BAPAK IBUNYA ILMU

oleh -196 views

الصرف أم العلوم

Shorof ibunya ilmu.

إنما شبه الصرف بالأم في التولد يعني كما أن الأم تلد الولد كذالك الصرف يلد الكلمة اشعارا بشدة احتياج العلوم إليها لأن الأم لايكاد يستغنى الولد عنها (فلاح : ص ٣)

Persamaan ilmu Shorof dengan seorang ibu adalah sama-sama melahirkan, yakni sebagaimana ibu melahirkan seorang anak, sedangkan Shorof melahirkan kalimat. Hal itu sebagai isyarat sangat butuhnya ilmu lain kepada Shorof, karena adanya anak pasti membutuhkan adanya ibu.

Kalau ilmu Shorof sebagai ibunya ilmu, maka yang layak dianggap sebagai bapakhnya ilmu tidak lain adalah ilmu Nahwu.

Nahwu dan Shorof sangat dibutuhkan keberadaannya bagi orang yang ingin mempelajari ilmu agama, terlebih bagi yang bukan orang Arab, karena sumber ilmu agama Islam rata-rata memakai bahasa Arab. Demikian juga kalau ingin memahami al-Quran dengan baik harus paham kedua ilmu gramatika tersebut.

Adalah Mu’ad bin Muslim al-Harra’ sebagai pencetus pertama ilmu Shorof, sedang yang mencetuskan pertama kali ilmu Nahwu adalah Aswad ad-Duali.

Mulai sejak duduk di kelas 2 Ibtidaiyah, saya sudah disuguhi pelajaran ilmu Nahwu dan Shorof, terus berlanjut hingga lulus kelas 6 Ibtidaiyah.

Pindah ke kelas 1 Tsanawiyah kembali lagi dengan suguhan ilmu Nahwu dan Shorof dengan tingkat kesulitan yang lebih tinggi, dan tidak berhenti bersambung sampai lulus kelas 3 Tsanawiyah.

Setelah di tingkat Aliyah lagi-lagi ilmu Nahwu dan Shorof menjadi hidangan harian otak saya, sampai juga lulus tingkat Aliyah selama 3 tahun.

Terakhir di perguruan tinggi jenjang S1 ketemu lagi dengan pelajaran ilmu Nahwu dan Shorof, hingga lulus selama 4 tahun menjadi sarjana.

Rasa-rasanya belajar ilmu Nahwu dan Shorof telah menghabiskan lebih dari separuh usia mondok saya selama 15 tahun di pesantren.

Tidak mudah bagi saya mempelajari kedua ilmu tersebut, sangkin tidak mudahnya menjadi fan ilmu yang paling tidak saya minati. Namun karena tuntutan pelajaran di kelas, terpaksa saya harus belajar terus. Siang malam menghafal nadzam Alfiyah untuk disetor ke guru di kelas dengan jumlah 100 bait perminggu dan kadang lebih, dengan mengandalkan kitab nadzam ukuran kecil.

Kini setelah semuanya selesai dan hidup saya telah disibukkan dengan urusan ma’isyah untuk menghidupi keluarga, dua ilmu itu nyaris hilang dalam ingatan. Padahal belajarnya penuh dengan perjuangan yang tidak sebentar.

Dari itu, untuk bisa mengingat kembali kedua ilmu tersebut, saya sering menulis artikel atau status Facebook dengan mengambil ibarat dari kitab-kitab, yang tentu sangat jauh dari kata sempurna.

Kendatipun saya merasa tidak layak dan tidak pantas menulis tentang ilmu sehingga banyak ditemukan salah terjemahan di sana-sini, tidak fokus dan dangkal dalam pembahasannya, serta susunan kata yang monoton dan pilihan kata yang tidak sedap dibaca, tapi tetap saya lakukan.

Semua ini karena saya hanya ingin meniru, meniru guru-guru saya yang sering menulis di Facebook. Terlebih ketika saya membaca salah satu status guru saya RKH. Fakhrillah Aschal yang membuat saya tambah semangat untuk menulis.

~ Edisi Spesial ” Renungan Hidup ” … ~
” Kadang kita menganggap status kita sederhana. Tapi di luar sana, ada orang yang menangis sedu-sedan karena membaca status kita. Mengingat masa lalunya yang kelam, lalu tersungkur meminta ampun pada Allah Dzat Yang Maha Pengampun.

Beruntunglah bagi para pembuat status yang bermanfaat untuk orang lain, yang mengabdikan tujuan goresan statusnya hanya pada Allah SWT, Dzat Yang Maha Memberi Petunjuk.
” Sebaik manusia adalah yang memberi manfaat untuk orang lain … ” (RKH. Fakhrillah Aschal)

Ingin meniru jejaknya Syaikhana Khalil, meniru Syaikh Nawawi al-Banteni, Imam Ghazali, Imam Suyuti, Imam Nawawi, Imam Ibnu Hajar, Imam Syafi’i dan orang-orang hebat lainnya.

Mereka para orang hebat itu juga sama, merasa tidak pantas dan tidak layak sebagaimana tertuang dalam muqaddimah kitab-kitabnya, biar pun demikian tetap mereka lakukan, karena mereka ingin meniru. Sebagian mereka ada yang termotivasi dari sebuah syair;

فتشبهوا إن لم تكونوا مثلهم * إن المتشبه بالرجال فلاح

“Menirulah jika kamu bukan bagian dari mereka, karena meniru seorang pakar adalah kemenangan.”

Setidaknya dalam dua kitab saya menemukan syair motivasi di atas yang ditulis oleh para mushanif dalam memulai menulis kitabnya, di antaranya adalah Syaikh Nawawi al-Banteni. Waalahu A’lmu

Penulis: Syofiyullah El-Adnany

Publisher : Fakhrul

banner 700x350