NASEHAT MURID DAN GURU

oleh -500 views

Nasehat untuk guru jangan dipakai murid, sebaliknya nasehat untuk murid jangan dipakai guru.

Contoh pertama : “Bila gurunya kencing berdiri, muridnya akan kencing sambil berlari.”

Nasehat di atas adalah untuk guru, kalau dipakai murid bisa berbahaya, sebab murid akan berperasangka buruk pada gurunya. Atau kalau si murid jadi orang tidak baik, dia akan menuduh gurunya, yakni keburukannya adalah lantaran gurunya. Memakai hukum karma.

Contoh kedua :

قَالَ عَلِىٌّ كَرَّمَ اللهُ وَجْهَهُ: اَنَا عَبْدُ مَنْ عَلَّمَنِى حَرْفًا وَاحِدًا. اِنْ شَاءَ بَاعَ وَاِنْ شَاءَ اَعْتَقَ وَاِنْ شَاءَ اِسْتَرَقَّ.

Sayidina Ali Karramallahu wajhahu berkata. “Aku siap menjadi budak orang yang mengajarkanku satu huruf, jika dia mau dia boleh menjualku, jika dia mau boleh membebaskanku, jika dia mau boleh menjadikanku budaknya.”

Perkataan Sayidina Ali di atas adalah nasehat untuk murid, supaya memuliakan gurunya, menghormati gurunya dan patuh pada perintah gurunya. Sehingga seumpama muridnya itu mau dijadikan budak lalu dijualnya, maka si murid harus rela.

Bisa berbahaya jika nasehat itu dipakai guru.

Dulu waktu saya ngajar di pesantren, guru saya — RKH. Fakhruddin Aschal, salah satu dzurriyah Syaichona Cholil. — menasehati saya. “Jangan anggap mereka itu sebagai murid-muridmu, agar kamu tidak seenaknya menyuruh-nyuruh mereka untuk urusan pribadimu.”

Memang benar, pada kenyataannya kerap kali saya memanfaatkan keguruan di pesantren untuk urusan pribadi saya. Lupa kalau saya sebenarnya juga sebagai santri, dan mereka juga santri, tiada beda. Bedanya saya senior dan mereka junior.

أيوب السختياني رحمه الله قال : ينبغي للعالم أن يضع التراب على رأسه تواضعا لله عز وجل

Ayub as-Sakhtayani berkata. “Hendaknya seorang guru memasang debu di kepalanya sebagai sikap rendah diri kerena Allah.”

Setiap nasehat punya tempat dan keadaannya masing-masing. Cocok untuk murid, belum tentu cocok untuk guru, dan sebaliknya.

قال إبن عباس رضي الله عنهما : ذللت طالبا فعززت مطلوبا

“Saya menjadi hina saat menjadi murid, lalu menjadi mulia saat menjadi guru.”

Kesimpulannya, saat menjadi murid, muliakanlah guru, namun ketika sudah menjadi guru jangan merasa mulia dihadapan murid.

Waallahu A’lamu

Penulis: Shofiyullah El-Adnany

Semoga bermanfaat.

banner 700x350

No More Posts Available.

No more pages to load.