DEBAT SENGIT ANTARA IBNU SURAIJ ASY-SYAFI’I DAN MUHAMMAD BIN DAUD ADZ-DZAHIRI (1)

oleh -77 views

Syaichona.net-Berbeda pendapat dikalangan para ulama zaman dahulu adalah suatu yang lumrah terjadi, baik dalam forum debat terbuka atau melalui perang literasi hingga tak jarang dari hasil perdebatan mereka lahir aneka karya monumental yang menjadi referensi ilmiah generasi berikutnya. Hebatnya lagi perbedaan pendapat dan perdebatan mereka tidak serta merta membuat mereka bermusuhan apalagi dendam kesumat karena sejatinya tujuan mereka berdebat adalah untuk mencari kebenaran yang hakiki bukan mencari menang atau kalah.

Pada abad ke-2 Hijriyah hidup dua ulama besar ahli fikih dengan faham yang berbeda yaitu Ibnu Suraij, nama lengkapnya Abu al-Abbas Ahmad bin Suraij al-Baghdadiy asy-Syafi’i (240 H — 307 H) dan Abu Bakar Muhammad bin Daud bin Ali adz-Dhahiriy (255 — 297 H). Keduanya sering terlibat debat sengit hingga kematian yang memisahkan mereka.

Dikisahkan, pada satu kesempatan Ibnu Suraij berkata pada Muhammad bin Daud adz-Dhahiriy: “Anda penganut faham Dhahir [¹] dan tidak mengakui adanya Qiyas [²] Bagaimana Anda menyikapi firman Allah ﷻ:

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ، وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

Artinya: “Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah (atom), niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah (atom), niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula”. [QS. Az-Zalzalah;7-8]. Ketika dikaitkan pada kasus orang yang mengerjakan kebaikan atau kejahatan separuh dzarrah?

Mendapat pertanyaan dari Ibnu Suraij, Muhammad bin Daud adz-Dhahiriy diam lama tidak menjawab lantas ia berkata:

أبلعني ريقي

“Tunggu, berilah aku waktu menelan ludahku” [³]

أبلعتك دجلة

“Engkau tidak menelan ludah, tapi menelan sungai Dajlah” Jawab Ibnu Suraij

Di hari yang lain, Muhammad bin Daud adz-Dhahiriy berkata pada Ibnu Suraij:

أمهلني ساعة

“Berikan aku Sa’ah (waktu sejenak).”

Ibnu Suraij menjawab:

أمهلتك من الساعة إلى أن تقوم الساعة

“Aku memberi Anda Sa’ah (waktu) hingga taqumu as-Sa’ah (hari terjadinya kiamat)”.

Di hari yang lain Muhammad bin Daud adz-Dhahiriy berkata pada Ibnu Suraij:

أكلمك من الرجل فتجيبني من الرأس

“Aku berbicara dengan Anda tentang masalah kaki lalu Anda menjawabku dengan masalah kepala.”

Ibnu Suraij menjawab:

هكذا البقر، إذا حفيت أظلافها دهنت قرونها

“Begitulah Sapi, bila kuku kakinya dikelupas maka tanduknya akan mengeluarkan minyak.”

Setelah itu mereka berdua berpisah tanpa ada jawaban dan keputusan.

Syaikh Badruddin az-Zarkasiy (W. 794 H) dalam kitabnya al-Burhan fi Ilmi al-Qur’an mengutip pendapat sebagian ulama memberikan komentar:

وهذا من مغالطات ابن سريج وعدم تصور ابن داود; لأن الذرة ليس لها أبعاض فتمثل بالنصف والربع وغير ذلك من الأجزاء؛ ولهذا قال سبحانه: (إن الله لا يظلم مثقال ذرة) فذكر سبحانه مالا يتخيل في الوهم أجزاؤه، ولا يدرك تفرقه.

“Munculnya perdebatan sengit antara Ibnu Suraij dan Muhammad bin Daud adz-Dhahiriy terkait kandungan Ayat diatas, bermula dari pemutar balikan logika yang diajukan Ibnu Suraij dan kurangnya berfikir secara mendalam dari Muhammad bin Daud adz-Dhahiriy. Sebab Dzurrah (Atom) sendiri tidak bisa terbagi, separuh, seperempat dan lainnya. Karena itu Allah ﷻ berfirman:

اِنَّ اللّٰهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ ۚ

Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak akan menzalimi (seseorang) walaupun sebesar zarah…” (QS. An-Nisa’: 40).

Dalam Ayat ini Allah ﷻ menyebutkan kata (Dzurrah) yang tidak bisa dibagi dan tidak ditemukan pecahannya secara rekayasa nalar.

Waallahu A’lamu

Penulis : Abdul Adzim

Publisher : Fakhrul

[¹] Faham adz-Dzahiri adalah sebuah sekte Fiqih yang berpegang pada pengertian lahir nash-nash al-Qur’an dan Hadits tanpa penakwilan.

[²] Qiyas adalah menyamakan sesuatu yang tidak memiliki nash hukum dengan sesuatu yang ada nash hukum berdasarkan kesamaan illat atau kemaslahatan yang diperhatikan syara.

[³] Sebuah ungkapan meminta waktu sejenak untuk berfikir dalam menjawab.

Referensi:

✍️ 𝑺𝒚𝒂𝒊𝒌𝒉 𝑻𝒂𝒋𝒖𝒅𝒅𝒊𝒏 𝑨𝒃𝒊 𝑵𝒂𝒔𝒉𝒂𝒓 𝑨𝒃𝒅𝒖𝒍 𝑾𝒂𝒉𝒉𝒂𝒃 𝒃𝒊𝒏 𝑨𝒍𝒊 𝒃𝒊𝒏 𝑨𝒃𝒅𝒖𝒍 𝑲𝒂𝒇𝒊 𝒂𝒔-𝑺𝒖𝒃𝒌𝒊𝒚| 𝑻𝒂𝒃𝒂𝒒𝒂𝒕𝒖 𝒂𝒔𝒚-𝑺𝒚𝒂𝒇𝒊’𝒊𝒚𝒂𝒉 𝒂𝒍-𝑲𝒖𝒃𝒓𝒂| 𝑫𝒂𝒓𝒖 𝒂𝒍-𝑲𝒖𝒕𝒖𝒃 𝒂𝒍-𝑰𝒍𝒎𝒊𝒚𝒂𝒉 𝒋𝒖𝒛 2 𝒉𝒂𝒍 18.

✍️ 𝑺𝒚𝒂𝒊𝒌𝒉 𝑨𝒃𝒖 𝒂𝒍-𝑨𝒃𝒃𝒂𝒔 𝒃𝒊𝒏 𝑴𝒖𝒉𝒂𝒎𝒎𝒂𝒅 𝒃𝒊𝒏 𝑰𝒃𝒓𝒂𝒉𝒊𝒎 𝒃𝒊𝒏 𝑨𝒃𝒊 𝑩𝒂𝒌𝒓 𝒃𝒊𝒏 𝑲𝒉𝒂𝒍𝒌𝒂𝒏| 𝑾𝒂𝒇𝒂𝒚𝒂𝒕𝒖 𝒂𝒍-𝑨’𝒚𝒂𝒏 𝒘𝒂 𝒂𝒏𝒃𝒂’𝒖 𝒘𝒂 𝑨𝒃𝒏𝒂’𝒖 𝒂𝒛-𝒁𝒂𝒎𝒂𝒏| 𝑫𝒂𝒓𝒖 𝒂𝒍-𝑲𝒖𝒕𝒖𝒃 𝒂𝒍-𝑰𝒍𝒎𝒊𝒚𝒂𝒉 𝒋𝒖𝒛 1 89-90.

✍️ 𝑺𝒚𝒂𝒊𝒌𝒉 𝑩𝒂𝒅𝒓𝒖𝒅𝒅𝒊𝒏 𝑨𝒃𝒖 𝑨𝒃𝒅𝒊𝒍𝒍𝒂𝒉 𝑴𝒖𝒉𝒂𝒎𝒎𝒂𝒅 𝒃𝒊𝒏 𝑩𝒂𝒉𝒂𝒅𝒊𝒓 𝒃𝒊𝒏 𝑨𝒃𝒅𝒊𝒍𝒍𝒂𝒉 𝒂𝒛-𝒁𝒂𝒌𝒔𝒊𝒚| 𝒂𝒍-𝑩𝒖𝒓𝒉𝒂𝒏 𝒇𝒊 𝑰𝒍𝒎𝒊 𝒂𝒍-𝑸𝒖𝒓’𝒂𝒏| 𝑫𝒂𝒓𝒖𝒍 𝒂𝒍-𝑲𝒖𝒕𝒖𝒃 𝒂𝒍-𝑰𝒍𝒎𝒊𝒚𝒂𝒉 𝒉𝒂𝒍 257.

banner 700x350

No More Posts Available.

No more pages to load.