HATI MANUSIA DALAM RAGANYA LAKSANA RAJA DALAM KERAJAANNYA

oleh -4,850 views

Dalam sebuah petikan hadits Rasulullah ﷺ bersabda:

أَلاَ وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى أَلاَ وَإِنَّ حِمَى اللَّهِ مَحَارِمُهُ أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلُحَتْ صَلُحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ ( رَوَاهُ مُتّفَقٌ عَلَيْهِ)

Artinya: Ingatlah, sesungguhnya bagi setiap raja mempunyai daerah larangan. Larangan Allah ﷻ adalah hal yang diharamkan oleh Allah ﷻ, ingatlah bahwa sesungguhnya dalam jasad terdapat segumpal daging, jika baik maka baiklah seluruhnya, jika jelek maka jeleklah seluruh tubuhnya, ingatlah itu adalah hati (HR. Muttafaqun Alaih).

Terkait dengan masalah hati yang ditermaktub dalam hadits shohih di atas, Imam al-Ghozali (w. 505 h) dalam kitab Ihya’ Ulumiddin telah menganalogikan hubungan antara hati dan raga manusia dengan begitu indahnya. Menurut beliau, hubungan antara hati dan raga manusia ibarat seorang raja dalam memimpin kerajaannya. Berikut simak pemaparan beliau:

مثل نفس الإنسان في بدنه أعني بالنفس اللطيفة المذكورة كمثل ملك في مدينته ومملكته فإن البدن مملكة النفس وعالمها ومستقرها ومدينتها، وجوارحها وقواها بمنزلة الصناع والعملة، والقوة العقلية المفكرة له كالمشير الناصح والوزير العاقل. والشهوة له كالعبد السوء يجلب الطعام والميرة إلى المدينة، والغضب والحمية له كصاحب الشرطة. والعبد الجالب للميرة كذاب مكار خداع خبيث يتمثل بصورة الناصح وتحت نصحه الشر الهائل والسم القاتل، وديدنه وعادته منازعة الوزير الناصح في آرائه وتدبيراته حتى لا يخلو من منازعته ومعارضته ساعة،

Perumpamaan hati manusia dalam raganya—hati lembut yang bersifat ketuhanan dan kerohanian yang disebut di muka—bagaikan raja di dalam kota dan di kerajaannya. Raga sebagai wilayah kekuasaan, alam, tempat tinggal dan kotanya, sedangkan segenap organ tubuh dan kekuatannya ibarat pengusaha dan pekerja (buruh). Kekuatan akal yang digunakan berfikir laksana panglima tertinggi yang handal dalam berikan nasehat dan menteri yang cendikiawan sedangkan syahwat (hawa nafsu)nya ibarat budak yang jelek perangainya yang menjajakan makanan dan sarapan ke kota. Adapun amarah dan kecongkaan hati (sombong) ibarat keamanan kota yang bertugas di jalan.

Maksud dari budak yang jelek penjajakan makanan adalah seorang pembohong, penipu, licik dan jelek perangainya yang diungkapkan laksana penasehat yang isi nasehatnya hanya bombastis provokatif, racun yang mematikan, sifat dan kebiasaanya selalu bertentangan dengan seorang menteri yang bijak dalam memberikan nasihat dan memberikan ide sehingga orang itu setiap saat selalu berambisi menentang dan melawan kebijakan sang menteri.

كما أن الوالي في مملكته إذا كان مستغنياً في تدبيراته بوزيره مستشيراً له ومعرضاً عن إشارة هذا العبد الخبيث، مستدلاً بإشارته في أن الصواب في نقيض رأيه، وأدب صاحب شرطته وساسه لوزيره وجعله مؤتمراً له مسلطاً من جهته على هذا العبد الخبيث وأتباعه وأنصاره، حتى يكون العبد مسوساً لا سائساً، ومأموراً مدبراً لا أميراً مدبراً، استقام أمر بلده وانتظم العدل بسببه؛

Seperti seorang penguasa dalam memimpin kerajaan, ketika ia telah percaya penuh pada saran dan arahan menterinya yang selalu memberikan ide cemerlang dan menolak atas segala opini yang coba dilontarkan oleh budak yang jelek perangainya tersebut—dengan selalu berpegangan pada gagasan sang menteri bahwa yang benar adalah menyalahi pendapat si budak dan mendidik para petugas keamanan serta pejabat lainnya agar patuh pada sang menteri sembari menjadikan sang menteri sosok panutan untuk mengendalikan propaganda si budak, tunduk dan menjadi pelindungnya sehingga budak tersebut menjadi patner politik bukan oposisi. Menjadi sosok yang ikut pada perintah dan mudah diatur bukan malah menjadi pemimpin yang mengatur—maka akan tegak kokoh urusan dalam negeri dan tertata rapi keadilannya.

فكذا النفس متى استعانت بالعقل، وأدبت بحمية الغضب، وسلطتها على الشهوة، واستعانت بإحداهما على الأخرى تارة بأن تقلل مرتبة الغضب وغلوائه بمخالفة الشهوة واستدراجها، وتارة بقمع الشهوة وقهرها بتسليط الغضب والحمية عليها وتقبيح مقتضياتها، اعتدلت قواها وحسنت أخلاقها، ومن عدل عن هذه الطريقة كان كمن قال الله تعالى فيه “أفرأيت من اتخذ إلهه هواه وأضله الله على علم” وقال تعالى “واتبع هواه فمثله كمثل الكلب إن تحمل عليه يلهث أو تتركه يلهث” وقال عز وجل فيمن نهى النفس عن الهوى “وأما من خاف مقام ربه ونهى النفس عن الهوى فإن الجنة هي المأوي” وسيأتي كيفية مجاهدة هذه الجنود وتسليط بعضها على بعض في كتاب رياضة النفس إن شاء الله تعالى

Demikian juga hati manusia, saat hatinya kerap meminta bantuan pada keputusan akal, terlatih menahan kobaran amarah dan menguasai syahwat (hawa nafsu)nya serta sewaktu-waktu meminta bantuan pada salah satu dari keduanya (hawa nafsu dan amarah) semisal untuk meredam tensi dan luapan amarah dengan memasukan syahwat (hawa nafsu) untuk melawannya. Di waktu yang lain untuk mengendalikan dan menekan syawhat (hawa nafsu) diperlukan kekuatan dan kobaran amarah sembari melumpuh tuntutan-tuntutan syawhat (hawa nafsu). Maka akan stabil kekuatan hati dan indah akhlaknya.

Dan barang siapa meninggalkan aturan ini, maka ia termasuk orang yang difirmankan Allah ﷻ dalam al-Qur’an:

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah ﷻ membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya (QS. Al-Jasiyah: 23).

وَاتَّبَعَ هَوٰىهُ ۚ فَمَثَلُهٗ كَمَثَلِ الْكَلْبِ ۚ اِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ اَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ۗ

“Dan mengikuti keinginannya (yang rendah), maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya dijulurkan lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia menjulurkan lidahnya (juga).” (QS. Al-A’raf: 176).

Allah juga ﷻ berfirman tentang orang yang menahan diri dari hawa nafsunya:

وَاَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهٖ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوٰى ۙ فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” (QS. An-Nazi’at: 40-41).

Sedangan kiat memfungsikan dengan sungguh-sungguh tentara-tentara ini dan meredam sebagian hawa nafsu dengan sebagian yang lain akan dijelaskan pada kitab pembahasan masalah melatih hawa nafsu mendatang. Insyaallah.

Waallahu A’lamu

Penulis : Abdul Adzim

Publisher : Fakhrul

✍️ 𝑯𝒖𝒋𝒋𝒂𝒕𝒖 𝒂𝒍-𝑰𝒔𝒍𝒂𝒎 𝑨𝒃𝒖 𝑯𝒂𝒎𝒊𝒅 𝑴𝒖𝒉𝒂𝒎𝒎𝒂𝒅 𝒃𝒊𝒏 𝑴𝒖𝒉𝒂𝒎𝒎𝒂𝒅 𝒂𝒍-𝑮𝒉𝒂𝒛𝒂𝒍𝒊 𝒂𝒕𝒉-𝑻𝒉𝒖𝒔𝒊𝒚| 𝑰𝒉𝒚𝒂’ 𝑼𝒍𝒖𝒎𝒊𝒅𝒅𝒊𝒏| 𝑫𝒂𝒓𝒖 𝒂𝒍-𝑲𝒖𝒕𝒖𝒃 𝒂𝒍-𝑰𝒍𝒎𝒊𝒚𝒂𝒉 𝒋𝒖𝒛, 3 𝒉𝒂𝒍𝒂𝒎𝒂𝒏 8-9.

banner 700x350

No More Posts Available.

No more pages to load.