APA ARTINYA BERPUASA, JIKA PERUT DIJEJALI MAKANAN DOBEL PORSI SAAT BERBUKA DAN SAHUR?

oleh -1,812 views

Al-Imam al-Ghazali (w. 505 h) dalam kitab Bidayatu al-Hidayah berpesan kepada orang yang berpuasa Ramadhan:

اجتهد أن تفطر على طعام حلال، ولا تستكثر فتزيد على ما تأكله كل ليلة، فلا فرق إذا استوفيت ما تعتاد أن تأكله دفعتين في دفعة واحدة، وإنما المقصود بالصيام كسر شهوتك، وتضعيف قوتك لتقوى بها على التقوى. فإذا أكلت عشية ما تداركت به ما فتك ضحوة، فلا فائدة في صومك، وقد ثقلت عليك معدتك، وما وعاء يملأ أبغض إلى الله تعالى من حلال، فكيف إذا ملىء من حرام.

“Bersungguh-sungguhlah untuk berbuka dengan makanan yang halal, janganlah memperbanyak makanan misalnya dengan menambahkan makanan dari yang biasa dimakan setiap malamnya karena tidak ada bedanya lagi jika engkau biasanya makan dua kali kemudian sekarang jadi sekali tapi porsinya dobel. Padahal tujuannya puasa adalah memecahkan syahwatmu dan melemahkan kekuatanmu agar bisa menjaga diri untuk melakukan ketaqwaan.

Jika engkau telah makan di malam hari, maka janganlah kau jejali lagi makan pagimu yang telah terlewat sebab tidak ada gunanya lagi puasamu (yang bertujuan memecah syahwat) sebab perutmu telah engkau penuhi dengan bobot makanan. (Renungkan), perut yang penuh dengan makanan halal saja itu dibenci oleh Allah ﷻ apalagi jika dipenuhi dengan yang haram?

Syaikh Muhammad Nawawi al-Bantaniy al-Jawiy (w. 1316 h) dalam kitabnya Muraqi al-Ubudiyah ala Matni Bidayatu al-Hidayah menjelaskan:

وهذا جواب إذا، أي إن من آداب الصوم أن لا تشبع الشبع الكامل قط لا سيما في ليالي رمضان فإن الأولى النقص فيها عن مقدار ما كنت تأكله في غيرها، وذلك لأنه شهر الجوع ومن شبع في عشائه وسحوره، فكأنه لم يصم رمضان وحكمه حكم المفطر من حيث الأثر المشروع له الصوم، وهو أضعاف الشهوة المضيقة لمجاري الشيطان في البدن، وهذا الأمر بعيد على من شبع من اللحم والمرق إلا إذا كان من يصوم شخصاً يتعاطى في النهار الأعمال الشاقة، أو امرأة مرضعة، فإن ذلك لا يضره إن شاء الله تعالى، وقد قالوا: من أحكم الجوع في رمضان حفظ من الشيطان إلى رمضان الآتي، لأن الصوم جنة على بدن الصائم ما لم يخرقه شيء، فإذا خرقه دخل الشيطان له من الخرق، كذا نقله البجيرمي عن الشعراني

“Dan inilah jawaban pertanyaan tersebut, bahwa di antara etika yang perlu diperhatikan bagi orang yang berpuasa adalah jangan terlalu kenyang lebih-lebih di malam hari bulan Ramadhan karena sesungguhnya yang paling utama adalah mengurangi jatah makanan dari porsi yang biasa dimakan di luar puasa Ramadhan karena bulan Ramadhan adalah bulan lapar. Juga saat berbuka dan sahur, (jika itu dilakukan) maka seakan ia tidak berpuasa Ramadhan dan hukumnya sama dengan orang yang tidak melakukan puasa ditinjau dari dampak tujuan disyari’atkannya berpuasa. Yaitu melemahkan gemuruh syahwat yang dapat mempersempit tempat laju setan dalam tubuh manusia. Tujuan ini tentu sangat jauh keberadaannya pada orang yang perutnya kenyang dari memakan daging dan kuah kaldunya. Kecuali jika orang yang berpuasa tersebut pekerja berat yang bekerja sepanjang hari atau ia seorang wanita yang menyusuhi, maka isyaallah hal itu tidak akan memberikan dampak negatif secara syara’ kepadanya (diperbolehkan).

Para ulama telah mengatakan: “Barang siapa yang memutuskan lapar di puasa bulan Ramadhan, maka orang itu akan terjaga dari gangguan setan hingga bulan puasa Ramadhan berikutnya karena puasa adalah perisai bagi raga orang yang berpuasa selagi ia tidak merusaknya dengan sesuatu yang lain. Jika ia telah merusaknya, maka setan akan masuk padanya dari sesuatu yang dirusak. Sebagaimana yang disampaikan Syaikh al-Bujairamiy mengutip dari pendapat Syaikh Abdul Wahhab asy-Sya’raniy.

Waallahu A’lamu

Penulis : Abdul Adzim

Publisher : Fakhrul

Referensi:

✍️ 𝑺𝒚𝒂𝒊𝒌𝒉 𝑴𝒖𝒉𝒂𝒎𝒎𝒂𝒅 𝑵𝒂𝒘𝒂𝒘𝒊 𝒂𝒍-𝑩𝒂𝒏𝒕𝒂𝒏𝒊𝒚 𝒂𝒍-𝑱𝒂𝒘𝒊𝒚| 𝑴𝒖𝒓𝒂𝒒𝒊 𝒂𝒍-𝑼𝒃𝒖𝒅𝒊𝒚𝒂𝒉 𝒂𝒍𝒂 𝑴𝒂𝒕𝒏𝒊 𝑩𝒊𝒅𝒂𝒚𝒂𝒕𝒖 𝒂𝒍-𝑯𝒊𝒅𝒂𝒚𝒂𝒉| 𝑫𝒂𝒓𝒖 𝒂𝒍-𝑲𝒖𝒕𝒖𝒃 𝒂𝒍-𝑰𝒍𝒎𝒊𝒚𝒂𝒉 157-158.

✍️ 𝑺𝒚𝒂𝒊𝒌𝒉 𝑨𝒃𝒖 𝑯𝒂𝒎𝒊𝒅 𝒃𝒊𝒏 𝑴𝒖𝒉𝒂𝒎𝒎𝒂𝒅 𝒃𝒊𝒏 𝑴𝒖𝒉𝒂𝒎𝒎𝒂𝒅 𝒃𝒊𝒏 𝑴𝒖𝒉𝒂𝒎𝒎𝒂𝒅 𝒂𝒍-𝑮𝒉𝒂𝒛𝒂𝒍𝒊| 𝑩𝒊𝒅𝒂𝒚𝒂𝒕𝒖 𝒂𝒍-𝑯𝒊𝒅𝒂𝒚𝒂𝒉| 𝑫𝒂𝒓𝒖 𝒂𝒍-𝑴𝒊𝒏𝒉𝒂𝒋 𝒉𝒂𝒍 168-169.

banner 700x350

No More Posts Available.

No more pages to load.