NASEHAT AL-IMAM ABDULLAH BIN ALAWI BIN MUHAMMAD AL-HADDAD RA(1)

oleh -6,811 views

اعمل في هذا الزمان من الخير ما لا يشق عليك، ويمكنك المداومة عليه، فقليل دائم خير من كثير منقطع، واشكر على القليل يعطك الله الكثير

Beramallah kamu! di zaman ini dengan kebaikan yang tidak memberatkan dirimu dan memungkinan kamu untuk selalu istiqomah didalam kebaikan tersebut. Karena kebaikan sedikit namun istiqomah lebih baik dari pada kebaikan banyak tapi tidak istiqomah serta bersyukurlah kamu dengan sedikitnya pemberian maka Allah ﷻ akan memberikanmu karunia yang banyak.

ولا تنظر مثل احوال بشر والفضيل، فإن هؤلاء حتى الصحابة رضي الله عنهم، لم يعملوا بمثل عملهم، لكن معهم نور النبوة

Jangan kamu berfikir bisa meniru seperti ahwal (perbuatan) Basyar wa al-Fadhil (para petinggi dan alim ahli Sufi) karena mereka bahkan para shahabat Nabi ﷺ tidak beramal semata seperti amal mereka tetapi disebabkan kebersamaan mereka dengan Nur an-Nubuwah (cahaya kenabian).

وقد سئل بعضهم عن ذلك، فقال: كان الصحابة اكثر ايمانا، وكان التابعون اكثر اعمالا. واين زمانك اليوم من زمانهم؟

Sebagian mereka pernah ditanya tentang hal itu, maka mereka menjawab:
Dahulu para sahabat Nabi ﷺ adalah orang-orang yang paling banyak (tinggi) imannya, dan para Tabi’in adalah orang-orang yang paling banyak amalnya. Maka dimana zamanmu sekarang ini jika dibandingkan dengan zaman mereka?

فإنك في القرن الثاني عشر، ولو بعث اليوم من هؤلاء واحد لتعجب.

Sesungguhnya kamu sedang berada di kurun ke-12, andai saja Allah ﷻ mengutus salah satu dari mereka (para sahabat dan Tabi’in) di zaman ini, niscaya ia akan merasa heran.

ما ظننا أن الوقت يمتد قبل قيام الساعة إلى الآن والزمان يتناقص، من ذلك الوقت إلى الآن، ولما رأرينا الزمان يتناقص، وأثر النقصان ظاهر على أهله، بنينا أمرنا في الإبتداء على ثلاثة أشياء،

Jangan kita menyangka bahwa waktu mulai dari sekarang akan bertambah sebelum datangnya hari kiamat tetapi zaman akan terus berkurang dari waktu itu sampai sekarang. Ketika melihat zaman terus berkurang dan bukti tergerus zaman kian nyata, maka kita harus merperkuat pondasi urusan ke depan dengan tiga perkara:

الأول: أن لانتحكم لأحد حتى نرى فيه أهلية التحكيم، فلهذا صحبنا من مشايخنا من غير أن نتحكم لأحد، بل صحبة مجردة كما هي عادة السلف، صحبة بلا تحكيم كعادة الحسن البصري وغيره، كما يقال صحب فلانا ولقي فلانا،

𝐏𝐞𝐫𝐭𝐚𝐦𝐚, Jangan kita menghakimi (menyalahkan) seseorang sehingga kita benar-benar ahli hukum. Karena itu para guru kami dalam bergaul tidak pernah menghakimi (menyalahkan) orang lain, bahkan mereka hanya murni bergaul sebagaimana yang kebiasaan yang dilakukan para ulama salaf bergaul tanpa harus menyalahkan orang lain seperti yang pernah dilakukan Imam al-Hasan al-Bashriy dan lainnya sebagaimana pepatah mengatakan: “Bergaul dengan Si Fulan dan berjumpa dengan Si Fulan.”

والثاني: أن نحكم إلا من نرى أهلا، فإذا رأيناه متأهلا لذلك، وألقى إلينا نفسه منطرحا حكمناه على مقتضى حاله،

𝐊𝐞𝐝𝐮𝐚, Kita boleh menghukumi sesuatu, jika kita benar-benar ahli. Jika kita benar-benar ahli akan hal itu dan ia (seseorang) mengajukan pertanyaan (yang sangat dibutuhkan jawabannya), maka berilah hukum (jawaban) sesuai kadar yang ditanyakan (jangan berlebihan).

والثالث: أن لا نفيد ولانستفيد إلا من متأهل للإفادة والاستفادة، والناس إذا سمعوا بأحوال الصالحين، يظنون أنهم يطلعون على الغيب، فمتى أرادوا كاشفوا الناس بخواطرهم، ويقال: الأنبياء يعلمون الغيب من أكثر الوجوه، والأولياء يعلمون من بعض الوجوه ولا يعلم الغيب كله إلا الله: (قُل لَّا يَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ) (
وَلَوْ كُنتُ أَعْلَمُ ٱلْغَيْبَ لَٱسْتَكْثَرْتُ مِنَ ٱلْخَيْرِ).

𝐊𝐞𝐭𝐢𝐠𝐚, Jangan memberi fatwa dan meminta fatwa kecuali ia memang ahli memberikan fatwa dan layak diambil fatwanya. Orang-orang bila mendengar ahwal (keadaan dan perilaku) orang-orang shalih, mereka akan menyangka bahwa orang-orang shalih tersebut dapat mengetahui segala yang gaib. Jika kalian ingin membuka (menyadarkan ) pikiran-pikiran negatif orang-orang tersebut katakan: “Para Nabi ﷺ mampu mengetahui suatu yang gaib dari banyak arah, sedangkan para wali mengetahui suatu yang gaib hanya sebagian saja. Tidak ada yang mampu mengetahui segala yang gaib kecuali Allah ﷻ. Allah ﷻberfirman yang artinya: “𝑲𝒂𝒕𝒂𝒌𝒂𝒏𝒍𝒂𝒉: “𝑻𝒊𝒅𝒂𝒌 𝒂𝒅𝒂 𝒔𝒆𝒐𝒓𝒂𝒏𝒈𝒑𝒖𝒏 𝒅𝒊 𝒍𝒂𝒏𝒈𝒊𝒕 𝒅𝒂𝒏 𝒅𝒊 𝒃𝒖𝒎𝒊 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒎𝒆𝒏𝒈𝒆𝒕𝒂𝒉𝒖𝒊 𝒑𝒆𝒓𝒌𝒂𝒓𝒂 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒈𝒉𝒂𝒊𝒃, 𝒌𝒆𝒄𝒖𝒂𝒍𝒊 𝑨𝒍𝒍𝒂𝒉” (𝑸𝑺. 𝑨𝒏-𝑵𝒂𝒎𝒍: 65). Dan Allah ﷻ berfirman yang artinya: “𝑫𝒂𝒏 𝒔𝒆𝒌𝒊𝒓𝒂𝒏𝒚𝒂 𝒂𝒌𝒖 𝒎𝒆𝒏𝒈𝒆𝒕𝒂𝒉𝒖𝒊 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒈𝒉𝒂𝒊𝒃, 𝒕𝒆𝒏𝒕𝒖𝒍𝒂𝒉 𝒂𝒌𝒖 𝒎𝒆𝒎𝒃𝒖𝒂𝒕 𝒌𝒆𝒃𝒂𝒋𝒊𝒌𝒂𝒏 𝒔𝒆𝒃𝒂𝒏𝒚𝒂𝒌-𝒃𝒂𝒏𝒚𝒂𝒌𝒏𝒚𝒂…”. (𝑸𝑺. 𝑨𝒍-𝑨’𝒓𝒂𝒇: 188).

𝐖𝐚𝐚𝐥𝐥𝐚𝐡𝐮 𝐀’𝐥𝐚𝐦𝐮

Nasehat-nasehat ini, beliau sampaikan pada hari Jum’at, tanggal 18 Ramadhan, tahun 1128 h. Yang diabdikan oleh murid beliau bernama Syaikh Ahmad bin Abdul Karim asy-Syajjar al-Hasawiy dalam kitab: Tatsbitu al-Fu’ad bi Dzikri Majalis al-Quthub al-Imam Abdullah bin Alwi bin Muhammad al-Haddad Rahimakumullah cet. Tarim al-Hawiy, juz 1 hal 30-31.

Penulis : Abdul Adzim

banner 700x350

No More Posts Available.

No more pages to load.