KHS. Abdullah Schal : Jual Sarung untuk Hormat Sang Guru

oleh -750 views

Syaichona.net- Santri merupakan komunitas yang diakui paling hebat dalam urusan menghormati gurunya. Di Pesantren mereka di didik memang seperti itu, bagi santri guru adalah segalanya. Tidak hanya soal ilmu, tapi juga barokah yang membawa jalan terang dalam hidupnya.

Jika ada kiai atau guru berkenan datang kerumahnya, maka rasanya kedatangan tamu yang sangat agung, segala sesuatu akan dipersiapkan untuk menghormat dan menyambut kedatangan gurunya.

Suatu Ketika KHS. Abdullah Schal pernah didatangi oleh gurunya yaitu KH. Cholil Nawawie Sidogiri dan KH. Cholil Hasbullah yang juga gurunya saat mondok di Sidogiri.

Kebetulan, KHS. Abdullah Schal sedang tidak berada di Demangan karena sedang ada keperluan di luar, tetapi ada salah satu santri yang bernama Bashori yang mana ia sehari-hari memang sering membantu didhalem mempersilahkan guru KHS. Abdullah Schal ke ruang tamu kemudian bashori segera bergegas pergi kedapur untuk menyiapkan hidangan.

Tapi, alangkah bingungnya Bashori di dapur tidak menemukan apa-apa walaupun sekedar gula dan kopi. Andai KHS. Abdullah Schal ada pasti beliau akan berusaha sebisa mungkin untuk memberikan hidangan yang layak kepada sang tamu, Bashori tau betul KHS. Abdullah Schal luar biasa takdzimnya kepada guru.

Bashori akhirnya dapat ide. Iya datang ke Warung Muslim (sekarang Depot Amboina) yang lokasinya hanya sekitar beberapa ratus meter dari Pesantren. Warung paling enak dan paling diminati disekitar Demangan. Pemilik warung ini punya hubungan cukup dekat dengan KHS. Abdullah Schal dan orang yang mempunyai kepedulian yang tinngi terhadap agama. Dengan agak sembunyi-sembunyi Bashori menyampaikan  keinginannya agar warung muslim berkenan menyiapkan suguhan untuk tamu KHS. Abdullah Schal Iya berjanji akan membayarnya dikemudian hari. Pemilik warung itu langsung mengiyakan.

Saat suguhan itu sudah dihidangkan, KHS. Abdullah Schal datang. Seperti kejatuhan buah durian, betapa gembira KHS. Abdullah Schal karena  sang guru yang menjadi idola dalam hidupnya berkenan rawuh ke Demangan. Sungguh, sebuah “rezeki” yang sangat agung.

Entah apa yang dipikirkan KHS. Abdullah Schal setelah itu. Tapi, sepertinya beliau sedang berfikir keras mencari agar bisa memberikan penghormatan yang layak untuk sang guru.

KHS. Abdullah Schal akhirnya memanggil Bashori kesebuah tempat. beliau menyerahkan sebuah sarung dan baju baru yang masih belum pernah beliau pakai.

“cepat, jual sarung dan baju ini jual kepasar!” perintahnya.

Beshori segera bergegas ke Pasar Bangkalan. Jaraknya hanya sekitar satu kilometer dari Pesantren. tidak lama kemudian, Bashori sudah datang dengan membawa hasil penjualan sarung dan baju itu.

Tampak sekali wajah lega pada raut muka KHS. Abdullah Schal memiliki uang untuk nyabis kepada gurunya yang datang dari tempat jauh itu. Nyabis adalah tradisi kalangan pesantren menyalami uang sebagai tanda hormat kepada orang yang disegani. Hal itu sebagai tanda kecintaan mereka kepada para ulama.

Dalam kitab – kitab pesantren banyak dianjurkan, terutama kepada orang tua, agar senang memberi hadiah (pemberian sebagai tanda penghormatan) kepada para ulama. Selain untuk menumbuhkan rasa cinta kepada mereka, hal itu diyakini dapat mengalirkan barokah agar anaknya kelak bisa menjadi ulama seperti mereka.

Diambil dari Biografi KHS. Abdullah Schal yang di tulis oleh M. Toyyib Fawwas Muslim

Publisher : Fakhrul

banner 700x350

No More Posts Available.

No more pages to load.