AKUI AKU SEBAGAI SANTRIMU GURU

oleh -227 views

Bagi seorang santri, menimba ilmu di Pesantren bukan sekedar ingin menjadi seorang yang mempuni atau pakar dalam ilmu agama tapi ada yang lebih mulia dari itu, yaitu mendapatkan ridha dari para guru dan pengakuan sebagai santrinya. Kerena sehebat apapun seorang santri, sebanyak apapun ilmu yang didapat dari gurunya, jika tidak mendapat ridha dan pengakuan gurunya. Ilmunya dijamin tidak akan bermanfaat dan berkah dunia akhirat.

Maka tak ayal jika Kiai Abdul Karim atau Mbah Manab (1856 – 1954) pendiri Pondok Pesantren Lirboyo ketika menjelang wafatnya hanya minta didoakan supaya diakui santri Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan (1820-1923 M), gurunya.

Sebagimana dilansir dari website resmi Pondok Pesantren Lirboyo, disarikan dari ceramah KH. Abdul Aziz Manshur saat khataman kitab Jauharu al-Maknun. Beliau mengisahkan:

Tiga atau empat hari sebelum wafat, Kiai Abdul Karim terbaring sakit di tempat tidur ditunggui oleh putri-putrinya.

Sambil menangis beliau mengatakan:

“Dongakno yo! Mugo-mugo aku mbesuk neng kono diakoni dadi santrine Mbah Kholil. Tanpo aku diakoni santrine Mbah Kholil, aku gak iso mlebu swargo” (Artinya, Doakan ya! Semoga saya kelak di sana diakui menjadi santrinya Mbah Kholil. Tanpa saya diakui santrinya Mbah Kholil, saya tidak bisa masuk surga).

Ada yang masih bertanya, bisakah seorang guru memberi syafaat (pertolongan) pada para santrinya kelak di akhirat?

Syaikh Ahmad bin Muhammad ash-Shawiy al-Mishriy al-Khalwati al-Malikiy (w. 1241 h) dalam Hasyiah ash-Shawiy ala Tafsir Jalalain, saat menafsiri Ayat:

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ ۚ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِين.

“Dan orang-orang yang beriman, beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka (di dalam surga), dan Kami tidak mengurangi sedikit pun pahala amal (kebajikan) mereka. Setiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya. (QS. At-Tur: 21). Beliau mengatakan:

والمعنى: أن المؤمن إذا كان عمله أكثر، ألحق به من دونه في العمل إبناً كان أو أباً، ويلحق بالذرية من النسب الذرية بالسبب وهو المحبة، فإن حصل مع المحبة تعليم علم أو عمل، كان أحق باللحوق كالتلامذة، فإنهم يحلقون بأشياخهم، وأشياخ الأشياخ يلحقون بالأشياخ، إن كانوا دونهم في العمل، والأصل في ذلك عموم قوله صلى الله عليه وسلم: “إذا دخل أهل الجنة الجنة سأل أحدهم عن أبويه وعن زوجته وولده فيقال: إنهم لم يدركوا ما أدركت، فيقول: يا رب إني عملت لي ولهم، فيؤمر بإلحاقهم به”.

Pengertian dari Ayat tersebut adalah: “Sesungguhnya orang Mukmin bila (pahala) amal perbuatannya lebih banyak, maka akan disamakan dengan orang yang (pahala) amal perbuatannya lebih sedikit baik itu Ayah atau Anak dan Dzurriyyah (keluarga) dari hubungan nasab (tali kerabat) disamakan dengan Dzurriyah (keluarga) karena sebab yaitu hubungan cinta. Jika saja dalam belajar ilmu atau meniru amal perbuat baik disertai cinta (pada guru yang mengajarkannya), maka ia yang lebih berhak untuk disatukan dalam derajat di surga contohnya seperti para anak murid (santri). Mereka akan mengikuti para gurunya. Sedangkan para gurunya guru akan disatukan dengan para gurunya meskipun amal perbuatannya berada di bawah mereka. Dasar dalilnya adalah keumuman sabda Nabi:

إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةُ سَأَلَ أَحَدُهُمْ عَنْ أَبَوَيْهِ وَعَنْ زَوْجَتِهِ وَوَلَدِهِ فَيُقَالُ: إِِنَّهُمْ لَمْ يَدْرَكُوْا مَا أَدْرَكْتَ، فَيَقُوْلُ: يَا رَبِّ إِنِّيْ عَمَلْتُ لِيْ وَلَهُمْ، فَيُؤْمَرُ بِإِلْحَاقِهِمْ بِهِ.

“Ketika ahli surga telah masuk ke dalam surga, salah satu dari mereka bertanya tentang Ayah, istri dan dan anaknya. Lalu dikatakan pada mereka: “Mereka (tertinggal) tidak bisa mencapai apa yang kamu peroleh”. Lantas ia berdoa: “Duhai Tuhanku! Sesungguhnya aku mengerjakan amal perbuatan baik untukku dan untuk mereka”. Kemudian diperintahkan agar mereka disamakan dengannya.”

Senada dengan apa yang disampaikan Syaikh Ahmad al-Shawiy, Syaikh Muhammad bin Umar Nawawi al-Jawiy al-Bantaniy (w. 1316 h) dalam Mirahu Labit li Kasyfi Makna al-Qur’an al-Majid, mengatakan:

إن المؤمن إذا كان عمله أكثر ألحق به من دونه في العمل ابنا كان أو أبا بسبب الإيمان كما هو منقول عن ابن عباس وغيره، والله تعالى أتبع الولد الوالدين في الإيمان ولم يتبعه أباه في الكفر بدليل أن من أسلم من الكفار حكم بإسلام أولاده الصغار، ومن ارتد من المسلمين لا يحكم بكفر ولده، كما روي أن النبي صلّى الله عليه وسلّم قال: «إنه تعالى يرفع ذرية المؤمن في درجته وإن كانوا دونه لتقر بهم عينه» ثم تلا هذه الآية. . فالآباء داخلون في اسم الذرية، ويلحق بالذرية من النسب الذرية بالسبب وهو المحبة، فإن كان معها أخذ علم أو عمل كانت أجدر، فتكون ذرية الإفادة كذرية الولادة
لقوله صلّى الله عليه وسلّم: «المرء مع من أحب».

“Sesungguhnya orang mukmin, jika amal kebaikannya lebih banyak. Maka orang mukmin yang amalnya lebih rendah disamakan dengannya, baik ia sebagai Anak atau Ayah disebabkan kesamaan iman yang dimiliki. Hal ini sebagaimana keterangan yang dikutip dari Ibnu Abbas ra dan lainnya yang mengatakan: “Allah ﷻ mengikut sertakan seorang Anak pada Ayah-ayahnya dalam iman, tidak mengikut sertakannya pada Ayah-ayahnya yang Kafir dengan sebuah dalil bahwa barang siapa memeluk agama Islam, meninggalkan kekafiran, maka anak-anaknya yang masih kecil (belum baligh) dihukumi Islam dan barang siapa yang Murtad (keluar dari Islam), maka anak-anaknya tidak dihukumi Kafir. Sebagaimana hadits yang disampaikan Nabi ﷺ, beliau ﷺ bersabda:

إِنَّهُ تَعَالٰى يَرْفَعُ ذُرِّيَّةَ المُؤْمِنِ في دَرَجَتِهِ، وإنْ كانُوا دُونَهُ لِتَقَرَّ بِهِمْ عَيْنُهُ

“Sesungguhnya Allah ﷻ akan mengangkat keturunan orang Mukmin pada tingkat derajat yang sepadan dengannya, sekalipun derajat mereka lebih rendah di bawahnya karena mereka menjadi penyejuk hatinya.(HR. Al-Bazzar dan Marduyah). Kemudian Nabi ﷺ membaca Ayat ini:

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ ۚ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِين.

“Dan orang-orang yang beriman, beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka (di dalam surga), dan Kami tidak mengurangi sedikit pun pahala amal (kebajikan) mereka. Setiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya. (QS. At-Tur: 21).

Maka para Ayah masuk dalam nama Dzuriyyah (keluarga) dan disamakan dengan Dzurriyyah (keluarga) dari hubungan nasab (tali kerabat) adalah Dzurriyah (keluarga) karena sebab yaitu hubungan cinta. Jika cinta disertai pembelajaran ilmu atau amal kebaikan, maka tentu hal ini yang lebih layak (disamakan). Dari itu Dzurriyyah Ifadah (keluarga sebab ilmu) sama dengan Dzurriyyah Wiladah (keluarga sebab nasab). Karena Nabi ﷺ bersabda:

المَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ

“Seseorang itu bersama dengan orang dicintainya.” (HR. Abu Daud dan Muslim).

Cinta, menurut Syaikh Ahmad al-Shawiy dan Syaikh Nawawiy al-Bantaniy bisa menjadikan seseorang mendapat derajat atau tingkatan yang sama dalam surga. Dikumpulkan bersama keluarga atau orang-orang yang dicintainya dengan catatan mereka masih satu dalam keimanan pada Allah ﷻ dan Rasul-Nya.

Bukankah orang yang benar-benar mencintai secara otomatis mengikuti pola pikir, cara pandang dan melakukan apa saja yang menjadi kebiasaan orang yang dicintai?

Ia akan rela berkorban dengan apa yang ia miliki demi menyenangkan orang yang dicintai dan selalu ingin berkumpul setiap saat bersama orang dicintai sekarang hingga kematian nanti. Begitu juga seorang santri sejati akan selalu bangga jika bisa mengikuti segala tindak langkah gurunya, memberikan apa saja yang ia miliki demi ingin memuliakan dan mengagungkan gurunya serta tidak ingin sang guru bersedih karenanya. Harapannya hanya satu, yaitu diakui sebagai santrinya dunia akhirat dan jika ia bisa masuk surga sama seperti sang guru, ia pun khawatir tidak bisa berkumpul satu tempat dengan gurunya. Oleh karena itu beliau berdua menjelaskan, jika orang yang hanya bermodal tali kerabat (hubungan jasmani ) saja bisa digabungkan tempatnya di surga, maka tentu orang yang mempunyai hubungan murid guru (hubungan rohani) akan lebih berhak mengikuti surga gurunya, sedangkan gurunya akan mengikuti surga gurunya meskipun derajat amal mereka tidak sama karena Ayah ilmu lebih mulia dibanding Ayah nasab”.

Begitulah isi syair yang dikutip oleh Syaikh Ahmad al-Mihi asy-Syibini an-Nu’maniy dalam Hasyiyah al-Mayhi asy-Syaibainiy Syarah kitab ar-Ramli li Sittina Masalah min al-Furudh al-Wajibah ala al-Madzhab asy-Syafi’iy:

فَذَاكَ مُرَبِّ الرُّوْحِ وَالرُّوْحُ جَــــوْهَرُ ۞ وَهَذَا مُرَبِّ الْجِسْمِ وَالْجِسْمُ كَالصَّدَفِ

“Dia (guru) pembimbing rohani, rohani adalah mutiara • Dia (orang tua) pembimbing jasmani, jasmani layaknya cangkang kerang.” Waallahu A’lamu

Penulis: Abdul Adzim

Referensi:

✍️ 𝑺𝒚𝒂𝒊𝒌𝒉 𝑨𝒉𝒎𝒂𝒅 𝒃𝒊𝒏 𝑴𝒖𝒉𝒂𝒎𝒎𝒂𝒅 𝒂𝒔𝒉-𝑺𝒉𝒂𝒘𝒊𝒚 𝒂𝒍-𝑴𝒊𝒔𝒉𝒓𝒊𝒚 𝒂𝒍-𝑲𝒉𝒂𝒍𝒘𝒂𝒕𝒊 𝒂𝒍-𝑴𝒂𝒍𝒊𝒌𝒊𝒚| 𝑯𝒂𝒔𝒚𝒊𝒂𝒉 𝒂𝒔𝒉-𝑺𝒉𝒂𝒘𝒊𝒚 𝒂𝒍𝒂 𝑻𝒂𝒇𝒔𝒊𝒓 𝑱𝒂𝒍𝒂𝒍𝒂𝒊𝒏| 𝑫𝒂𝒓𝒖 𝒂𝒍-𝑲𝒖𝒕𝒖𝒃 𝒂𝒍-𝑰𝒍𝒎𝒊𝒚𝒂𝒉, 𝒋𝒖𝒛 4 𝒉𝒂𝒍 95-96.

✍️ 𝑺𝒚𝒂𝒊𝒌𝒉 𝑴𝒖𝒉𝒂𝒎𝒎𝒂𝒅 𝒃𝒊𝒏 𝑼𝒎𝒂𝒓 𝑵𝒂𝒘𝒂𝒘𝒊 𝒂𝒍-𝑱𝒂𝒘𝒊𝒚 𝒂𝒍-𝑩𝒂𝒏𝒕𝒂𝒏𝒊𝒚| 𝑴𝒊𝒓𝒂𝒉𝒖 𝑳𝒂𝒃𝒊𝒕 𝒍𝒊 𝑲𝒂𝒔𝒚𝒇𝒊 𝑴𝒂𝒌𝒏𝒂 𝒂𝒍-𝑸𝒖𝒓’𝒂𝒏 𝒂𝒍-𝑴𝒂𝒋𝒊𝒅| 𝑫𝒂𝒓𝒖 𝒂𝒍-𝑲𝒖𝒕𝒖𝒃 𝒂𝒍-𝑰𝒍𝒎𝒊𝒚𝒂𝒉 𝒋𝒖𝒛 2 𝒉𝒂𝒍 459.

✍️ 𝑺𝒚𝒂𝒊𝒌𝒉 𝑨𝒉𝒎𝒂𝒅 𝒂𝒍-𝑴𝒊𝒚𝒉𝒊 𝒂𝒔𝒚-𝑺𝒚𝒊𝒃𝒊𝒚𝒏𝒊 𝒂𝒏-𝑵𝒖’𝒎𝒂𝒏𝒊𝒚| 𝑯𝒂𝒔𝒚𝒊𝒚𝒂𝒉 𝒂𝒍-𝑴𝒊𝒚𝒉𝒊 𝒂𝒔𝒚-𝑺𝒚𝒊𝒃𝒊𝒚𝒏𝒊 𝑺𝒚𝒂𝒓𝒂𝒉 𝒌𝒊𝒕𝒂𝒃 𝒂𝒓-𝑹𝒂𝒎𝒍𝒊 𝒍𝒊 𝑺𝒊𝒕𝒕𝒊𝒏 𝑴𝒂𝒔𝒂𝒍𝒂𝒉 𝒎𝒊𝒏 𝒂𝒍-𝑭𝒖𝒓𝒖𝒅𝒉 𝒂𝒍-𝑾𝒂𝒋𝒊𝒃𝒂𝒉 𝒂𝒍𝒂 𝒂𝒍-𝑴𝒂𝒅𝒛𝒉𝒂𝒃 𝒂𝒔𝒚-𝑺𝒚𝒂𝒇𝒊’𝒊𝒚| 𝑫𝒂𝒓𝒖 𝒂𝒍-𝑲𝒖𝒕𝒖𝒃 𝒂𝒍-𝑰𝒍𝒎𝒊𝒚𝒂𝒉 𝒉𝒂𝒍 5.

banner 700x350

No More Posts Available.

No more pages to load.