengar panggilan Allah ﷻ, mereka segera menjawabnya? Ketika dibacakan Ayat-ayat Allah ﷻ, hati mereka bergetar hebat. Ketika mereka berpuasa, mereka berpuasa lisan, pendengaran dan pandangannya. Tidak adakah pada diri mereka, teladan berharga bagi kita? Waallahu A’lamu.

Penulis : Abdul Adzim

Publisher : Fakhrul

Referensi:

✍️ Al-Hafidz Abu al-Faraj Abdurrahman bin Ahmad bin Rajab al-Hanbaliy ad-Damsyiqiy| Lathaifu al-Ma’rif fima Limawasimi al-Aam min al-Wadhaif| Daru Ibnu Katsir hal 315-323.

banner 700x350

No More Posts Available.

No more pages to load.