PARENTING ALA IMAM AL-GHAZALI(2)

oleh -186 views

Selanjutnya Hujjatu al-Islam Abi Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali memaparkan:

ومهما رأى فيه مخايل التمييز فينبغي أن يحسن مراقبته وأول ذلك ظهور أوائل الحياء فإنه إذا كان يحتشم ويستحي ويترك بعض الأفعال فليس ذلك إلا لإشراق نور العقل عليه حتى يرى بعض الأشياء قبيحا ومخالفا للبعض فصار يستحي من شيء دون شيء وهذه هدية من الله تعالى إليه وبشارة تدل على اعتدال الأخلاق وصفاء القلب وهو مبشر بكمال العقل عند البلوغ

Ketika anak menginjak usia Tamyiz (6 atau 7 tahun), orang tua harus lebih jeli memperhatikan atau mengawasi anak. Pertama akan muncul permulaan sifat pemalu pada anak. Jika anak tiba-tiba punya rasa malu hingga ia tidak mau melakukan perbuatan tertentu, itu adalah tanda cahaya akal anak mulai bersinar (berfungsi). Cahaya akal ini yang membuat anak bisa berfikir bahwa pada sebagian perkara ada yang tidak baik dan membedakan dengan yang lainnya. Maka ia mulai malu melakukan perbuatan tertentu (yang dianggap baik) dan meniggalkan yang lain. Ini adalah hadiyah dari Allah dan kabar gembira yang menunjukkan bahwa anak memiliki akhlak yang baik, hati yang bening, dan kelak setelah baligh (dewasa) ia akan gembira dengan kesempurnaan akalnya. (Tidak setiap anak mendapatkan keistimewaan ini).

فالصبي المستحي لا ينبغي أن يهمل بل يستعان على تأديبه بحيائه أو تمييزه وأول ما يغلب عليه من الصفات شره الطعام فينبغي أن يؤدب فيه مثل أن لا يأخذ الطعام إلا بيمينه وأن يقول عليه بسم الله عند أخذه وأن يأكل مما يليه وأن لا يبادر إلى الطعام قبل غيره وأن لا يحدق النظر إليه ولا إلى من يأكل وأن لا يسرع في الأكل وأن يجيد المضغ وأن لا يوالي بين اللقم ولا يلطخ يده ولا ثوبه وأن يعود الخبز القفار في بعض الأوقات حتى لا يصير بحيث يرى الأدم حتما ويقبح عنده كثرة الأكل بأن يشبه كل من يكثر الأكل بالبهائم وبأن يذم بين يديه الصبي الذي يكثر الأكل ويمدح عنده الصبي المتأدب القليل الأكل.

Jika anak kita termasuk anak yang pemalu, (seperti yang dijelaskan di atas), maka jangan sia-siakan potensi istimewa ini. Bahkan sifat pemalu atau sifat tamyiz yang dimilik seorang anak dapat dijadikan modal utama bagi (orang orang tua) dalam mendidik anak. Dan perlu diketahui bahwa sifat kurang baik yang pertama kali muncul dari seorang anak adalah masalah makan.

Maka didiklahlah anak mulai dari cara makan semisal tidak boleh mengambil makanan kecuali dengan tangan kanan, ajarilah anak ketika makan mengucap basmalah ketika hendak mengambil makanan, mengambil makanan yang terdekat dengannya, tidak boleh memulai makan mendahului orang lain, tidak boleh memandang sinis pada makanan dan orang yang sedang makan, tidak boleh terlalu cepat ketika makan, mengunyah dengan lembut dan perlahan, mengatur tempo satu suapan dengan yang lainnya, tidak belepotan makanan di tangan dan pakaiannya.

Sesekali biasakan anak makan makanan kasar (tidak lezat) tanpa lauk pauk sehingga dia tidak menganggap lauk pauk adalah suatu keharusan. Berikan pengertian kepada anak bahwa banyak makan itu kurang baik. Katakan padanya bahwa orang banyak makan tak ubah binatang. Ketika anak melihat orang yang gemar banyak makan, tunjukkan kepada anak bahwa itu sifat seperti tercela (jangan ditiru), dan pujilah di hadapan anak ketika ada orang anak lain yang baik dan sedikit makan.

وأن يحبب إليه الإيثار بالطعام وقلة المبالاة به والقناعة بالطعام الخشن أي طعام كان وأن يحبب إليه من الثياب البيض دون الملون والإبريسم ويقرر عنده أن ذلك شأن النساء والمخنثين وأن الرجال يستنكفون منه ويكرر ذلك عليه ومهما رأى على صبي ثوبا من إبريسم أو ملون فينبغي أن يستنكره ويذمه ويحفظ الصبي عن الصبيان الذين عودوا التنعم والرفاهية ولبس الثياب الفاخرة وعن مخالطة كل من يسمعه ما يرغبه فيه فإن الصبي مهما أهمل في ابتداء نشوه خرج في الأغلب رديء الأخلاق كذابا حسودا سروقا نماما لحوحا ذا فصول وضحك وكياد ومجانة وإنما يحفظ عن جميع ذلك بحسن التأديب.

Buatlah anak terbiasa mengalah dalam urusan makanan, demi mementingkan orang lain. Tanamkan dalam benaknya bahwa makan itu bukan suatu yang terlalu penting. Biasakan dia menjadi orang yang Qana’ah (menerima) dengan jenis makanan apapun. Buatlah anak menyukai pakaian putih, bukan pakaian warna warni, apalagi sutera. Tanamkan dalam benaknya bahwa pakaian warna warni dan sutera hanya pantas untuk para wanita dan para banci. Ulangi terus menerus sampai melekat di pikirannya. Ketika terlihat ada orang anak lain memakai pakaian warna warni atau sutera (atau pakaian mahal) buatlah ia ingkar dan mengecamnya.

Jagalah anak dari bergaul dengan anak-anak yang terbiasa hidup mewah dan memakai pakaian mahal. Jauhkan dari orang yang suka membicarakan kemewahan. Sungguh anak yang dibiarkan bebas sejak kecil (tidak diberi aturan), akan tumbuh dewasa menjadi orang yang buruk perangainya—menjadi orang yang suka berbohong, suka iri, gemar mencuri, tukang fitnah, suka memaksakan kehendak, memiliki sifat pemecah belah, suka tertawa lepas, suka menipu, dan suka cengengesan. Anak harus dihindarkan dari semua itu dengan pendidikan yang baik. 𝑩𝒆𝒓𝒔𝒂𝒎𝒃𝒖𝒏𝒈…

Penulis: Abdul Adzim

Publisher : Fakhrul

✍️ 𝑯𝒖𝒋𝒋𝒂𝒕𝒖 𝒂𝒍-𝑰𝒔𝒍𝒂𝒎 𝑨𝒃𝒊 𝑯𝒂𝒎𝒊𝒅 𝑴𝒖𝒉𝒂𝒎𝒎𝒂𝒅 𝒃𝒊𝒏 𝑴𝒖𝒉𝒂𝒎𝒎𝒂𝒅 𝒂𝒍-𝑮𝒉𝒂𝒛𝒂𝒍𝒊 𝒂𝒕𝒉-𝑻𝒉𝒖𝒔𝒊𝒚| 𝑰𝒉𝒚𝒂’ 𝑼𝒍𝒖𝒎𝒊𝒅𝒅𝒊𝒏| 𝑫𝒂𝒓𝒖 𝒂𝒍-𝑨𝒓𝒒𝒂𝒎 𝑱𝒊𝒍𝒊𝒅 𝑰, 𝒉𝒂𝒍𝒂𝒎𝒂𝒏

banner 700x350