GERHANA MATAHARI DAN BULAN, SALAH SATU TANDA KEESAAN DAN KEBESARAN ALLAH ﷻ

oleh -1,369 views

Syaichona.net- Dalam pandangan Islam, gerhana baik matahari atau bulan, merupakan fenomena keajaiban alam yang menunjukkan tanda-tanda kebesaran Allah ﷻ.

Banyak hadits-hadits Nabi ﷺ yang menyatakan hal tersebut di antaranya:

حَدَّثَنَا أَصْبَغُ، قَالَ: أَخْبَرَنِي ابْنُ وَهْبٍ، قَالَ: أَخْبَرَنِي عَمْرٌو، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْقَاسِمِ، حَدَّثَهُ عَنْ أَبِيهِ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ ـ رضى الله عنهما ـ أَنَّهُ كَانَ يُخْبِرُ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم‏.‏ ‏«إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لاَ يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ، وَلَكِنَّهُمَا آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ، فَإِذَا رَأَيْتُمُوهَا فَصَلُّوا». (رواه البخارى)

Artinya: “Asbagh telah bercerita kepada kami bahwasanya ia berkata: Ibnu Wahab telah bercerita kepadaku, ia berkata: telah bercerita kepadaku Umar dari Abdur Rahman bin Qasim bahwa ia telah bercerita kepadanya dari ayahnya. Dari Ibnu Umar ra, bahwasanya Umar mendapat berita dari Nabi ﷺ: “Sesungguhnya Matahari dan Bulan tidak mengalami gerhana karena kematian atau hidupnya seseorang, tapi keduanya merupakan tanda diantara tanda-tanda kebesaran Allah ﷻ. Jika kalian melihat keduanya (gerhana), maka shalatlah.” (HR. Al-Bukhari)

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا هَاشِمُ بْنُ القَاسِمِ، قَالَ: حَدَّثَنَا شَيْبَانُ أَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنْ زِيَادِ بْنِ عِلاَقَةَ، عَنِ المُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ، قَالَ: كَسَفَتِ الشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ مَاتَ إِبْرَاهِيمُ، فَقَالَ النَّاسُ: كَسَفَتِ الشَّمْسُ لِمَوْتِ إِبْرَاهِيمَ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ الشَّمْسَ وَالقَمَرَ لاَ يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ فَصَلُّوا، وَادْعُوا اللَّهَ» (رواه البخارى).

Artinya: Abdullah bin Muhammad telah menceritakan kepada kami, ia berkata: Hasyim bin al-Qasim telah menceritakan kepada kami, ia berkata: Syaiban Abu Mu’awiyyah dari Ziyad bin ‘Alaqah dari al-Mughirah bin Syu’bah telah menceritakan kepada kami, ia berkata: “Pada masa Rasulullah ﷺ pernah terjadi gerhana Matahari, yaitu di hari meninggalnya putra beliau, Ibrahim. Orang-orang lalu berkata, “Gerhana matahari ini terjadi karena meninggalnya Sayyid Ibrahim!” Maka Rasulullah ﷺ pun bersabda: “Sesungguhnya matahari dan bulan tidak akan mengalami gerhana disebabkan karena mati atau hidupnya seseorang. Jika kalian melihat gerhana, maka shalat dan berdoalah kalian kepada Allah ﷻ.” (HR. Al-Bukhari).

Al-Hafidz Ahmad bin Ali bin Hajar al-‘Asqolaniy (w. 852 h) dalam Fathu al-Bari bi Syarhi Shahih al-Bukhari menjelaskan:

وذلك أن ابنا للنبي – صلى الله عليه وسلم – يقال له إبراهيم مات فقال الناس في ذلك ” وفي رواية مبارك بن فضالة عند ابن حبان ” فقال الناس : إنما كسفت الشمس لموت إبراهيم ” ، ولأحمد والنسائي وابن ماجه وصححه ابن خزيمة وابن حبان من رواية أبي قلابة عن النعمان بن بشير قال انكسفت الشمس على عهد رسول الله – صلى الله عليه وسلم – فخرج فزعا يجر ثوبه حتى أتى المسجد ، فلم يزل يصلي حتى انجلت ، فلما انجلت قال : إن الناس يزعمون أن الشمس والقمر لا ينكسفان إلا لموت عظيم من العظماء ، وليس كذلك الحديث.

Kronologi dari hadits-hadits itu bermula dari peristiwa wafatnya putra Nabi ﷺ yang bernama Sayyid Ibrahim, lalu orang-orang membicarakan hal itu. Dalam satu riwayat Mubarak bin Fudhalah milik Ibnu Hibban, beliau berkata: Pada waktu orang-orang berkata: “Gerhana Matahari terjadi disebabkan wafatnya Sayyid Ibrahim (putra Nabi ﷺ)”. Sementara dalam hadits riwayat Ahmad, an-Nasa’i dan Ibnu Majah yang shahihkan oleh Ibnu Khuzaimah Ibnu Hibban dari riwayat Abi Qalabah dari an-Nu’man bin Bashir, beliau berkata; “Di zaman Rasulullah ﷺ pernah terjadi gerhana—lalu Nabi keluar sembari menyeret sarungnya karena terkejut (tergesa-gesa), hingga sampailah Nabi ﷺ di masjid. Lantas beliau melaksanakan sholat hingga hilanglah gerhana itu”. Ketika gerhana telah sirna, orang-orang menyangka sesungguhnya matahari dan bulan tidaklah terjadi gerhana kecuali dikarenakan kematian agung dari orang-orang yang agung. Padahal bukan seperti itu. Al-hadits.

وفي هذا الحديث إبطال ما كان أهل الجاهلية يعتقدونه من تأثير الكواكب في الأرض ، وهو نحو قوله في الحديث الماضي في الاستسقاء يقولون مطرنا بنوء كذا قال الخطابي : كانوا في الجاهلية يعتقدون أن الكسوف يوجب حدوث تغير في الأرض من موت أو ضرر ، فأعلم النبي – صلى الله عليه وسلم – أنه اعتقاد باطل ، وأن الشمس والقمر خلقان مسخران لله ليس لهما سلطان في غيرهما ولا قدرة على الدفع عن أنفسهما . وفيه ما كان النبي – صلى الله عليه وسلم – عليه من الشفقة على أمته وشدة الخوف من ربه.

Dalam hadits ini terdapat bantahan terhadap orang-orang Jahiliyah yang berkeyakinan bahwa bintang-bintang (di langit) dapat memberi pengaruh negatif pada Bumi sebagaimana sabda beliau di hadits yang lalu dalam pembahasan sholat Istisqa’ (permohonan hujan) mereka mengatakan: “Kami diberi hujan karena bintang ini dan itu”. Searti dengan pernyataan di atas, Syaikh al-Khathobiy mengatakan: “Orang-orang Jahiliyah berkeyakinan bahwa gerhana dapat menyebabkan perubahan negatif di muka Bumi, berupa kematian dan marabahaya. Lantas Nabi ﷺ memberitahukan (pada mereka) bahwa hal tersebut adalah keyakinan yang keliru. Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua makhluk yang tunduk pada Allah ﷻ yang tidak memiliki kekuatan selain itu dan punya kekuasaan menolak diri mereka. Dalam hadits ini juga mengungkapkan kepribadian Nabi ﷺ berupa kemurahan hati beliau pada umatnya dan sangatnya rasa takut Nabi ﷺ pada Tuhannya.

وقد ذكر جمهور أهل السير أنه مات في السنة العاشرة من الهجرة ، فقيل في ربيع الأول وقيل في رمضان وقيل في ذي الحجة ، والأكثر على أنها وقعت في عاشر الشهر وقيل في رابع عشرة ، ولا يصح شيء منها على قول ذي الحجة لأن النبي – صلى الله عليه وسلم – كان إذ ذاك بمكة في الحج ، وقد ثبت أنه شهد وفاته وكانت بالمدينة بلا خلاف.

Mayoritas ahli sejarah Islam menyebutkan: Bahwa Sayyid Ibrahim wafat pada tahun 10 Hijriyah, ada yang mengatakan wafat Sayyid Ibrahim tepat pada bulan Rabi’ul Awal, Ramadhan atau Dzul Hijjah dan pendapat yang terbanyak Sayyid Ibrahim wafat pada usai 10 bulan. Ada juga yang mengatakan pada usia 14 bulan. Sementara pendapat yang mengatakan bahwa Sayyid Ibrahim wafat pada bulan Dzul Hijjah, tidaklah benar karena pada bulan itu Rasulullah ﷺ sedang berada di Makah melaksanakan ibadah haji dan telah disepakati bahwa saat wafatnya Sayyid Ibrahim, Rasulullah ﷺ berada di Madinah turut menyaksikan kepergian putranya.

Senada dengan apa yang disampaikan Syaikh Ibnu Hajar al-Asqolaniy, Syaikh Manna’ bin Khalil al-Qaththan (w. 1420 h) dalam Tarikh at-Tasyrik al-Islamiy saat memberi keterangan hadits di atas menambahkan: Pada tahun 10 Hijriyah, tepat pada wafatnya Sayyid Ibrahim disyari’atkan sholat gerhana secara berjema’ah. Adapun alasan kenapa orang-orang pada masa itu berkata:

إنها كسفت الشمس لموت إبراهيم

“Bahwa terjadinya gerhana Matahari dikarenakan wafatnya Sayyid Ibrahim.”

Karena gerhana Matahari terjadi (masa itu) bukan pada waktunya, diluar prediksi perhitungan bintang. Di mana telah terjadi gerhana Matahari—menurut penuturan Abu Daud—pada ke-10 atau ke-4 dari bulan Rabi’ul Awal, yang seharusnya terjadi di hari ke-14 dari bulan Rabi’ul Awal. Karena itu mereka menyimpulkan bahwa kejadian gerhana pada masa itu disebabkan peristiwa yang agung. Nabi ﷺ pun telah menolak keyakinan mereka dan mengkabarkan pada mereka bahwa fenomena terjadinya gerhana baik Matahari atau Bulan merupakan salah satu tanda dari tanda-tanda Keesaan dan Kekuasaan Allah ﷻ dan mengingatkan pada hamba-hamba-Nya akan kerusakaan dan kesombongan yang mereka perbuat. Waallahu A’lamu

Penulis : Abdul Adzim

Publisher : Fakhrul

Referensi:

✍️ Al-Hafidz Ahmad bin Ali bin Hajar al-‘Asqolaniy| Fathu al-Bari bi Syarhi Shahih al-Bukhari| Daru al-Ma’rifah juz 2 hal 528-529

✍️ Syaikh Manna’ bin Khalil al-Qaththan| Tarikh at-Tasyrik al-Islamiy| Maktabah Wahbah hal 130-131.

banner 700x350

No More Posts Available.

No more pages to load.