ALLAH ﷻ YANG TELAH MENJALANKAN ISRA’ MI’RAJ NABI ﷺ BUKAN BERJALAN SENDIRI

oleh -1,051 views

Syaichona.net- Sejak semula hingga saat ini, peristiwa Isra’ Mi’raj selalu mendapat penolakan dan pengingkaran orang-orang yang kafir, mereka menuduh Nabi ﷺ sebagai manusia pembohong, tukang sihir, bahkan tidak sedikit yang memperolok Nabi ﷺ sebagai manusia yang tidak waras. Mereka tidak sadar bahwa peristiwa Isra’ Mi’raj dijalan kuasa Allah ﷻ, Nabi ﷺ tidak jalan sendiri dan bukan juga atas kehendak sendiri. Karena itulah ketika mempublikasikan peristiwa Isra Mi’raj. Rasulullah ﷺ tidak menyatakan “Aku telah Isra’, tetapi di-Isra’-kan.” Dari sinilah kekeliruan penduduk Mekah mendustakannya, mereka mengukur peristiwa Isra’ menurut ukuran lumrahnya manusia—Jarak tempuh dari Mekah-Palestina membutuhkan waktu satu bulan dengan mengendarai unta. Sementara, perjalan Nabi Muhammad ﷺ hanya memakan waktu sebagai malam saja.

Nah, untuk membungkam keraguan-raguan manusia dan pengingkaran orang-orang kafir Allah ﷻ berfirman:

سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَا ۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ ﴿الإسراء : )۱

Artinya: “Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat. (QS. Al-Isra’: 1).

Perhatikan, Allah ﷻ membuka Surat al-Isra’ di atas dengan kalimat “subhanallah”. Ada maksud tertentu dari kalimat ini yang hendak Allah ﷻ isyaratkan bahwa peristiwa Isra’ adalah bagian dari tanda-tanda kebesaran-Nya; sebuah peristiwa agung yang khariqul ‘adah, kejadian luar biasa yang keluar dari batas-batas kewajaran manusia. Melalui kalimat subhana seolah-olah Allah ﷻ memaklumatkan kepada seluruh makhluk di alam semesta, “Aku akan berkisah tentang sesuatu kejadian yang hebat, luar biasa, yang tidak lumrah dalam ukuran manusia, yaitu peristiwa Isra’.” [𝑱𝒂𝒎𝒂𝒍𝒖𝒅𝒅𝒊𝒏 𝑨𝒃𝒅𝒖𝒓𝒓𝒂𝒉𝒎𝒂𝒏 𝒃𝒊𝒏 𝑨𝒍𝒊, 𝒁𝒂𝒅𝒖 𝒂𝒍-𝑴𝒂𝒔𝒊𝒓 𝒇𝒊 𝑰𝒍𝒎𝒊 𝒂𝒕-𝑻𝒂𝒇𝒔𝒊𝒓, 𝑩𝒂𝒊𝒓𝒖𝒕: 𝑫𝒂𝒓𝒖 𝒂𝒍-𝑲𝒖𝒕𝒖𝒃 𝒂𝒍-𝑰𝒍𝒎𝒊𝒚𝒂𝒉, 2002, 𝒋𝒖𝒛 6, 𝒉𝒂𝒍 3-4].

Abu Ishaq Ahmad bin Muhammad as-Sa’albiy mengatakan:

Subhana adalah sebuah kalimat untuk menyatakan menyucikan Dzat Yang Maha Suci, Allah ﷻ secara absolut. Rasulullah ﷺ pernah ditanya Talhah bin Ubaidillah ra tentang makna subhanallah, dan beliau menjawab:

تنزيه الله عن كل سوء

“Mensucikan Allah dari segala keburukan (HR. at-Tabrqni). [𝑨𝒍-𝑲𝒂𝒔𝒚𝒇 𝒘𝒂 𝒂𝒍-𝑩𝒂𝒚𝒂𝒏, 𝑩𝒂𝒊𝒓𝒖𝒕: 𝑫𝒂𝒓𝒖 𝑰𝒉𝒚𝒂 𝒂𝒕-𝑻𝒖𝒓𝒂𝒕𝒔 𝒂𝒍-𝑨𝒓𝒂𝒃𝒊𝒚, 2002 𝑴, 𝒋𝒖𝒛 6 𝒉𝒂𝒍 54].

Mutawalli asy-Sya’rawi, seorang pakar tafsir kontemporer menjelaskan makna kalimat subhanallah dengan sangat mendalam menuliskan:

ومن معاني (سبحانه) أي: أتعجب من قدرة الله. إذن: كلمة (سبحان) جاءت هنا لتشير إلى أن ما بعدها أمر خارج عن نطاق قدرات البشر، فإذا ما سمعته إياك أن تعترض أو تقول: كيف يحدث هذا؟ بل نزه الله أن يشابه فعله فعل البشر، فإن قال لك: إنه أسرى بنبيه محمد صلى الله عليه وسلم من مكة إلى بيت المقدس في ليلة، مع أنهم يضربون إليها أكباد الإبل شهراً، فإياك أن تنكر. فربك لم يقل: سرى محمد، بل أسرى به. فالفعل ليس لمحمد ولكنه لله، ومادام الفعل لله فلا تخضعه لمقاييس الزمن لديك، ففعل الله ليس علاجاً ومزاولة كفعل البشر.

Makna yang tersirat dari kalimat “subhanahu” adalah tidakkah engkau takjub dengan kekuasaan Allah ﷻ? Maka tujuan kalimat subhana dicantumkan dalam Surat al-Isra’ (17:1) untuk memberikan isyarat bahwa, kejadian dan adegan-adegan yang disebut sesudah kalimat subhana, merupakan peristiwa yang keluar dari zona-zona kemampuan dan daya nalar manusia. Apabila engkau mendengarnya, takutlah untuk menyanggah atau memprotesnya dengan berkata: “Bagaimana mungkin peristiwa ini bisa terjadi?”. Tapi tasbihkanlah Allah ﷻ, bahwa perbutan-Nya tidak sama dengan perbuatan manusia. Apabila Allah ﷻ telah berfirman: “Dia telah meng-Isra-kan Nabi-Nya, Muhammad dari Mekah ke Baitil Maqdis hanya dalam satu malam”, padahal lumrahnya manusia, jarak sejauh itu ditempuh dengan mengendarai unta dalam waktu sebulan, maka takutlah engkau mengingkarinya! Karena Tuhanmu tidak berfirman: “Muhammad telah Isra (melakukan perjalanan malam)”, tapi Muhammad di Isra-kan Tuhan-Nya. Perjalanan Isra bukan “dari ” dan “oleh” kehendak Muhammad sendiri. Tapi “dari ” dan “oleh” kehendak Allah ﷻ. Maka janganlah engkau membandingkannya dengan ukuran teori-teori waktu yang engkau ketahui! Perbuatan Allah ﷻ bukan untuk dijadikan objek praktek atau eksperimen, tidak seperti perbuatan manusia. [𝑻𝒂𝒇𝒔𝒊𝒓 𝑲𝒉𝒂𝒘𝒂𝒕𝒊𝒓𝒊, 𝒉𝒂𝒍 8310]

Al-Habib Muhammad Luthfi bin Yahya Paklongan pernah menyampaikan: “Surat al-Isra diawali dengan kalimat subhana menunjukkan bahwa peristiwa Isra Mi’raj tidak termasuk kategori ‘Aqliy, yakni mutlak dipasrahkan kepada Allah ﷻ dan tak bisa diganggu gugat. Keluarbiasaan dalam Isra Mi’raj adalah ketika Nabi Muhammad ﷺ melewati zona per zona alam semesta seperti gaya gravitasi bumi dan planet-planet lain, tetapi Nabi ﷺ tidak terpengaruh sama sekali dengan kekuatan gravitasi-gravitasi tersebut. Kenapa terjadi demikian? Al-Habib Lutfi menjelaskan bahwa hal tersebut lantaran alam semesta diciptakan Tuhan dari Nur Muhammad ﷺ. Dari Nur inilah alam semesta bermula. Cahaya yang memancar darinya menjadi bagian-bagian dan elemen materi dan anti-materi alam semesta. Karena itu merupakan suatu yang logis jika hukum-hukum alam semesta yang biasa berlaku, seperti daya gravitasi dan lain sebagainya, tidak lagi berlaku lagi bagi Nabi ﷺ. Dengan mudah, Nabi ﷺ dapat menembus gravitasi, dimensi, galaksi-galaksi, tanpa pakaian seperti astronot. Alam semesta wajib tunduk terhadap suatu cahaya yang menjadikan sumber asalnya, ibarat cahaya pelita yang tunduk dan kalah dengan cahaya matahari. [𝑯𝒂𝒔𝒊𝒍 𝒘𝒂𝒘𝒂𝒏𝒄𝒂𝒓𝒂 𝑻𝒊𝒎 𝑲𝑲𝑰 𝑲𝑨𝑺𝒀𝑨𝑭, 23 𝑴𝒆𝒊 2017].

Waallahu A’lamu

Oleh  Abdul Adzim

Dikutip dari buku: 𝑹𝒊𝒉𝒍𝒂𝒉 𝑺𝒆𝒎𝒆𝒔𝒕𝒂 𝑩𝒆𝒓𝒔𝒂𝒎𝒂 𝑱𝒊𝒃𝒓𝒊𝒍 𝒂𝒔, 𝑴𝒆𝒏𝒈𝒖𝒂𝒌 𝑷𝒆𝒓𝒋𝒂𝒍𝒂𝒏𝒂𝒏 𝑰𝒔𝒓𝒂’ 𝑴𝒊’𝒓𝒂𝒋 𝑵𝒂𝒃𝒊 𝑴𝒖𝒉𝒂𝒎𝒎𝒂𝒅 ﷺ 𝒅𝒂𝒓𝒊 𝑨𝒔𝒑𝒆𝒌 𝑯𝒊𝒌𝒎𝒂𝒉, 𝑭𝒊𝒍𝒐𝒔𝒐𝒇𝒊𝒔, 𝑷𝒆𝒔𝒂𝒏 𝑺𝒊𝒎𝒃𝒐𝒍𝒊𝒔, 𝑺𝒖𝒇𝒊𝒔𝒕𝒊𝒌 𝒅𝒂𝒏 𝑺𝒂𝒊𝒏𝒕𝒊𝒇𝒊𝒌, 𝑳𝒊𝒓𝒃𝒐𝒚𝒐 𝑷𝒓𝒆𝒔𝒔, 𝒉𝒂𝒍𝒂𝒎𝒂𝒏 16-21.

banner 700x350

No More Posts Available.

No more pages to load.