KENAPA KITA HARUS BERSHOLAWAT PADA NABI MUHAMMAD ﷺ?

oleh -1,389 views

Syaichona.net- Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar al-Bantaniy al-Jawiy (w. 1315 H) dalam kitab Kasyifati as-Saja fi Syarhi Safinati an-Naja fi Usuli ad-Din wa al-Fiqhi mengatakan:

[مسألة] قال إسماعيل الحامدي: فإن قيل إن الرحمة للنبي حاصلة فطلبها تحصيل الحاصل. فالجواب: أن المقصود بصلاتنا عليه طلب رحمة لم تكن فإنه ما من وقت إلا وهناك رحمة لم تحصل له، فلا يزال يترقى في الكمالات إلى ما لا نهاية له فهو ينتفع بصلاتنا عليه على الصحيح، لكن لا ينبغي أن يقصد المصلي ذلك بل يقصد التوسل إلى ربه في نيل مقصوده، ولا يجوز الدعاء للنبي صلى الله عليه وسلّم بغير الوارد كرحمه الله بل المناسب واللائق في حق الأنبياء الدعاء بالصلاة والسلام وفي حق الصحابة والتابعين والأولياء والمشايخ بالترضي وفي حق غيرهم يكفي أي دعاء كان انتهى.

(Sebuah Masalah) Ismail al-Hamidiy [¹] (w. 1316 h) berkata, Apabila ada pertanyaan: “Sesungguhnya rahmat untuk Nabi Muhammad ﷺ telah terwujud sehingga memintakan rahmat untuknya berarti memintakan sesuatu yang telah terwujud (Tahshilu al-Hasil)?”

Maka jawaban untuk pertanyaan ini adalah: “Sesungguhnya tujuan kita memintakan rahmat untuk Nabi Muhammad ﷺ adalah memintakan rahmat yang belum terwujud untuknya. Sepanjang waktu, selama masih ada rahmat yang belum terwujud. Maka kita dianjurkan memintakan rahmat untuknya dan dengan permintaan rahmat tersebut, derajat Nabi Muhammad ﷺ selalu naik pada derajat kesempurnaan sampai tingkatan yang tidak ada batasnya.

Menurut pendapat yang shahih Nabi Muhammad ﷺ dapat menerima manfaat dari bacaan sholawat yang kita baca untuknya. Akan tetapi disarankan, orang yang bersholawat hendaknya tidak berniat memberi manfaat sholawat kepada Nabi Muhammad ﷺ, melainkan hendaknya ia berniat menjadikan Nabi Muhammad ﷺ sebagai Tawasul (perantara) kepada Allah ﷻ dalam memperoleh apa yang diinginkannya. Tidak diperkenankan mendoakan Nabi Muhammad ﷺ dengan kalimat doa yang tidak Warid (tidak ada penjelasan baik dari al-Quran ataupun Hadits, seperti kalimat doa: رحمه الله (semoga Allah ﷻ merahmatinya). Akan tetapi, yang pantas dan yang layak bagi para Nabi adalah mendoakan mereka dengan sholawat dan salam, seperti: الصلاة والسلام (semoga sholat dan salam selalu tercurahkan padanya) atau صلى الله عليه وسلّم (semoga Allah ﷻ senantiasa mencurahkan rahmat dan salam kepadanya). Bagi para Sahabat, Tabi’in, para Wali, dan para Syaikh dalam mendoakan mereka menggunakan kalimat: رضي الله عنه (semoga Allah ﷻ meridhai-nya). Sementara bagi selain mereka semua cukup mendoakannya dengan bentuk kalimat doa apa saja.

Al-Imam Fakhruddin bin Dhiya’uddin Umar ar-Raziy dalam Tafsirnya Tafsir al-Kabir atau Mafatihu al-Ghaib juga pernah ditanya perihal yang sama:

إذا صلى الله وملائكته عليه فأي حاجة إلى صلاتنا؟ نقول الصلاة عليه ليس لحاجته إليها وإلا فلا حاجة إلى صلاة الملائكة مع صلاة الله عليه، وإنما هو لإظهار تعظيمه، كما أن الله تعالى أوجب علينا ذكر نفسه ولا حاجة له إليه، وإنما هو لإظهار تعظيمه منا شفقة علينا ليثيبنا عليه، ولهذا قال عليه السلام: ” من صلى علي مرة صلي الله عليه عشرا “.

“Bila Allah ﷻ dan para Malaikatnya telah bersholawat pada Nabi Muhammad ﷺ, lalu apa gunanya sholawat kita?

Kami menjawab: Membaca sholawat pada Nabi Muhammad ﷺ bukan berarti beliau butuh pada sholawat itu. Kalau tidak seperti itu, maka apa gunanya sholawat para Malaikat, jika Allah ﷻ telah membacakan sholawat pada beliau. Sebenarnya, sholawat kita pada Nabi Muhammad ﷺ untuk menampakan pengagungan pada beliau sebagaimana Allah ﷻ mewajibkan pada kita untuk senantiasa berdzikir pada Allah ﷻ sekali pun Allah ﷻ tidak butuh pada dzikir kita akan tetapi hal itu untuk menampakan pengagungan kita pada-Nya sebagai belas kasih pada kita agar kita bisa memperoleh pahala atas dzikir yang kita lakukan. Karena itu Nabi Muhammad ﷺ bersabda: “Barang siapa yang bersholawat padaku satu kali, Allah ﷻ akan bersholawat padanya sepuluh kali.”
________
[1] Al-Imam al-Alamah Ismail bin Musa bin Utsman bin Muhammad bin Judah al-Azhari al-Mishriy al-Ahmadiy dikenal dengan sebutan Abu al-Fida’ al-Hamidiy (1226 H – 1316 H) atau 1811 M – 1898 M) penulis kitab Hasyiyah ala Syarhi al-Kafrawiy ala al-Jurumiyah.

Penulis : Abdul Adzim

Publisher : Fakhrul

Referensi:

✍️ Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar al-Jawiy| Qutu al-Habib al-Gharib, Tausyikh ala Fathu al-Qarib al-Mujib| Daru al-Kutub al-Ilmiyah 7-8.

✍️ Al-Imam Fakhruddin bin Dhiya’uddin Umar ar-Raziy| Tafsir Mafatihu al-Ghaib| Daru al-Fikr juz 25 hal 229.

banner 700x350

No More Posts Available.

No more pages to load.