KEUTAMAAN MENJADI ORANG ALIM DAN BERKUMPUL DENGAN MEREKA

oleh -1,855 views

Al-Hasan al-Bishri ra (w. 110 h) berkata:

صرير قلم العالم تسبيح، وكتابه العلم، والنظر فيه عبادة، ومداده كدم الشهيد، وإذا قام من قبره نظر إليه أهل الجمع، ويحشر مع الأنبياء، وتدارس العلم ساعة من الليل أفضل من إحيائه بغيره، ومدارسته أفضل من الذكر.

“Suara goresan pena seorang alim adalah tasbih. Kitabnya adalah ilmu. Memandang wajahnya merupakan suatu ibadah. Tintanya bagaikan darah seorang syahid. Tatkala ia bangkit dari kuburnya kelak, seluruh ahli kubur memperhatikannya. Besok di akhirat ia dikumpulkan bersama para Nabi. Satu jam belajar suatu ilmu di waktu malamnya, lebih baik dari pada menghidupkan malamnya dengan selainnya. Dan berada di tempat belajarnya (untuk belajar) itu lebih baik dari pada berdzikir.”

Abu al-Laist as-Samarqandiy (w. 373 h) berkata:

من جلس عند عالم ولم يقدر علی حفظ شيء من العلم نال سبع كرامات: فضل المتعلمين، وحبسه عن الذنوب، ونزول الرحمة عليه حال خروجه من بيته، وإذا نزلت الرحمة علی أهل الحلقة حصل له نصيبه، ويكتب له طاعة ما دام مستمعا، وإذا ضاق قلبه لعدم الفهم صار غمه وسيلة لحضرة الله لقول الله تعالی: “أنا عند المنكسرة قلوبهم من أجلي أي جابرهم وناصرهم، ويروى: عز العالم وذل الفاسق فيرد قلبه عن الفسق ويميل طبعه إلى العلم.

Imam Abu Al-Laits berkata : “Barang siapa yang duduk bersama orang alim dan tidak bisa menghafal sedikitpun dari ilmu niscaya ia tetap mendapatkan 7 kemuliaan:

1- Keutamaan orang-orang yang belajar.

2- Mencegah dirinya dari perbuatan dosa.

3- Turun rahmat padanya ketika keluar dari rumah.

4- Bila turun rahmat kepada orang yang duduk dalam halaqah (membahas ilmu) ia juga mendapat bagian.

5- Dicatat sebagi orang yang berbuat ketaatan selama ia mau mendengarkan (ilmu yang disampaikan orang alim).

6- Jika hatinya merasa sesak karena tidak mengerti, maka rasa gundahnya menjadi perantara untuk sampai pada hadratillah karena Allah telah berfirman dalam hadits Qudsi: “Aku bersama orang yang hatinya gelisah karena sebab-Ku ” maksudnya adalah Allah ﷻ akan menambal kekurangan mereka dan menolong kebutuhan mereka.

7- Ketika dijelaskan mengenai kemuliaan orang berilmu dan kehinaan orang fasik hatinya dipalingkan dari kefasikan dan wataknya menjadi condong pada ilmu.”

Wallahu A’lamu

Penulisal : Abdul Adzim

Publisher : Fakhrul

Referensi:

✍️ 𝑺𝒂𝒚𝒚𝒊𝒅 𝑨𝒃𝒅𝒖𝒓𝒓𝒂𝒉𝒎𝒂𝒏 𝒃𝒊𝒏 𝑴𝒖𝒉𝒂𝒎𝒎𝒂𝒅 𝒃𝒊𝒏 𝒂𝒍-𝑯𝒖𝒔𝒂𝒊𝒏 𝒃𝒊𝒏 𝑼𝒎𝒂𝒓 𝑩𝒂’𝒂𝒍𝒂𝒘𝒊𝒚| 𝑩𝒖𝒈𝒉𝒊𝒚𝒂𝒉 𝒂𝒍-𝑴𝒖𝒔𝒕𝒂𝒓𝒔𝒚𝒊𝒅𝒊𝒏| 𝑫𝒂𝒓𝒖 𝒂𝒍-𝑲𝒖𝒕𝒖𝒃 𝒂𝒍-𝑰𝒍𝒎𝒊𝒚𝒂𝒉 𝒉𝒂𝒍 10.

banner 700x350

No More Posts Available.

No more pages to load.