PARENTING ALA IMAM AL-GHAZALI (4)

oleh -117 views

 

وينبغي أن يعود أن لا يبصق في مجلسه ولا يمتخط ولا يتثاءب بحضرة غيره ولا يستدبر غيره ولا يضع رجلا على رجل ولا يضع كفه تحت ذقنه ولا يعمد رأسه بساعده فإن ذلك دليل الكسل ويعلم كيفية الجلوس ويمنع كثرة الكلام ويبين له أن ذلك يدل على الوقاحة وأنه فعل أبناء اللئام ويمنع اليمين رأسا صادقا كان أو كاذبا حتى لا يعتاد ذلك في الصغر

Sebaiknya, biasakan anak tidak meludah atau membuang ingus sembarangan. Tidak menguap di depan orang (kecuali ditutup tangan), tidak membelakangi orang lain, tidak meletakkan kaki di atas kaki, tidak meletakkan dagu di telapak tangan, dan tidak meletakkan kepala di lengan, karena hal itu menunjukkan kemalasan. Ajari anak cara duduk yang benar (seperti duduk ketika sholat).

Anak harus dilarang banyak bicara. Jelaskan padanya bahwa banyak bicara menunjukkan tidak punya malu dan kelakuan anak nakal. Jangan sampai anak bersumpah serapah, meskipun ia benar, apalagi salah, agar tidak menjadi kebiasaan sejak kecil.

ويمنع أن يبتديء بالكلام ويعود أن لا يتكلم إلا جوابا وبقدر السؤال وأن يحسن الاستماع مهما تكلم غيره ممن هو أكبر منه سنا وأن يقوم لمن فوقه ويوسع له المكان ويجلس بين يديه ويمنع من لغو الكلام وفحشه ومن اللعن والسب ومن مخالطة من يجري على لسانه شيء من ذلك فإن ذلك يسري لا محالة من القرناء السوء وأصل تأديب الصبيان الحفظ من قرناء السوء.

Tanamkan pada anak untuk tidak memulai pembicaraan. Biasakan untuk berbicara hanya sekedar menjawab pertanyaan secukupnya saja. Ajari anak untuk menjadi pendengar yang baik ketika orang lain sedang bicara, apalagi yang sedang bicara adalah orang yang lebih tua. Ajari anak untuk berdiri ketika ada orang yang lebih tinggi kedudukannya (misalnya guru atau orang tuahkan), kemudian memberi tempat dan duduk di depannya dangan sopan.

Anak harus dilarang bicara tentang hal yang tidak berguna, bicara kotor, mengumpat, dan jauhkan dari teman yang suka berbicara kotor sebab kebiasaan itu pasti menular. Sedangkan pokok dari pendidikan anak adalah menjauhkan mereka dari teman-teman yang buruk.

وينبغي إذا ضربه المعلم أن لا يكثر الصراخ والشغب ولا يستشفع بأحد بل يصبر ويذكر له أن ذلك دأب الشجعان والرجال وأن كثرة الصراخ دأب المماليك والنسوان وينبغي أن يؤذن له بعد الانصراف من الكتاب أن يلعب لعبا جميلا يستريح إليه من تعب المكتب بحيث لا يتعب في اللعب فإن منع الصبي من اللعب وإرهاقه إلى التعلم دائما يميت قلبه ويبطل ذكاءه وينغص عليه العيش حتى يطلب الحيلة في الخلاص منه رأسا وينبغي أن يعلم طاعة والديه ومعلمه ومؤدبه ومن هو أكبر منه سنا من قريب وأجنبي وأن ينظر إليهم بعين الجلالة والتعظيم وأن يترك اللعب بين أيديهم

Ajarkan kepada anak kita, jika suatu saat dipukul oleh gurunya, jangan sampai berteriak, menjerit, membuat keributan, apalagi mengadu minta pembelaan kepada siapapun (termasuk para orang tua). Jelaskan bahwa seperti itulah sikap lelaki pemberani. Sedangkan menangis menjerit adalah kelakuan budak dan wanita. Izinkan anak bermain setelah mereka belajar. Berikan permainan yang bagus untuk menghilangkan tegangnya belajar di kelas, sekiranya permainan itu tidak membuatnya lelah bermain. (Ingat!) Sungguh, melarang anak bermain, dan memaksa mereka untuk terus belajar, akan mematikan hatinya, merusak kecerdasannya, menyulitkan kehidupannya, sampai akhirnya ia akan terus berusaha mencari cara untuk lepas sama sekali dari belajar.

Seyogyanya anak diajari untuk taat kepada kedua orang tuanya, pengajarnya, pendidiknya, dan orang yang lebih tua darinya baik kerabat maupun orang lain. Tanamkan untuk memandang mereka semua dengan rasa hormat dan berhentilah bermain di depan mereka. 𝑩𝒆𝒓𝒔𝒂𝒎𝒃𝒖𝒏𝒈…

Penulis: Abdul Adzim

Publisher : Fakhrul

✍️ 𝑯𝒖𝒋𝒋𝒂𝒕𝒖 𝒂𝒍-𝑰𝒔𝒍𝒂𝒎 𝑨𝒃𝒊 𝑯𝒂𝒎𝒊𝒅 𝑴𝒖𝒉𝒂𝒎𝒎𝒂𝒅 𝒃𝒊𝒏 𝑴𝒖𝒉𝒂𝒎𝒎𝒂𝒅 𝒂𝒍-𝑮𝒉𝒂𝒛𝒂𝒍𝒊 𝒂𝒕𝒉-𝑻𝒉𝒖𝒔𝒊𝒚| 𝑰𝒉𝒚𝒂’ 𝑼𝒍𝒖𝒎𝒊𝒅𝒅𝒊𝒏| 𝑫𝒂𝒓𝒖 𝒂𝒍-𝑨𝒓𝒒𝒂𝒎 𝑱𝒊𝒍𝒊𝒅 𝑰, 𝒉𝒂𝒍𝒂𝒎𝒂𝒏 95.

banner 700x350