PENDOPO PENUH KENANGAN

oleh -95 views

Syaichona.net- Sayup-sayup suara adzan terdengar berkumandang dari Masjid Agung Bangkalan, membubarkan pembicaraan RKH. Fakhrillah Aschal yang sedang menasihati salah seorang tamunya di pendopo beliau.

Semua tamu di pendopo jadi terdiam mendengarkan suara adzan, sembari bersama menjawabnya.

Lalu kyai menyuruh khaddamnya mengambilkan sajadah untuk shalat berjama’ah Dhuhur di atas pendopo itu.

Tiba-tiba datang ibu-ibu dari arah timur mau sungkem kepada kyai. Beliau pun tidak kuasa menolak tamu yang datang. Setelah tamu ibu-ibu itu selesai sungkem semua, kyai sejenak kembali ke tempat duduknya sebelum kemudian shalat berjema’ah.

Teman saya yang duduk di sebelah saya nyeletuk, “Kyai kok gak wudhu’ lagi ya?” Bisiknya ke telinga saya.

“Gak tau, mungkin beliau lupa.” Jawab saya singkat.

Tanpa diduga kyai langsung menoleh ke arah saya yang jaraknya cukup berjauhan dengan beliau.

“Mun sengkok aslinah lok mang-mang sakaleh, keng takok bik oreng ekarasan.” (Kalau aku sebenarnya gak ragu sama sekali, tapi yang dikhawatirkan akan dibicarakan oleh orang-orang).

Kami pun merasa malu, karena barusan sempat membicarakan kyai yang tidak mengulangi wudhu’nya setelah bersalaman dengan tamu ibu-ibu tadi.

Karena menurut kami wudhu’nya kyai batal, sedang menurut beliau tidak. Entah mungkin beliau wudhu’nya ikut Imam Hanafi atau Imam Malik, atau ikut sebagian ashab Syafi’i yang tidak membatalkan.

Di pendopo itu, banyak urusan diselesaikan, banyak urusan penting dibicarakan. Tidak sedikit orang datang kepada kyai membawa duka hati dan berbagai masalah hidup, setelah pulangnya orang itu menjadi tenang dan membawa kedamaian di hatinya.

Dan di tempat itu, kami sering menyaksikan keistimewaan dan karomah beliau. Namun, semua itu kini hanya tinggal kenangan

Oleh : Shofiyullah el_Adnany

Publisher : Fakhrul

banner 700x350

No More Posts Available.

No more pages to load.