BEREBUT CINTA PADA RASULULLAH SAW (1)

oleh -200 views

Syaichona.net- Setiap orang Muslim yang hakiki tentu sangat mendambakan keimanan yang sempurna, segala usaha dan ritual ibadah telah dilakukan untuk mendapat gelar prestisius ini. Namun tidak semua orang bisa mendapatkan secara mudah, ada seleksi ketat yang harus dilalui di antaranya mencintai Rasulullah ﷺ dengan sepenuh hati melebihi cintanya kepada kekasih, anak, orang tua dan segenap manusia. Hal itu sebagiamana yang telah disebutkan dalam sebuah hadits shahih. Rasulullah ﷺ bersabda:

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

Tidak seorang pun di antara kalian beriman (dengan iman yang sempurna) sampai aku (Nabi Muhammad ﷺ) lebih dicintainya daripada anaknya, orangtuanya, dan seluruh umat manusia (HR. Muslim no. 44).

Lalu kenapa mencintai Rasulullah ﷺ menjadi syarat utama? Apakah tidak cukup dengan beribadah yang tekun kepada Allah ﷻ?

Al-Qadhi Syaikh Yusuf bin Ismail an-Nabahaniy (w. 1350 h) dalam kitabnya al-Anwar al-Muhammadiyah mencoba memberikan alasan dari jawaban pertanyaan tersebut. Beliau berkata:

اعلم أن المحبة رسول الله صلى الله عليه وسلم هي المنزلة التي تنافس فيها المتنافسون، وإليها يشخص العاملون، وعليها تفانى المحبون، وبروح نسيمها يتروح العابدون فهي قوت القلوب وغذاء الأرواح وقرة العيون، وهي الحياة التي من حرمها فهو من جملة الأموات، والنور الذي من فقده فهو في بحار الظلمات، فهو روح الإيمان والأعمال والمقامات

“Ketahuilah bahwa cinta pada Rasulullah ﷺ adalah tempat kompetisi para hamba yang bersaing meraih hadiyah kebaikan, target yang dituju oleh para pemburu kebaikan, obyek yang membuat para pecinta berguguran, spirit yang memotivasi ahli ibadah untuk terus berjuang. Cinta pada Rasulullah ﷺ adalah nutrisi hati, energi jiwa dan penyejuk pandangan. Ia kehidupan, siapa yang diharamkannya maka ia termasuk orang mati. Ia cahaya, siapa yang kehilangan sinarnya akan berada dalam samudera kegelapan. Ia adalah ruh iman, amal, perangai dan pangkat kewalian.

وإذا كان الانسان يحب من منحه في دنياه معروفا فانيا منقطعا، أو استنقذه من من مهلكة، أو مضرة لا تدوم، فما بالك بمن منحه منحا لا تبيد ولا تزول ، ووقاه من العذاب الأليم ما لا يفنى ولا يحول، واذا كان المرء يحب غيره على ما فيه من صورة جميلة ومسيرة حميدة، فكيف بهذا النبي الكريم والرسول العظيم الجامع لمحاسن الأخلاق والتكريم، المانح لنا جوامع المكارم والفضل العميم، فقد منحنا الله به منح الدنيا والآخرة، وأسبغ علينا نعمه ظاهرة وباطنة، فاستحق أن يكون حظه من محبتنا له أوفى وأزكى من محبتنا لأنفسنا، وأولادنا، وأهلينا، وأموالنا، والناس أجمعين بل لو كان في منبت كل شعر محبة تاما له صلوات الله وسلمه عليه، لكان ذلك بعض ما يستحقه علينا.

Bila ada seorang mencintai orang yang telah mendermakan sesuatu pada dirinya dalam urusan dunia—yang dikenal fana dan tidak abadi atau orang tersebut pernah menyelamatkan dirinya dari petaka dan marabahaya yang menimpanya. Lalu bagaimana keperdulianmu terhadap orang yang telah banyak berbuat jasa padamu— yang abadi dan tidak akan pernah sirnah? Orang yang telah menyelamatkanmu dari siksa yang pedih—yang kekal dan tidak akan pernah berubah. Maka jika seseorang bisa mencintai orang lain selain Rasulullah ﷺ dengan corak cinta yang indah, menyenangkan dan terpuji.
Bagaimana ia (tidak bisa) mencintai Nabi Muhammad ﷺ yang mulia, utusan Allah ﷻ yang agung, yang memiliki segala keindahan akhlak dan kemulian. Orang yang telah mendermakan kepada kita segenap kemuliaan dan anugerah yang merata? Sungguh sebabnya Allah ﷻ telah memberikan pada kita keanugerahan dunia dan akhirat dan sebabnya Allah ﷻ menyempurnakan nikmatnya pada kita secara dhahir dan bathin. Maka sangat layak cinta kita kepadnya lebih sempurna dan suci dari pada cinta kita pada diri, anak, keluarga, harta dan segenap manusia bahkah seandainya segenap rambut yang tumbuh dalam tubuh kita mencintainya secara sempurna—Semoga sholawat dan salam senantiasa tercurahkan kepadanya—niscaya semua itu hanya bisa membalas sebagian pemberian yang telah diberikanya kepada kita.

Dalam riwayat lain juga disebutkan:

كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم وَهْوَ آخِذٌ بِيَدِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فَقَالَ لَهُ عُمَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لأَنْتَ أَحَبُّ إِلَىَّ مِنْ كُلِّ شَىْءٍ إِلاَّ مِنْ نَفْسِي‏.‏ فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم ‏”‏ لاَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ نَفْسِكَ ‏”‏‏.‏ فَقَالَ لَهُ عُمَرُ فَإِنَّهُ الآنَ وَاللَّهِ لأَنْتَ أَحَبُّ إِلَىَّ مِنْ نَفْسِي‏.‏ فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم ‏”‏ الآنَ يَا عُمَرُ.

Kami pernah bersama Rasulullah ﷺ dan beliau ﷺ memegang tangan Umar bin Khattab. Lalu Umar berkata, “Ya Rasulullah ﷺ, sungguh engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali diriku sendiri.” Kemudian Rasulullah ﷺ berkata, “Tidak, demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, (imanmu belum sempurna) hingga aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri.” Kemudian Umar berkata, “Sekarang, demi Allah ﷻ, engkau (Rasulullah ﷺ) lebih aku cintai daripada diriku sendiri.” Kemudian Rasulullah ﷺ berkata, “Saat ini pula wahai Umar (imanmu telah sempurna)” (HR. Bukhari no. 6632).

Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Abi Bakr bin Abdul Malik al-Qasthalaniy al-Qutaibiy al-Mishri (w. 923 h) dalam kitab al-Muwahibu al-Ladunniyah al-Muhammadiyah sempat mengomentari hadist ini:

فهذه المحبة ليست باعتقاد الأعظمية فقط، فإنها كانت حاصلة لعمر قبل ذلك قطعًا.

“Cinta ini bukan hanya keyakinan yang agung belaka, tapi cinta itu telah tumbuh lama bersemayam dalam hati Sayyidina Umar ra dari sebelumnya.”

Syaikh al-Qasthalaniy melanjutkan:

قال بعض الزهاد: تقدير الكلام، لا تصدق في حبي حتى تؤثر رضاي على هواك وإن كان فيه الهلاك. فجواب عمر كان أولًا بحسب الطبع، ثم تأمل فعرف بالاستدلال أن النبي صلى الله عليه وسلم أحب إليه من نفسه لكونه السبب في نجاتها من المهلكات في الدنيا والآخرة، فأخبره بما اقتضاه الاختيار، فلذلك حصل الجواب بقوله: “الآن يا عمر” أي الآن عرفت فنطقت بما يجب.

“Sebagian ulama Zuhud berkata: Lebih jelasnya arti dari kalimat yang disabdakan Nabi ﷺ barusan; “Tidak dibenarkan (ucapanmu) dalam mencintaiku sehingga kerelaanku membekas padamu mengalahkan keinginan hawa nafsumu meskipun di dalamnya mengandung resiko kebinasaan.” Adapun jawaban Sayyidina Umar ra, pada mulanya (kata yang keluar dari lisan Sayyidina Umar ra) berdasarkan watak alamiyah. Kemudian beliau berfikir lantas mengetahui dengan disertai alasan bahwa Nabi ﷺ memang layak dicintai dibanding dirinya karena Nabi ﷺ adalah Sang Penyelamat dirinya dari kerusakan dunia dan akhirat. Maka dari itu Sayyidina Umar ra memberikan jawaban pada Nabi ﷺ dengan hasil pertimbangan yang telah dipilihnya. Karena itulah Nabi ﷺ membalas jawaban Sayyidina Umar ra dengan sabdanya: “Saat ini pula wahai Umar (imanmu telah sempurna)” artinya sekarang engkau telah tahu dan telah mengucapkan sesuatu yang semestinya kau katakan. Waallahu A’lamu

Penulis: Abdul Adzim

Referensi:

✍️ Al-Qadhi Syaikh Yusuf bin Ismail an-Nabahaniy|Al-Anwar al-Muhammadiyah| Daru al-Kutub al-Ilmiyah 265.

✍️ Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Abi Bakr bin Abdul Malik al-Qasthalaniy al-Qutaibiy al-Mishri| al-Muwahibu al-Ladunniyah al-Muhammadiyah| Al-Maktabah asy-Syamilah al-Haditsiyah juz 2 hal 617.

banner 700x350