SETIAP UCAPAN ADA TEMPATNYA DAN SETIAP TEMPAT ADA UCAPANNYA

oleh -5,070 views

Syaichona.net- Dalam bertutur kata, ada seni yang harus kita perhatikan. Selain memastikan bahwa apa yang kita ucapkan itu adalah sesuatu yang benar, kita juga harus memastikan bahwa perkataan itu juga disampaikan pada orang, tempat dan waktu yang tepat sebagaimana pribahasa Arab mengatakan:

لِكُلِّ مَقَامٍ مَقَالٌ وَلِكُلِّ مَقَالٍ مَقَامٌ

Artinya: “Setiap ucapan ada tempatnya, dan setiap tempat ada ucapannya tersendiri.”

Syaikh Ibrahim Syamsuddin dalam Qishashu al-Arab mengisahkan:

.أنه خرج يعُسُّ المدينة بالليل فرأى ناراً موقدة في خباء فوقف وقال: يا أهل الضوء. وكره أن يقول: أهل النار

“Bahwa Sayyidan Umar bin al-Khattab ra pernah ronda pada suatu malam di Madinah, lantas beliau melihat kobaran api menyala di sebuah kemah. Beliau lalu berhenti (mendekati sumber api itu) sembari menyapa pemiliknya: “Ya Ahlu adh-Dhaw’i!” artinya: “Ya Pemilik Cahaya!”. Beliau risih jika mengatakan: “Hai Ahlu an-Nar!” artinya: “Hai Pemilik Api!” Karena serupa dengan panggilan penduduk Neraka. (Baca: 𝒌𝒊𝒔𝒂𝒉 𝒔𝒆𝒍𝒆𝒏𝒈𝒌𝒂𝒑𝒏𝒚𝒂 𝒑𝒂𝒅𝒂 𝒕𝒖𝒍𝒊𝒔𝒂𝒏 𝒃𝒆𝒓𝒊𝒌𝒖𝒕𝒏𝒚𝒂, 𝒊𝒏𝒔𝒚𝒂𝒂𝒍𝒍𝒂𝒉).

Sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa pribahasa tersebut merupakan Iqtibas (kutipan) dari sebuah hadits:

لِكُلِّ مَقَامٍ مَقَالٌ

Artinya: “Setiap ucapan ada tempatnya”.

Iqtibas sendiri bisa diartikan menyalin atau mengutip namun dalam istilah ilmu balaghah, iqtibas adalah:

.تضمين النثر أو الشعر شيئا من القرآن الكريم أو الحديث الشريف من غير دلالة على أنه منهما ، ويجوز أن يغير في الأثر المقتبس قليلا

“Mengutip suatu kalimat dari Al-Qur’an atau Hadist, lalu disisipkan ke dalam prosa atau syair tanpa dijelaskan bahwa kalimat yang dikutip tersebut diambil dari Al-Qur’an dan Hadist. Pengutip diperkenankan mengadakan sedikit perubahan.” Sebagaimana yang disampaikan Syaikh Ali al-Jarim Musthofa Amin dalam al-Balagh al-Wadhih.

Terkait hadits ini, Syaikh Syamsuddin Muhammad bin Abdurrahman as-Sakhawiy (w. 902 h) dalam kitab al-Maqashid al-Hasanah fi Bayani Katsiri mina al-Ahaditsi al-Musytahirati ala al-Sinati mengatakan: “Hadits tersebut, diriwayatkan oleh al-khatib dalam kitab al-Jami’ dari Abi ad-Darda’. Sementara ar-Khara’ithiy dalam kitab al-Makarim dan Ibnu ‘Adiy dalam kitab al-Kamal, kedua mendapat riwayat dari Abi ath-Thuffail berupa hadits Mauquf namun terdapat tambahan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Adiy:

لكل زمان رجال

Artinya: “Setiap zaman ada laki-laki (hebat)”.

Lalu ada riwayat dari ‘Auf bin Malik mengatakan:

إن لكل زمان رجالا، فخيارهم الذين يرجى خيرهم، ولا يخاف شرهم، وشرارهم يغني بضدهم، ولكل زمان نساء، فخيارهن الجوانيات، العفيفات، المتعففات، وشرارهن الزانيات، المسرفات، المترجلات.

“Setiap zaman ada laki-laki (hebat), maka laki-laki yang terpilih adalah mereka yang diharapkan kebaikannya dan tidak ditakuti kejelekannya. Sedangkan paling jeleknya mereka adalah yang bersifat sebaliknya. Dan di setiap zaman ada perempuan-perempuan (hebat), maka perempuan yang terpilih adalah mereka yang baik hatinya, berbudi luhur dan menjaga diri dari perbuatan dosa. Sedangkan paling jeleknya mereka adalah perempuan-perempuan penzina, boros dan yang bergaya seperti laki-laki.” 𝑺𝒆𝒎𝒐𝒈𝒂 𝑴𝒂𝒏𝒇𝒂𝒂𝒕

Penulis : Abdul Adzim

Referensi:

✍️ Syaikh Ibrahim Syamsuddin| Qishashu al-Arab| Daru al-Kutub al-Ilmiyah juz 2 hal 18.

✍️ Syaikh Ali al-Jarim Musthofa Amin| al-Balagh al-Wadhih, hal 278.

✍️ Syaikh Syamsuddin Muhammad bin Abdurrahman as-Sakhawiy| Al-Maqashid al-Hasanah fi Bayani Katsiri mina al-Ahaditsi al-Musytahirati ala al-Sinati| Daru al-Kutub al-Ilmiyah hal 388.

banner 700x350

No More Posts Available.

No more pages to load.