Kontroversi Kitab Dzurrotun Nasihin

oleh -1,013 views

Syaichona.net- kitab Durratun Nasihin fi Al-Wazd wa Al-Irsyad, karya tulis Syaikh Utsman bin Ahmad asy-Syakiri al-Khaubawiri (seorang ulama yang hidup abad 18 asal Konstatinopel, Turki. Wafat pada tahun 1222 H) memiliki banyak kisah-kisah inspiratif yang memotivasi dan bernafaskan kerohanian.

Latar belakang dari Syaikh Utsman mengumpulkan kisah-kisah tersebut agar menjadi media bagi masyarakat supaya lebih condong kepada ajaran Islam. Di sisi lain juga, beliau seorang wa’idz (penceramah/pendakwah) yang menjadikan cerita inspiratif sebagai alternatif yang disebar luaskan ke khayalak umum. Di samping beliau sendiri memang menyukai kisah-kisah.

Kitab tersebut, biasa dipelajari oleh santri-santri di kalangan pesantren. Bahkan menjadi kitab yang kisah-kisah religius di dalamnya disampaikan dari lisan ke lisan, dari guru ke santri lalu ke santri yang lainnya. Bahkan, dalam tulisan cerita-cerita teladan di beberapa media ke-Islaman, pun menampilkan kisah dalam kitab tersebut kemudian dijadikan ibrah.

Untuk pemaparan
ayat-ayat dan tafsirannya menjadi rujukan kuat, sebab dinukil dari kitab Tafsir Al-Khazin, Tafsir Ma’alimut At-Tanzil (Tafsir Al-Baghawi), Tafsir Ruh Al-Bayan, Tafsir An-Nasafi, begitu juga pembahasan lainnya, Syaikh Utsman menukilnya dari kitab-kitab lain yang juga ternama.

Namun yang banyak dikontroversikan dalam kitab Durratun Nasihin perihal hadist-hadist di sana. Bahkan “Kaum Sebelah” demikian teman-teman saya menyebutnya, yang ulama-ulama mereka rata-rata berjenggot tebal dan dahi mereka tercap tanda agak bundar berwana hitam, —yang menandakan mereka begitu lamanya kalau bersujud kepada Allah SWT, katanya— mendoktrin agar menjauhi kitab karya Syaikh Ustman tersebut karena diklaim banyak terdapat hadist palsu.

Fenomena tersebut merupakan juz’iyyat (sebagian) dari kulliyat (keseluruhan) ajaran yang mereka sampaikan, contoh di atas termasuk bagian doktrin mereka, yakni menjauhi ulama yang kapasitasnya diakui internasional/dunia, dan kalangan mereka enggan berkiblat, padahal lebih alim mana antara mereka dengan ulama-ulama seperti Imam Al-Ghazali, Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani, Imam Sya’fii, Imam Al-Asy’ari dan lainnya? Sementara spirit mereka “kembali pada al-qur’an dan hadist” dan nampaknya mereka sendiri yang tafsiran-tafsiran fundamentalisnya terkesan justru membelakangi al-qur’an dan hadist. Artinya kalian yang harus kembali, kami dan para ulama-ulama kaliber tersebut sudah berada di dalam keduanya.

Sedangkan ajaran yang disampaikan guru-guru saya di pesantren, yang telah mondok (thalabul ilmi) bertahun-tahun, menegaskan harus husnudzon (berprasangka baik) kepada para ulama-ulama seperti Syaikh Ustman, termasuk kepada Imam Al-Ghazali yang juga penulis kitab. Imam Al-Ghazali dengan Ihya Ulum Ad-Din pun banyak dikontroversikan oleh “Kaum Sebelah” ini karena banyak hadist palsu di dalamnya. Mereka juga mensinyalir bahwasannya Hujjatul Islam (Imam Al-Ghazali) lemah dalam ilmu hadistnya.

Padahal, diceritakan kalau beliau tidak memasukkan satu hadist pun ke dalam kitab fenomenalnya itu kecuali telah didiktekan kepada Rasulullah. Bahkan beliau ketika ditanya oleh para ulama sezamannya soal hadist kitab Ihya Ulum Ad-Din, beliau menegaskan: mengetahui kualitas hadist sahih, hasan, dhaif, maudhu’, dengan mencium aroma hadist tersebut. Ya, kalau wangi maka sahih/hasan, kalau berbau maka dhaif/maudhu’.

Maka, Syaikh Ustman mungkin saja mempunyai alasan memasukkan hadist palsu dalam kitabnya—toreh, seharusnya kita husnudzon— dan bisa jadi beliau mengalami peristiwa seperti yang dialami Imam Al-Ghazali, sehingga kita bisa leluasa mengamalkannya.

Namun, kalau ingin lebih berhati-hati maka kita bisa memilah dan kita sisihkan hadist palsu dalam kitab Durratun Nasihin supaya tidak diamalkan —kalau memang kita dirasa mampu mengkaji kualitas hadist tersebut— lalu bukannya memprovokasi orang lain agar menjauhi kitab tersebut. Kalau terdapat tikus di lumbung padi maka kita usir tikusnya, bukan justru membakar lumbungnya. Ya, kalau terdapat hadist palsu dalam karya Syaikh Ustman itu, maka jangan kita amalkan dan bukan berarti meninggalkan keseluruhan isi kitab tersebut.

Author : Moh. Rosul
Editor : Fakhrullah

banner 700x350

No More Posts Available.

No more pages to load.