BEREBUT CINTA RASULULLAH SAW (2)

oleh -125 views

فكل مسلم في قلبه محبة الله ورسوله، لا يدخل الإسلام إلا بها، ولكن الناس متفاوتون في محبته صلى الله عليه وسلم بحسب استحضار ما وصل إليهم من جهته من وجوه النفع الشامل لخير الدارين والغفلة عن ذلك.

Bagi setiap Muslim pasti dihatinya ada cinta pada Allah ﷻ dan Rasul-Nya karena mereka tidak akan masuk Islam kecuali dengan cinta itu. Namun manusia dalam mencintai Baginda Nabi ﷺ berbeda-beda tergantung sebeberapa besar dan tidaknya usaha mengadirkan suatu yang sampai pada mereka dari Rasulullah ﷺ berupa kemanfataan yang condong pada kebaikan dunia akhirat.

Al-Hafidz Ahmad bin Ali bin Hajar al-‘Asqolaniy (w. 852 h) dalam kitabnya Fathu al-Bari Syarah Shahih al-Baukhari mengatakan:

قال القرطبى: كل من آمن بالنبى- صلى الله عليه وسلم- إيمانا صحيحا لا يخلو عن وجدان شىء من تلك المحبة الراجحة، غير أنهم متفاوتون، فمنهم من أخذ من تلك المرتبة بالحظ الأوفى، ومنهم من يأخذ بالحظ الأدنى، كمن كان مستغرقا فى الشهوات محجوبا فى الغفلات فى أكثر الأوقات، لكن الكثير منهم إذا ذكر النبى- صلى الله عليه وسلم- اشتاق إلى رؤيته بحيث يؤثرها على أهله وماله وولده ويبذل نفسه فى الأمور الخطيرة ويجد رجحان ذلك من نفسه وجدانا لا تردد فيه. وقد شوهد من هذا الجنس من يؤثر زيارة قبره ورؤية مواضع آثاره على جميع ما ذكر، لما وقر فى قلوبهم من محبته، غير أن ذلك سريع الزوال لتوالى الغفلات، انتهى. ملخصًا.

Al-Qurthubi mengatakan: “Setiap orang yang beriman pada Nabi ﷺ dengan keimanan yang sempurna pasti akan merasakan cinta yang lebih padanya. Namun kadar cinta mereka berbeda-beda. Ada yang berada dipuncak kesempurnaan cinta, ada pula yang berada didasar cinta yang paling bawah contohnya seperti orang yang tenggelam dalam lautan syahwat, yang tertutup oleh kelalaian dalam segenap waktunya. Tetapi yang banyak dari mereka ketika Nabi ﷺ disebut, mereka merindukan Nabi ﷺ yang mampu mengakahkan cinta pada keluarga, harta dan anak-anaknya. Mereka merelakan dirinya menempuh resiko berbahaya untuk menemukan cinta Rasulullah ﷺ di palung hatinya dengan cinta yang tidak ada keraguan. Hal itu bisa dibuktikan oleh orang-orang yang berkunjung ke pusara Nabi ﷺ dan melihat tempat-tempat peninggalannya tentu hati mereka akan tertambatkan sebab ada cinta pada Nabi ﷺ yang tumbuh di hati mereka. Tapi dengan cepat cinta itu sirnah dikalahkan kealpaan-kealpaannya”.

Kembali pada komentar Syaikh al-Qasthalaniy (w. 923 h) dalam kitab al-Muwahibu al-Ladunniyah al-Muhammadiyah, beliau mengatakan:

ومن علامات الحب المذكور لرسول الله- صلى الله عليه وسلم- أن يعرض الإنسان على نفسه أنه لو خير بين فقد غرض من أغراضه وفقد رؤية النبى- صلى الله عليه وسلم- أن لو كانت ممكنة، فإن كان فقدها أشد عليه من فقد شىء من أغراضه فقد اتصف بالأحبية المذكورة لرسول الله- صلى الله عليه وسلم-، ومن لا فلا.

Di antara tanda cinta seorang pada Rasulullah ﷺ adalah seandai seorang disuruh memilih antara kehilangan sesuatu yang paling disukai dan kehilangan memandang wajah Rasulullah ﷺ–bila memungkinkan. Jika rasa kehilangan tidak bisa melihat wajah Nabi ﷺ lebih besar dibanding kehilangan sesuatu yang ia disukai, maka ia pantas disebut orang yang jatuh cinta pada Rasulullah ﷺ kalau tidak, berarti ia belum pantas mengaku mencintai Rasulullah ﷺ.

Pembuktian cinta pada Nabi ﷺ selain yang ditunjukan Sayyidana Umar bin Khattab ra dalam satu riwayat hadits kemarin, banyak sekali dalam litelatur hadits dari kalangan sahabat beliau yang membuktikan kebesaran dan kedahsyat cinta mereka. Di antaranya beberapa kisah yang sempat diresumi penulis dalam kitab Al-Muwahibu al-Ladunniyah karya al-Muhammadiyah Syaikh al-Qasthalaniy dan lainnya sebagai berikut:

Syaikh Ibnu Ishak sebagaimana yang diceritakan dalam kitab asy-Syifa’ menuturkan:

أن امرأة من الأنصار قتل أبوها وأخوها وزوجها يوم أحد مع رسول الله صلى الله عليه وسلم فقالت: ما فعل رسول الله صلى الله عليه وسلم؟ قالوا: خيرًا هو بحمد الله كما تحبين، فقالت: أرونيه حتى أنظر إليه، فلما رأته قالت: كل مصيبة بعدك جلل، تعني: صغيرة.

“Ada seorang wanita dari kalangan Anshar yang kehilangan Ayah, Saudara dan Suaminya yang terbunuh di perang Uhud saat berperang bersama Rasulullah ﷺ. Lantas wanita bertanya (pada Sahabat yang lain): “Bagaimana keadaan Rasulullah ﷺ?” Para Sahabat menjawab: “Keadaan Rasulullah ﷺ baik-baik saja, beliau dalam puji Allah (selamat, mendapat pertolongan dan sehat) seperti yang engkau lihat sebelumnya. Wanita berkata: “Tolong tunjukkan padaku di mana Rasulullah ﷺ berada aku ingin melihatnya”. Maka tatkala wanita itu melihat Rasulullah ﷺ, ia berkata: “Semua musibah (yang terjadi) setelah (aku melihat engkau selamat) kecil”.

Waallahu A’lamu

Penulis: Abdul Adzim

Referensi:

✍️ Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Abi Bakr bin Abdul Malik al-Qasthalaniy al-Qutaibiy al-Mishri| al-Muwahibu al-Ladunniyah al-Muhammadiyah| Al-Maktabah asy-Syamilah al-Haditsiyah juz 2 hal 617.

✍️ Al-Qadhi Syaikh Yusuf bin Ismail an-Nabahaniy|Al-Anwar al-Muhammadiyah| Daru al-Kutub al-Ilmiyah 267-268.

✍️ Al-Hafidz Ahmad bin Ali bin Hajar al-‘Asqolaniy| Fathu al-Bari Syarah Shahih al-Baukhari| Daru al-Ma’rifah juz 1 hal 60.

✍️ Syaikh Abu Abdillah Muhammad bin Abdul Baqi Ahmad bin Yusuf bin Ahmad bin Syihafuddin bin Muhammad az-Zarqaniy al-Malikiy| Al-Maktabah asy-Syamilah al-Haditsiyah juz 9 hal 78-79.

banner 700x350