KAROMAH KYAI LILUR; KE TANJUNG PRIOK, NAIK SEPEDA MINI

oleh -1,719 views

“Entah ada firasat apa, siang itu saya ingin sekali ziarah ke Makam Mbak Priok. Biasanya saya ke Makam beliau setiap pekan pada sore hari di malam Jum’at bersama para penziarah lainnya. Ketepatan makam beliau tidak jauh dari rumah kediaman saya yang berada di Koja, Jakarta Utara.” Tutur bapak itu memulai kisahnya.

***

Sekedar informasi, Makam Mbah Priok adalah salah satu makam keramat yang berada di Pelabuhan Tanjung Priok , Koja, Jakarta Utara. Makam ini pernah ingin digusur oleh Pemprov DKI Jakarta, namun gagal menyusul terjadi bentrokan dengan warga yang ingin makam Mbah Priok dipertahankan.

Mbah Priok sendiri sebenarnya bernama asli al-Arif Billah al-Habib Hasan bin Muhammad al-Haddad Husain As-Syafi’i Sunnira. Al-Habib Hasan merupakan penyebar Agama Islam di Batavia pada abad ke-18.

Beliau dilahirkan di Palembang pada 1727. Tahun 1756, al-Arif Billah al- Habib Hasan bersama al-Arif Billah al-Habib Ali al-Haddad pergi ke Pulau Jawa untuk menjalankan misi dakwah Islam. Al-Arif Billah al-Habib Hasan bin Muhammad al-Haddad kemudian wafat di Jawa sementara Arif Billah al-Habib Ali al-Haddad melanjutkan perjalanan ke Sumbawa.

***

Nah, saat saya berada dihalaman makam Mbak Priok, saya melihat seorang penjaga makam berusaha mengusir keluar salah satu penziarah yang memaksa masuk ke area makam. Tanpa sadar aku mendekati kedua orang itu. Alangkah terkejut saya saat itu, ternyata orang yang diusir penjaga makam adalah KH. Kholilur Rahman atau orang Bangkalan Madura memanggil beliau dengan sebutan Kyai Lilur. Sebagai orang Bangkalan saya tentu sangat mengenal kepribadian dan kebiasan beliau.

Melihat beliau diperlakukan seperti itu, tanpa disuruh saya langsung menghampiri penjaga makam itu seraya bersalaman sungkem terlebih dahulu kepada Kyai Lilur.

“Hai Pak, Mohon jangan kamu seenaknya memperlakukan beliau seperti ini. Beliau juga peziarah sama dengan peziarah lainnya yang berhak diperkenankan masuk ke dalam makam. Asal bapak tahu, beliau ini adalah Kyai Lilur cicit Syaichona Moh.  Cholil Bangkalan.” Ucap saya sembari menahan amarah kepada penjaga makam itu.

Namun penjaga makam itu tetap saja tidak mempercayai kata-kata saya, malah ia berkata; “Masak keturunan Syaichona Moh. Cholil Bangkalan seperti ini, berpakaian lusuh seperti pemulung? Saya tidak percaya itu. Kamu jangan mengada-ngada karena tempo hari ada seorang yang masuk ke dalam makam bertampang seperti pemulung atau gelandangan lalu membawa lari isi kotak amal di makam.”

Mendengar kata-kata tidak sopan dari mulut penjaga makam itu seketika saya naik pitam, nyaris saya memukul penjaga makam itu. Beruntung ada salah satu seorang Habaib datang melerai saya dan kebetulan Habib itu mengenal Kyai Lilur.

“Assalamualaikum Kyai! Bagaimana kabar Antum?” Habib itu menyapa Kyai Lilur.

“Waalaikum salam, kabar saya baik”. Jawab Kyai Lilur tanpa eskpresi.

“Mari Kyai saya antar antum masuk ke dalam makam.” Ajak Habib itu.

Saya pun masuk kedalam area makam membuntuti beliau berdua. Setelah sampai didalam area makam, saya mengambil Majmu’ Latif maksud hati untuk membaca Surat Yasin dan Tahlil lalu duduk didekat makam Mbah Priok tidak jauh dibelakang beliau berdua. Kyai Lilur duduk dekat makam sementara sang habib berdiri belakang beliau.

***

Tawassul demi tawasul saya haturkan, mulai hadiah Surat al-Fatihah pada Baginda Nabi Muhammad, para Wali Allah, Syuhada’, para orang-orang sholeh, para guru, kedua orang tua segenap ahli kubur hingga kepada semua orang mukmin dan orang islam laki-laki perempuan. Namun belum sepat saya membaca Majmu’ Latif yang ada ditangan. Tiba-tiba saya mendengar suara Kyai Lilur mengucapkan salam;

“Assalamu Alaikum Mbah Priok! Bagaimana kabarmu?” Dawuh Kyai Lilur menyapa dan menanyakan kabar Mbah Priok layaknya bertemu dengan pemilik rumah saat masih hidup.

Saya hanya terkesima, terdiam menyaksikan kejadian itu. Aneh tapi nyata, orang yang masih hidup bisa ngobrol dengan orang sudah lama meninggal dunia. Konon, hal itu tidak mustahil bagi para wali Allah ﷻ sebagai karomah pembuktian atas kewalian mereka bahkan saya pernah mendengar kisah ada wali Allah ﷻ yang telah lama meninggal dunia bisa berkunjung setiap saat pada orang masih hidup.

Kemudian saya melihat Kyai Lilur seperti asyik berbincang-bincang dengan seseorang (tanpa wujud), tidak tahu dengan siapa? Layaknya berbicara dengan seseorang yang baru bertemu dengan teman lamanya. Sayang saya tidak dapat mendengar isi pembicaraan beliau. Saya hanya bisa bersyukur pada Allah ﷻ karena pada hari itu Allah ﷻ telah memperkenankan saya melihat karomah kekasih Allah ﷻ didepan mata kepala saya.

Selanjutnya, Kyai Lilur keluar dari area makam dibarengi Habib itu dan saya mengikuti dibelakang beliau berdua. Sesampainya dipintu keluar sang Habib bertanya pada Kyai Lilur:

“Kyai kesini naik apa?”

“Saya naik itu” Jawab Kyai Lilur sembari menunjuk pada sepeda anak kecil beroda tiga.

Sontak sang Habib kaget seakan tidak percaya.

“Subhanallah! Kyai naik sepeda itu?” Tanya sang Habib meyakinkan kenyataan yang dilihatnya.

“Mari Kyai mampir ke rumah saya, letaknya tidak jauh dari sini.” Ajak Habib pada Kyai Lilur.

Dan saat keduanya hendak meninggalkan lokasi makam, saya pun pamit kepada beliau berdua untuk kembali ke area makam melanjutkan niat ziarah saya di makam Mbah Priok. Sekian

By : Abdul Adzim

Publisher : Fakhrul

???? ??????; ??????? ?????????? ??????? ???? ???? ???????, ????????? ???? ??????? ?? ??????? ????? , ????, ??????? ?????.

Semoga kisah ini bisa bermanfaat dan menjadi inspirasi untuk senantiasa berbaik sangka pada siapa pun karena kadang orang yang kita sangka hina di mata kita, bisa jadi ia mulia di mata Allah ﷻ dan tergolong kekasih-kasih Allah ﷻ yang sengaja menyamar untuk menguji manusia yang hatinya masih kotor.

banner 700x350

No More Posts Available.

No more pages to load.