KH. Kholil AG : Membangun Madura bukan Membangun di Madura

oleh -1.119 views

“Membangun Madura, bukan Membangun di Madura.” Itulah slogan yang menjadi ciri khas ulama madura di era 90-an melalui sebuah organisasi yang bernama BASRA (Badan Silaturrahmi Ulama Se-Pulau Madura), slogan tersebut bukan hanya slogan tanpa arti, namun lebih kepada bagaimana kebijakan pemerintah bisa memihak kepada rakyat.

Membangun Madura artinya mengajak seluruh elemen masyarakat utamanya pemerintah untuk menjadikan madura ini daerah yang maju dan berkembang dalam berbagai sektor. Sementara istilah jangan membangun di Madura ini artinya jangan hanya menjadikan madura ini sebagai konsumen, sebagai market ataupun pasar perdagangan yang pada akhirnya penduduk pribumi, penduduk madura ini tidak menikmati hasil kekayaan alamnya sendiri dan hanya dijadikan buruh atau pembantu bagi investor-investor yang mendirikan industri di Madura.

Dan  taukah siapa pencetus dari selogan tersebut ? beliau adalah KH. Kholil Bin KH. Zahrowi, atau yang biasa dikenal dengan sebutan KH. Kholil AG, siapa yang tak mengenalnya, namannya sama dengan sang kakek, yaitu seorang Konseptor berdirinya organisasi besar Nahdlatul Ulama, menjadi tokoh sentral di Indonesia, dan sekaligus menjadi gurunya para ulama Nusantara, dialah Syaichona Moh Cholil Bangkalan. Dan Perannyapun bagi masyarakat juga tidak jauh berbeda dengan peran kakeknya dahulu dalam memperjuangkan hak-hak rakyat, khususnya rakyat madura.

Hal itu terbukti atas pembelaan beliau, KH. Kholil AG yang menentang terhadap kebijakan pemerintah tentang industrialisasi Madura, yakni rencana pemerintah untuk membangun jembatan penghubung antara Madura dan Jawa pada masa orde baru. Sebenarnya beliau Bukan menentang keberadaannya, akan tetapi karena kepekaan beliau kepada rakyat melihat bahwa masyarakat Madura belum siap berhadapan langsung dengan globalisasi dan kapitalisme. “Sebelum jembatan dibangun, rakyat Madura harus diberdayakan dulu.” Begitu menurutnya

Ketika  isu akan pembangunan dan kebijakan Madura semakin kuat, posisi beliau yang saat itu menjabat sebagai Ketua PCNU Bangkalan menjadi tergugah untuk mengambil langkah antisipasi dan merapatkan barisan Ulama di Madura. menurutnya “Jika dibiarkan begitu saja, rakyat Madura hanya akan menjadi penonton dari semua pembangunan tersebut.”

Maka beliau membuat sebuah wadah yang bernama BASRA (Badan Silaturahmi Ulama Se-Pulau Madura), sebuah lembaga yang juga berperan sebagai think tank (wadah pemikir) dalam merumuskan konsep wilayah yang tidak hanya asal bangun. Beliau yang juga berstatus sebagai kiai di Bangkalan memilih berada di barisan terdepan dalam membela rakyat Madura. Karena menurutnya “Jabatan Kiai itu adalah jabatan yang diberikan oleh rakyat, Bukan jabatan yang diberikan oleh pemerintah, Jadi saya harus membela rakyat.” Pikir beliau

Sehingga dari semangat membela masyarakat madura tersebut muncullah Slogan (Bangun Madura, Jangan Membangun di Madura). Slogan tersebut beliau utarakan karena sosok beliau yang tegas, berwibawa dan sangat mencintai tanah kelahirannya, bahkan menurut D. Zawawi Imron, seorang sastrawan Madura, “KH. Kholil AG adalah sosok pemimpin yang tak hanya islami dan madurawi, Tetapi juga sosok yang indonesiawi dan manusiawi. Beliau tidak Madura sentris, Kiai Kholil AG sosok yang tak hanya berpikir tentang Madura, tapi Madura sebagai bagian Indonesia,” jelas KH. D. Zawawi Imron.

Tidak heran jika beliau memiliki gagasan dan ideologi seperti demikian, karena sebelum itu, sejak masa mudanya KH. Kholil AG telah menempuh berbagai dimensi kehidupan dan dinamika sosial sehingga kepekaanya terhadap masyarakat sangat kuat, khususnya terhadap masyarakat madura. Di masa mudanya Setelah mondok, Beliau memulai debut organisasi dari IPNU (ikatan pelajar Nahdlatul Ulama) yang merupakan sayap NU. Dikala itu, beliau mulai memperlihatkan gaya kepemimpinan yang luar biasa, integritas dan dedikasinya dalam menjaga nama baik lembaga betul-betul dijaga.

Usai memimpin IPNU, KH. Kholil AG mulai dipercaya untuk memegang estafet kepemimpinan PCNU Bangkalan pasca KH. Abdul Fatah. Walau memiliki struktur trah yang begitu tinggi dan dominasi wibawa yang begitu luas dari sang kakek yaitu Syaichona Moh. Cholil, beliau dalam memimpin NU selalu mengedepankan sikap-sikap pemimpin yang transparan, akomodatif dan setara.

Dan Pada tahun 70-an, KH. Moch. Kholil AG melalui partai NU mulai memasuki dunia perpolitikan. Untuk pertama kalinya pada periode 1971-1977 M. KH. Kholil AG menjabat sebagai Ketua DPRD Bangkalan mewakili partai NU yang mampu meraup 23 kursi. Setelah periode pertama itu, beliau tetap diminta untuk duduk dilembaga legistalif, namun pada periode ini beliau mewakili Partai Persatuan Pembangunan (PPP), karena adanya kebijakan fusi oleh rezim Orde Baru. KH. Kholil AG melepas jabatannya sebagai anggota DPRD pada tahun 1987 M.

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan waktu itu, Prof Dr. Mahfud MD., S.H., S.U menilai bahwa KH. Kholil AG adalah pemimpin yang terbuka terhadap pikiran-pikiran baru dan pola hubungan yang lebih demokratis. Beliau tidak pernah memanfaatkan posisinya untuk kepentingan pribadi dan bisa memosisikan profesional pada posisi yang tepat.

Selain itu, kiai Kholil AG juga tidak pernah melupakan pentingnya sebuah pendidikan bagi generasi selanjutnya, terlebih bagi masyarakat madura. Itu terbukti dengan didirikannya PP. Syaichona Cholil II rintisan beliau sendiri, meskipun di samping itu beliau sibuk dengan segala urusan kepemerintahan dan kemasyarakatan tapi beliau tidak pernah lupa akan pentingnya pendidikan, terlebih bagi anak-anak madura.

Dan hal itu sangat mungkin sekali melekat dalam benak beliau, karena dari sejak kecil beliau tidak pernah lepas dari dunia pesantren. Sejak kecil KH. Kholil AG mengenyam pendidikan dari para keluarganya di pondok pesantren Syaichona Moh. Cholil dan Al-Hidayah Jangkebuan yang saat itu diasuh oleh KH. Abdul Hadi. Usai menjalani pendidikan di lingkungan keluarga, beliau meneruskan pengembaraannya dalam menuntut ilmu ke PP. Sidogiri. Di pesantren inilah beliau mulai berinteraksi dengan lingkungan yang lebih luas. Setelah dari PP. Sidogiri, KH. Kholil AG melanjutkan masa belajarnya ke PP. Zainul Hasan Genggong yang didirikan oleh KH. Zainul Abidin.

Kemudian untuk yang terakhir kalinya beliau melanjutkan pengembaraannya ke PP. Darunnajah Bendo Kediri. di pesantren inilah beliau mendapat gelar AG, AG sendiri adalah salah satu nomor kepolisian wilayah Kediri, tambahan ini tak lepas dari peranan beliau yang ikut memberantas PKI di daerah tersebut. Namun, disatu riwayat gelar AG beliau didapatkan pada saat nyantri di PP. Sidogiri. Hal itu karena sosok KH. Kholil AG yang tampan maka dijuluki AG yang berarti Agus Ganteng. Menurut sebagian pendapat, wajah KH. Kholil AG mirip dengan wajah sang kakek yakni Syaichona Moh. Cholil.

Selesai nyantri di Kediri, KH. Kholil AG memulai perjuangan dakwah yang sesungguhnya saling bahu membahu bersama saudara-saudaranya yang semuanya menjadi tokoh panutan masyrakat yakni KH. Fathur Rozi, KHS. Abdullah Schal, Nyai Hj. Robi’ah dan KH. Kholilurrohman yang lebih masyhur dengan panggilan Ra Lilur. beliau merupakan putra ke empat dari pasangan KH. Zahrowi dan Nyai Hj. Romlah yang masih berstatus cucu Syaichona Moh. Cholil. Beliau dilahirkan pada hari Minggu tanggal 1 Desember 1940 M. di Kelurahan Demangan Bangkalan,  dan wafat Tanggal 5 November 1994 M. Beliau dimakamkan di kompleks pemakaman Martajasah yang berada disekitar area makam sang kakek, yakni Syaichona Moch. Kholil dan juga majlis keluarga yang lain.

 

Oleh : Moh. Fakhrullah

Sumber :

http://kabarmadura.blogspot.com/2007/08/kiai-pembela-rakyat-yang-terbuka-dan.html

https://www.syaichona.net/sejarah/

https://www.caknun.com/2019/madura-sinau-bareng-mengerti-jati-diri-dari-kh-kholil-ag/

https://www.facebook.com/manurulcholil2/photos/kiai-sapujagat-pembela-rakyatkh-moch-kholil-ag-pendiri-pp-syaichona-moch-kholil-/945729119172350/

 

 

banner 700x350

No More Posts Available.

No more pages to load.