TENTANG KEWALIAN DUA ULAMA BANGKALAN

oleh -228 views

Beberapa hari ini beredar foto-foto kedua ulama sepuh dari Bangkalan Madura. Beliau berdua adalah KH. Zubair Muntashar pengasuh Pondok Pesantren Nurul Cholil Demangan Barat Bangkalan dan KH. Abdul Adzim Khalili Pondok Pesantren al-Falah as-Salafi al-Khalili Kepang.

KH. Abdul Adzim Kholili kanan, KH. Zubair Muntashar kiri.

Hadratusy Syaikh KH. Zubair Muntashar sering kali mengatakan, kalau KH. Abdul Adzim Adzim Khalili adalah seorang Waliyullah. Jika begitu, berarti Yai Zubair juga seorang Waliyullah, karena kata ulama, tidak ada yang bisa mengetahui tentang kewalian seseorang kecuali seorang wali juga.

لا يعرف الولي إلا الولي

Dulu, ketika bertepatan dengan hari raya Qurban, seorang teman santri Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil, selepas melaksanakan shalat Idul Adha di pesantren, dia berkata kepada salah satu temannya,

“Yuk nyabis ka Kiai Zubair, entar nyareh nasek. Biasanah neng dissah eberrik nasek.”

(Yuk, kita sowan ke Kiai Zubair, nyari nasi. Biasanya di sana dikasih nasi.) Katanya sambil tertawa.

Kemudian dia berangkat bersama teman yang lain ke PP Nurul Cholil. Seperti biasa, santri-santri secara bergilir satu persatu mushafahah (bersalaman) kepada KH. Zubair.

Ketika giliran santri tadi yang bersalaman, tiba-tiba Kiai berujar,

“Lee tak riah se nyareh nasek gik bhuruh. Dulih berik nasek riah.”

(Nah, ini dia yang nyari nasi tadi. Kasih dia nasi.) Perintah beliau kepada salah satu khadamnya.

Sontak, santri tadi kagetnya bukan main, karena pembicaraannya diketahui Kiai. Dia pun merasa malu bercampur takut.

KH. Abdul Adzim Kholili kanan, KH. Zubair Muntashar kiri.
KH. Zubair Muntashar pengasuh Pondok Pesantren Nurul Cholil Demangan Barat Bangkalan

Itulah salah satu karamah beliau yang pernah disaksikan oleh santri.

* * *

KH. Abdul Adzim Khalili Pondok Pesantren al-Falah as-Salafi al-Khalili Kepang.
KH. Abdul Adzim Khalili Pondok Pesantren al-Falah as-Salafi al-Khalili Kepang.

Tentang karamah KH. Abdul Adzim Khalili, beliau kerap kali bercerita di sela-sela pengajiannya.

Bahwa, ketika berada di dekat Ka’bah di Masjidil Haram Makkah, beliau pernah bertemu dengan seseorang yang penampilannya menjijikkan, pakainya kotor banyak sobekannya dan tubuhnya terdapat penyakit kulit seperti gatal-gatal.

Beliau KH. Abdul Adzim Adzim Khalili mushafahah (bersalaman) sambil mengecup tangan orang tadi. Lalu beliau meminta nasihat, dan orang itu berbisik dengan menyebut salah satu ayat al-Quran,

یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.” (QS. Ali ‘Imran 102).

Dan beliau mengatakan dengan berbaik sangka, kalau orang tadi itu adalah seorang wali. Sesuai dengan perkataan ulama, bahwa tanda-tanda seorang wali itu ada tiga;

شغله بالله وفراره إلى الله تعالى وهمه إلى الله عز وجل

“Selalu sibuk dengan Allah, lari kepada Allah dan tujuannya hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.”

متعنا الله بطول حياتهما وأمدهما بالصحة والعافية التامة وينفعنا ببركتهما وعلومهما وأسرارهما في الدارين أمين.

Oleh : Shofiyullah el-Adnany

banner 700x350

No More Posts Available.

No more pages to load.