HUKUM DAN HIKMAH MENGUSAP WAJAH SETELAH BERDOA

oleh -567 views

Syaichona.net- Al-Hafizh Ibn Hajar al-Asqalaniy (w. 852 h) dalam kitabnya Bulughu al-Maram min Adillati al-Ahkam mencantumkan sebuah hadits:

عن عمر رضي الله عنه قال: (( كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ إِذَا مَدَّ يَدَيْهِ فِي اَلدُّعَاءِ لَمْ يَرُدَّهُمَا حَتَّى يَمْسَحَ بِهِمَا وَجْهَهُ)). أخرجه الترمذي .وله شواهد منها عند أبي داود من حديث ابن عباس وغيره ومجموعها يقضي بأنه حديث حسن.

Dari ‘Umar ra, ia berkata: “Rasulullah ﷺ mengangkat kedua tangannya ketika berdo’a, tidak mengembalikannya lagi sehingga ia mengusap wajahnya dengan kedua tangannya itu.” (HR. Imam at-Tirmidzi) dan terdapat hadits lain yang menguatkannya, di antaranya hadits Abu Dawud dari Ibnu ‘Abbas ra dan lainya. Keseluruhan riwayat-riwayat itu memastikan kedudukan hadits ini sebagai hadits hasan.

Syaikh Muhammad bin Ismail al-Amir al-Yamaniy Shan’aniy (w. 1182 h) dalam kitab Subulu as-Salam Syarhi Bulughu al-Maram min Jam’i Adillati al-Ahkam mengatakan:

وفيه دليل على مشروعية مسح الوجه باليدين بعد الفراغ من الدعاء . قيل: وكأن المناسبة أنه تعالى لما كان لا يردهما صفرا فكأن الرحمة أصابتهما فناسب إفاضة ذلك على الوجه الذي هو أشرف الأعضاء وأحقها بالتكريم.

Dalam hadits ini terdapat dalil disyari’atkannya mengusap wajah dengan ke dua tangan setelah selesai berdoa. Dikatakan: “Dan seakan (hadits ini) ada keserasian (dengan hadist sebelumnya dari riwayat Salman Al-Farisi ra) yaitu: “Ketika kedua tangan diangkat (saat berdoa), Allah tidak menolaknya dengan kehampaan.” Maka secara tidak langsung (Rasulullah ﷺ bersabda): “Rahmat Allah turun pada kedua tangannya”. Dan layak jika diharapkan, siraman rahmat itu juga mengenai wajah yang merupakan anggot tubuh paling mulia, yang seharusnya lebih dimuliakan.”

Syaikh Hasan bin Ammar bin Ali al-Mishriy asy-Syaranbalaliy al-Hanafiy (w. 1069 h) dalam kitab Muraqi al-Falah bi Imdadi al-Fatah Syarhu Nur al-Idhah wa Najati al-Arwah mengatakan: “Perintah mengusap wajah setelah usai berdoa, selain dengan dasar hadits tadi, juga terdapat keterangan hadist bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: ”

“إذا دعوت الله فادع بباطن كفيك ولا تدع بظهورهما فإذا فرغت فامسح بهما وجهك”

“Bila kamu berdoa, maka berdoalah dengan menggunakan kedua telapak tanganmu. Janganlah kamu berdoa menggunakan punggung keduanya. Maka jika kamu selesai berdoa, maka usaplah wajahmu dengan kedkeduanya.

Selanjutnya, Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Ismail ath-Thahthawiy al-Hanafiy (w. 1231 h) saat memberikan keterangan (Hasyiyah) kitab Muraqi al-Falah bi Imdadi al-Fatah Syarhu Nur al-Idhah wa Najati al-Arwah tersebut mengatakan:

الحكمة في ذلك عود البركة عليه وسرايتها إلى باطنه وتفاؤلا بدفع البلاء وحصول العطاء ولا يمسح بيد واحدة لأنه فعل المتكبرين ودل الحديث على أنه إذا لم يرفع يديه في الدعاء لم يمسح بهما وهو قيد حسن لأنه صلى الله عليه وسلم كان يدعو كثيرا كما هو في الصلاة والطواف وغيرهما من الدعوات المأثورة دبر الصلوات وعند النوم وبعد الأكل وأمثال ذلك ولم يرفع يديه ولم يمسح بهما وجهه أفاده في شرح المشكاة وشرح الحصن الحصين وغيرهما.

“Hikmah dalam hal itu adalah berharap kembalinya keberkahan dan rahasia-rahasianya merasuk kedalam jiwa dan raga serta ber-tafaul (beretikad baik) akan tertolaknya bala dan terkabulnya apa yang diminta. Janganlah mengusap dengan satu telapak tangan karena hal itu perbuatan orang-orang yang sombong. Hadits ini memberikan pengertian bahwa jika dalam doa seorang tidak mengangkat tangan, maka tidak dianjurkan mengusap wajahnya. Pernyataan ini adalah batasan yang baik karena Rasulullah ﷺ sendiri sering melakukan doa diberbagai kesempatan seperti dalam Sholat, Tahwaf dan lainnya berupa doa-doa yang Ma’tsur baik setelah selesai sholat, tidur, makan dan lain sebagainya dan Beliau tidak mengangkat tangan serta tidak mengusap wajahnya sebagaimana yang aku kutip dari kitab Syarhu al-Misykah dan al-Hishnu al-Hashin serta kitab-kitab lainnya.”

Sementara Syaikh Sulaiman bin Muhammad bin Umar al-Bujairamiy (w. 1221 h) menambahkan:

( قوله : لا مسح ) أي : في الصلاة أي : لا يندب فالأولى تركه ح ل ويسن خارجها م ر أي : يسن أن يمسح وجهه بيديه بعده لما ورد أن كل شعرة مسحها بيده بعد الدعاء تشهد له ويغفر له بعددها ح ف.

“Yang maksud (tidak boleh mengusap wajah) adalah dalam sholat, artinya: tidak disunahkan mengusap wajah maka lebih utama menurut Nur ad-Din ‘Ali bin Ibrahim al-Halaby ( 975 – 1044 H ) meninggalkannya namun jika diluar sholat disunahkan menurut Syihab ad-Din Ahmad bin Hamzah ( ar-Ramly al-Kabir ) artinya: sunah mengusap wajah dengan kedua telapak tangan setelah berdoa karena menurut Asy-Syamsu Muhammad bin Salim al-Hafnawy ( 1101 – 1181 H) terdapat keterangan yang mengatakan: “Setiap rambut yang diusap (seseorang) dengan tangannya setelah berdoa akan menjadi saksi dan ampunan baginya sebanyak hitungan rambut itu.”

Waallahu A’lamu

Penulis: Abdul Adzim

Referensi:

✍️ Al-Hafizh Ibn Hajar al-Asqalaniy| Bulughu al-Maram min Adillati al-Ahkam| Maktabah asy-Syamilah al-Haditsiyah juz 1 hal 464.

✍️ Syaikh Muhammad bin Ismail al-Amir al-Yamaniy Shan’aniy| Subulu as-Salam Syarhi Bulughu al-Maram min Jam’i Adillati al-Ahkam| Daru al-Kutub al-Ilmiyah juz 4 hal 401-402.

✍️ Syaikh Hasan bin Ammar bin Ali al-Mishriy asy-Syaranbalaliy al-Hanafiy| Muraqi al-Falah bi Imdadi al-Fatah Syarhu Nur al-Idhah wa Najati al-Arwah| Daru al-Kutub al-Ilmiyah hal 351.

✍️ Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Ismail ath-Thahthawiy al-Hanafiy| Hasyiyah ath-Thahthawiy ala Muraqi al-Falah bi Imdadi al-Fatah Syarhu Nur al-Idhah wa Najati al-Arwah| Daru al-Kutub al-Ilmiyah hal 318.

✍️ Syaikh Sulaiman bin Muhammad bin Umar al-Bujairimiy| Hasyiyah al-Bujairimiy ala Syarhi al-Minhaj| Daru al-Kutub al-Ilmiyah juz 1 hal 277-278.

banner 700x350

No More Posts Available.

No more pages to load.