CERMIN DAN SISIR, KAROMAH KYAI LILUR

oleh -155 views

“Semenjak aku keluar dari Pesantren, aku berkerja sebagai buruh kasar, menjadi kuli proyek perbaikan jalan raya atau tukang pengaspal jalan” Alumni itu memulai kisahnya.

******

Tidak terasa sudah 10 tahun lamanya aku menekuni pekerjaan ini, meski hanya cukup untuk makan sehari-sehari bersama anak istri bagiku syukur alhamdullah yang penting halal. Panas terik matahari dan dingin hujan adalah sahabat setia yang selalu menyapa dan menemaniku bekerja. Hingga pada suatu hari aku dan rekan-rekan sesama kuli ditugaskan mengaspal jalan di daerah Sepuluh Bangkalan Madura. Aku sendiri berdomisili di Kabupaten Pasuruan.

Singkat cerita, proyek pekerjaan mengaspal jalan di daerah Sepuluh Bangkalan Madura kami selesaikan selama satu bulan. Sebelum pulang ke Pasuruan, kota tempat aku tinggal bersama keluarga kecil. Aku teringat salah satu sosok Kyai yang terkenal di Kota Bangkalan dengan kewalian dan kemajadzabnya. Yaitu KH. Kholilurrahman bin Nyi Romlah bin KH. Imron bin Syaichona kholil Bangkalan atau orang-orang Bangkalan akrab memanggil beliau dengan sebut Ra Lilur.” Kenang Alumni itu.

“Di Sore itu juga aku memberanikan diri untuk suwan pada beliau, berharap beliau sudi mendo’akan aku dan segenap keluargaku—memperoleh keberkahan bahagia hidup dunia dan akhirat.

Sesampinya di depan kediaman beliau, aku mengucapakan salam. Namun tidak ada tanda-tanda khadam atau beliau sendiri menjawab salamku. Lantas aku mengulang lagi uluk salamku yang kedua hingga ketiga kalinya. Tapi tetap saja salamku tidak ada jawaban hanya keheningan dan panorama rumah pedesaan yang bersahaja menyapa kedatanganku. Hingga aku putuskan untuk kembali pulang melanjutkan perjalan ke Pasuruan.

“Ah, mungkin Allah ﷻ belum menakdirkan aku bisa suwan dan berjumpa dengan beliau. Barang kali suatu hari nanti aku bisa suwan kembali pada beliau.” Gumanku penuh harap.

Waktu di jam tanganku telah menunjukan jam 04:30 Sore, dengan gontai kakiku melangkah meninggalkan kediaman beliau sembari memanjatkan doa semoga perjalanan pulang menuju Pasuruan diberikan kelancaran dan kemudahan tanpa ada hambatan.

Tidak jauh aku melangkah, tiba-tiba aku mendengar suara ibu-ibu memanggilku dari arah belakang.

“Hai Kisanak, tunggu jangan pulang dulu”. Kata ibu-ibu itu.

Aku pun menoleh kebelakang dan menghampiri ibu-ibu pemilik suara itu.

“Apakah Kisanak berasal dari Pasuruan?” Tanya ibu-ibu itu.

“Iya, benar aku berasal Kabupaten Pasuruan” Jawabku setengah heran kepada ibu-ibu itu atau asalku.

Kemudian ibu-ibu itu berkata padaku: “Mohon Kisanak bersabar sebentar. Tadi Kyai Lilur berpesan kepadaku. Kata beliau, kalau nanti ada tamu yang berasal dari Pasuruan datang kesini ingin menemuiku. Berikan cermen dan sisir ini kepadanya.”

Aku hanya diam mengangguk kepala sembari menerima cermen dan sisir yang sodorkan ibu-ibu itu.

“Dari mana Kyai Lilur mengetahui akan kedatanganku?” Bisik batinku.

“Tapi begitulah seorang Waliyullah yang memiliki mata batin yang jernih sehingga seisi dunia tak ubahnya benda-benda di atas loyang yang semuanya tampak jelas.” Tepis pikiranku.

Lantas aku bertanya pada ibu itu: “Maaf sebelumnya ibu, cermen dan sisir ini diberikan padaku tujuannya untuk apa ya?”

“Entahlah, saya sendiri juga tidak mengerti apa maksud beliau menitipkan cermin dan sisir itu. Namun tadi Kyai Lilur sempat berpesan, setelah cermin dan sisir diserahkan pada Kisanak. Kisanak diperintahkan agar bercermin dan menyisir rambut Kisanak setelah itu Kisanak diperkenankan pulang ke Pasuruan.”

Bagai seorang budak yang dititahkan sang tuan —tunduk patuh pada perintah—tanpa banyak bertanya, aku pun bercermin dan menyisir rambutku.

******

Mobil angkot yang aku tumpangi melaju kencang menuju pelabuhan Kamal. Pikiranku terus dihantam pertanyaan demi pertanyaan tentang makna isyarat Kyai Lilur yang menyuruhku bercermin dan menyisir rambut. Di atas kapal Fery penyebarangan selat Madura antara pelabuhan Kamal-Tanjung Perak, di Bus Kota jurusan terminal Purabaya hingga naik Bus Akas angkotan antar provinsi. Sesampai di kota Pasuruan, aku masih ambigo belum menemukan jawabannya dari isyarat Kyai Lilur. Namun entah, ilham atau bukan. Tidak ada angin dan hujan di benakku terlintas dan hatiku berbisik:

“Setelah ini kamu harus sering bercermin dan menyisir rambutmu”.

Artinya aku harus berhenti berkerja di proyek mengaspal jalan raya, lebih fokus bersama keluarga, beribadah dan berkerja serabut di rumah.

******

Syahdan, sebulan setelah aku memutuskan berhenti dari berkerja mengaspal jalan. Tepatnya pada tengah malam, saat seisi rumah telah lelah tertidur, pintu rumahku tiba-tiba diketuk oleh seseorang dengan ucapan salam berkali-kali.

“Ah, siapa yang menengetuk pintu di tengah malam seperti ini?”. Gumanku sedikit waswas takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Pintu perlahan aku buka dan tampak ada seorang laki-laki setengah baya tinggi tegap berdiri depan pintu dengan bahasa Madura khas Pasuruan, tergopoh-gopoh memohon pertolongan:

“Aduh seporanah Lek, lem-malem aganggu been. Keng polanah bingung, tak taoh dek sapah pole engkok mintaah bentoan.”

(Aduh mohon dimaafkan Dik…, malam-malam seperti ini aku mengganggumu. Kami bingung, tidak tahu kepada siapa lagi kami harus minta bantuan). Ucap laki-laki itu.

“Tenang Kang, Bedeh apah. Mak akadih tek pentingah? Ayoh masok ben tojuk delluh ke delem roma Kang!”.

(Tenang Bang, ada apa gerangan. Kok sepertinya ada sesuatu yang sangat penting? Ayo masuk dan duduk dulu di dalam rumah Bang!). Sambutku menenangkan laki-laki itu.

Laki-laki itu pun masuk dan duduk di alas tikar yang aku sediakan. Kali ini ia terlihat lebih tenang dan mau bicara dengan santai.

“Yeh poko’en engkok seporanah Lek, tang anak Lek. Molai gelek sore nangis meloloh tak bu-ambu. Engkok bingung ben tangbinih. E nyenumen obet lemareh. E beri mennyak pote pola ke’tabuk lemareh. Puskesmas, meng lem-malem inga’ jerinah tutup Lek E ghiba’ah ka masake, pesse tak mendeng. La setiah engkok mintaah tolong ka be’en ben mintaah barokah tambeh dari been. Becain apalah… Reng been e kocak toman munduk. Pola tang anak eparengen beres ben ambu se nangis.”

(Sekali lagi aku meminta maaf telah mengganggu ketenangan dan keluargamu Dik, anak saya itu loh. Sejak tadi sore menangis terus menerus tidak mau berhenti. mungkin Saya dan istri saya panek dan bingung. Sudah saya minumi obat. Sudah diolesi minyak kayu putih barang kali sakit perut, ke Puskesmas kalau di jam malam seperti ini tentu tutup Dik. Mau saya rujuk ke rumah sakit, uang yang ada tidak cukup. Sekarang saya minta tolong dan barokah doa ke kamu. Bukankah kamu pernah nyatri di pesantren? Barang kali dengan barokah doamu atau apalah…., anak saya diberi kesembuhan sehat dan berhenti menangis).

“Aduh Kang, engkok tak taoh ben tak bisa apah-apah dek urusan nambein orenga sake’ meskeh engkok pernah monduk. E ponduk engko’ tak pernah ajer ilmoh marak jiah. Engkok pondok keng ajer elmonah macah ketab gundul dan ketab caranah a bejeng setepak.”

(Waduh Bang! meski saya pernah berada di Pesanteren, saya tidak bisa apa-apa tentang urusan obat-mengobati orang sakit. Di pesantren saya tidak pernah belajar ilmu pengobatan atau meruqiyah orang sakit. Di pesantren saya hanya belajar bagaimana cara membaca kitab kuning dan kitab tata cara sholat yang benar). Jawabku berusaha menjelas agar orang itu bisa mengerti.

“Yeh, poko’en macah aghi duweh apalah Lek… sebisanah been, terserah been. Sepenting tang anak bisa e parengen beres be’ Pangeran been ambo senanges meloloh. Engkok poko’en la pasra bungkol dek be’en.”

(Ya, yang penting dibacakan doa apalah Dik…. Sebisamu dan sepengetahuanmu. Bagaimana cara anak saya bisa diberi kesembuhan oleh Allah ﷻ hingga berhenti menangis. Pokok saya pasrah sepenuhnya padamu).

Laki-laki itu terus mendesakku, meski aku sendiri tidak tahu harus berbuat apa dan tidak punya keahlian sama sekali dalam bidang pengobatan atau pun ruqiyah. Karena sudah tidak acara lain dan kehabisan kata untuk membuat orang itu mengerti, maka aku terpaksa berusaha menolongnya dengan cara mengambil segelas air putih sebagaimana yang pernah aku lihat dulu di pesantren saat temanku meruqiyah teman kamar yang sakit. Namanya saja bukan ahli, aku pun tawassul kepada Baginda Nabi Muhammad ﷺ, guru-guruku dan para ulama atau para waliyullah yang aku ingat tidak terkecuali kepada Kyai Lilur. Lalu aku serahkan segelas air putih itu pada laki-laki itu untuk diminumkan pada anaknya yang sedang sakit. Setelah itu ia pulang ke rumahnya dengan membawa segelas air putih pemberianku.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali laki-laki yang tadi malam datang lagi ke rumahku. Aku pun kaget bercampur cemas takut terjadi apa-apa pada anak laki-laki itu.

“Alhamdulillah Lek…Tang anak semarenah ngenum aeng se eberik been, setiah le pendeh. Le tak ngisnangis pole berkat doaen been. Engkok kanna’ riyah keng terrong ngoca’ aghinah mator sekelangkong sebennyak atas bentonah ben mentaah seporah setadek betesah ka been.”

(Alhamdulillah Dek…Anakku setelah meminum air pemberianmu, anakku beransur-ansur sehat. Sudah tidak menangis-nangis lagi, barokah doamu. Saya kesini ini hanya ingin mengucapkan terima kasih yang banyak atas segala bantuan yang engkau berikan sekaligus meminta maaf yang yang tidak terhingga padamu). Kata laki-laki itu dengan wajah yang berseri-seri.

Pasca kejadian itu, setiap hari rumahku tidak pernah sepi dari orang yang meminta pertolongan doa untuk kesembuhan sakitnya. Dari orang yang berlatar berbeda dan aneka penyakit yang diderita. Saya baru sadar dan mengerti, ternyata semua ini adalah arti dari cermin dan sisir yang dulu pernah isyarat oleh Kyai Lilur kepadaku. Alhamdulillah, puji syukur atas segala karunia nikmat yang telah berikan Allah ﷻ kepadaku saat ini dan tahaddus bi nikmah, aku dan semua keluarga sekarang sudah menunaikan rukun Islam yang ke lima alias sudah haji ke Baitullah. Hidupku sekarang sudah lebih dari cukup, semua serba ada tidak perlu lagi susah payah memeras keringat untuk menafkahi hidup. Sambung doanya, semoga segala kenikmatan ini menjadi harta yang barokah dunia akhirat untuk bekal ibadah dan bermanfaat untuk ke sejahteran manusia yang lain. Amin..

By : Abdul Adzim

Publisher : Fakhrul

𝑲𝒊𝒔𝒂𝒉 𝒏𝒚𝒂𝒕𝒂 𝒊𝒏𝒊, 𝒑𝒆𝒏𝒖𝒍𝒊𝒔 𝒅𝒂𝒑𝒂𝒕𝒌𝒂𝒎 𝒅𝒂𝒓𝒊 𝒈𝒖𝒓𝒖 𝒑𝒆𝒏𝒖𝒍𝒊𝒔 𝒍𝒂𝒏𝒈𝒔𝒖𝒏𝒈 𝒅𝒂𝒓𝒊 𝑺𝒉𝒂𝒉𝒊𝒃𝒖𝒍 𝑯𝒊𝒌𝒂𝒚𝒂𝒉—𝒕𝒆𝒎𝒂𝒏 𝒌𝒆𝒍𝒂𝒔𝒏𝒚𝒂 𝒔𝒆𝒎𝒂𝒔𝒂 𝒅𝒊 𝑷𝒐𝒏𝒅𝒐𝒌 𝑷𝒆𝒔𝒂𝒏𝒕𝒓𝒆𝒏.

Nama dan pesantren nara sumber sengaja tidak dipublikasi karena ada permintaan dari shohibul hikayah.

banner 700x350

No More Posts Available.

No more pages to load.