Tata Cara Shalat Idul Adha

oleh -1,884 views

Syaichona.net- Hukum shalat idul adha adalah sunnah muakkadah (sangat dianjurkan) baik bagi laki-laki maupun perempuan. Awal mula disyariatkannya shalat idul adha adalah pada tahun kedua hijriyah. Sejak itu, Rasulullah SAW tidak meninggalkannya hingga beliau wafat, kemudian dilanjutkan oleh sahabat beliau. Dalil kesunnahan shalat idul adha adalah Al-Qur’an surat Al-Kautsar:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

Artinya, “Maka laksanakanlah shalat karena tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.” (QS. Surat Al-Kautsar: ayat 2)

Syarat dan rukun shalat idul adha (termasuk pula idul fitri) sama dengan shalat yang lain, demikian pula dengan hal-hal yang membatalkan dan pekerjaan atau ucapan yang disunnahkan. Shalat idul adha tidak didahului dengan adzan maupun iqamah. Waktu pelaksanaan sholat idul adha adalah dimulai dari terbitnya matahari sampai dengan tergelincirnya matahari. Dan dianjurkan menyegerakan melaksanakan shalat idul adha demi memberi kesempatan yang luas kepada masyarakat yang hendek berkurban selepas shalat id.

Shalat idul adha dilaksanakan sebanyak dua raka’at dengan tambahan 7 takbir pada raka’at pertama dan 5 takbir pada rakaat kedua. Sholat idul adha dianjurkan dikerjakan secara berjamah dan terdapat khutbah setelahnya. Jika sholat idul adha dilakukan tidak secara berjama’ah (sendiri) maka tidak perlu melakukan khutbah.

Berikut tata cara sholat idul adha:

Pertama, niat sholat idul adha di dalam hati bersamaan dengan takbiratul-ihram (membaca Allahu akbar), dan disunnahkan untuk melafalkan niat sebelumnya. Berikut lafal niatnya:

أُصَلِّى سُنَّةً لِعِيْدِ الأَضْحَى رَكْعَتَيْنِ (مَأْمُوْمًا/إِمَامًا) لِلهِ تَعَالَى

Artinya, “Aku berniat shalat sunnah idul adha dua rakaat (menjadi makmum/imam) lillahi ta’ala.”

Kedua, membaca doa iftitah. Setelah itu disunnahkan untuk takbir sebanyak tujuh kali. Di sela-sela tiap takbir dianjurkan membaca:

سُبْحَانَ اللهِ وَالحَمْدُ لِلهِ وَلَا إِلهَ إِلَّا اللهِ وَاللهُ أَكْبَرُ

Artinya, “Maha suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada tuhan selain Allah, Allah maha besar.”

Atau bisa membaca:

اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ لِلهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا

Artinya, “Allah maha besar dengan segala kebesarannya, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, Maha Suci Allah, baik waktu pagi dan petang.”

Catatan : Jika tidak menututi takbir pertama imam, maka tidak perlu menambah takbir (disempurnakan) karena sudah ditanggung imam. Misal, makmum baru takbir setelah imam dapat dua takbir beserta takbiratul-ihram-nya, ketika imam selesai 7 takbir sedangkan makmum masih dapat 6 maka tidak perlu disempurnakan menjadi 7.

Ketiga, membaca surah al-Fatihah. Setela itu, sunnah bagi yang menjadi imam untuk membaca surah Al-A’la. Jika posisinya sebagai ma’mum, maka membaca surah al-Fatihah setilah imam selesai membacanya dan tidak perlu membaca surah kecuali tidak medengar bacaan imam.  Lalu dilanjutkan ke rukuk, sujud duduk di antara dua sujud, dan seterusnya hingga berdiri lagi seperti shalat biasa.

Keempat, setelah sampai pada rakaat yang kedua, disunnahkan untuk takbir lagi samapi 5 kali seperti takbir pada rakaat pertama. Kemudian membaca surah al-fatihah dan dianjurkan membaca surah Al-Ghasiyah bagi imam. Seterusnya sampai salam.

Kelima, setelah salam, jamaah tidak diasarankan buru-buru pulang, melainkan mendengarkan khutbah idul adha terlebih dahulu hingga rampung. Kecuali bila shalat id ditunaikan tidak secara berjamaah.

Demikian tata cara sholat idul adha sesuai dengan keterangan para ulama dalam kitab-kitab klasik.

Penulis : Pusiri

Publisher : Fakhrul

banner 700x350

No More Posts Available.

No more pages to load.