KHS. ABDULLAH SCHAL ANTARA SENI HADRAH DAN AL-BANJARI

oleh -809 views

Syaichona.net- Hadrah adalah lantunan shalawat yang diiringi dengan irama rebana khusus, sehingga terasa lebih indah didengarkan.Shalawat ala hadrah ini pertama kali diajarkan oleh Habib Syaikh Botoputih Surabaya, pada kisaran tahun 1830 M. Setelah mulai populer, akhirnya pada tahun 1959 M. berdirilah organisasi bernama Ikatan Seni Hadrah Republik Indonesia yang lebih kita kenal dengan sebutan ISHARI. (sumber : NU Online)

Sedangkan di Madura, lebih khususnya di Bangkalan, ISHARI ini diantaranya dipopulerkan kepada masyarakat oleh KHS. Abdullah Schal.

Setiap menghadiri sebuah acara di masyarakat, baik itu acara Haul, Walimatul ‘Arusy, Isra Mi’raj, Halal Bihalal, Imtihanan dan lain-lain, beliau selalu membawakan lantunan shalawat yang diiringi dengan musik rebana ala ISHARI.

Seperti biasa, KHS. Abdullah Schal oleh masyarakat diundang sebagai penceramah agama, sekaligus pembacaan doa sebagai penutup acara.

Nah, selepas menyampaikan tausiyahnya lalu beliau menyampaikan kepada para hadirin dalam acara tersebut,

“Ngireng padeh adu’a sadhejheh. Namung du’a ka’dintoh manabi terro mustajhebheh kodhuh lebet Roudhotun Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam. Artenah ngireng padeh manjheng sadhejheh lakek, binik.”

(Mari kita berdoa bersama. Namun, jika doa itu ingin cepat diistijabahi, harus lebih dulu lewat Raudhatun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maksudnya, mari kita berdiri semua laki maupun wanita)

Kemudian beliau membacakan shalawat Syaraful Anam (Ya Nabi Salam ‘Alaika), dan diiringi irama rebana. Yang bertugas penabuh rebana ini, adalah mereka-mereka yang sudah mahir memainkan musik rebana dari kelompok ISHARI yang ada di sekitar daerah tersebut.

Oleh karena itu, setiap kampung yang biasa mengundang KHS. Abdullah Schal hampir dipastikan sudah menyiapkan orang-orang yang mahir menabuh rebana. Karena sudah menjadi kebiasaan beliau ketika membaca — Shalawat Asyraful Anam (baca Mahallul Qiyam) — meminta untuk diiringi tabuhan rebana ala ISHARI.

Lantaran itu, pada akhirnya banyak di kampung-kampung yang mendirikan Jam’iyah ISHARI.

Selain itu, untuk lebih mempopulerkan ISHARI di masyarakat Bangkalan, beliau mengundang hampir semua grup ISHARI yang ada di Bangkalan untuk mengisi acar-acara yang ada di Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil (PPSMCH).

Contohnya seperti yang diselenggarakan hari Sabtu malam Minggu 11 Juni, tadi malam bertepatan pada acara Haul Nyai Hj. Romlah binti KH. Imron bin Syaikhana Khalil.

Dulu, saya pernah terpilih sebagai personil Grup ISHARI di kampung saya. Dan sudah banyak kali ikut menghadiri undangan penampilan.

ISHARI kalau di kampung saya seringnya ditampilkan pada acara Walimatul ‘Arusy, bertempat di kediaman mempelai putra. Penampilan itu sengaja dimulai sejak sebelum acara kirab penganten dilaksanakan, sebagai penanda acara akan segera dimulai.

Setelah acara kirab penganten dimulai, semua personil ISHARI ikut mengantarkan mempelai putra ke kediaman penganten putri sambil membacakan shalawat yang diiringi tabuhan rebana.

Hampir selama 5 tahun saya ikut kegiatan itu, sehingga saya banyak tahu tentang lagu-lagu shalawat, juga gaya musik rebana ala ISHARI.

ISHARI sangat jauh berbeda dengan AL-BANJARI, baik model rebananya maupun gaya musiknya. Namun keduanya sangat diminati oleh masyarakat.

Rupanya dakwah melalui jalur seni lebih diminati oleh masyarakat Bangkalan ketimbang media yang lainnya. Kenyataan itu yang kemudian dilanjutkan oleh al-Maghfurlah RKH. Fakhrillah Aschal untuk berdakwah melalui seni dengan pembacaan shalawat ala al-Banjari, sebagai penerus perjuangan KHS. Abdullah Schal.

RKH. Fakhrillah Aschal memilih al-Banjari dengan shalawat ala al-Habsyi juga dengan Simtut Durarnya karena menyesuaikan keadaan zaman, dan minta masyarakat.

Karena kata Bang Haji Rhoma Irama,
“Seni adalah bahasa… Pemersatu antar bangsa… Seni adalah mulia…
Suci murni tiada dosa…”

Oleh : Shofiyullah el_Adnany

banner 700x350

No More Posts Available.

No more pages to load.