BERKAH MENGAJAR ANAK ORANG LAIN, ANAK MENJADI ALIM

oleh -507 views

Syaichona.net- Kerap kali bagi seorang guru atau tokoh masyarakat dengan kesibukan mengurus umat dan mencerdaskan anak-anak bangsa tidak sempat mengajar dan mendidik putra dan putrinya sendiri. Hingga tidak heran bila kadang timbul pemikiran gamang dalam hati sebagian orang: “Sukses mendidik anak orang lain tapi anak sendiri tidak terurusi, jangan-jangan seperti lilin yang menerangi orang lain tapi dirinya sendiri terbakar”.

Berangkat dari pemikiran ini, seorang teman penulis berhenti istiqomah mengajar. Fokus berkerja dirumah dan mendidik putra putrinya. Katanya “Saya takut anak saya menjadi bodoh tiada terurus karena sibuk mengajar anak orang lain”.

Sepintas pemikiran ini benar, namun yang paling baik menurut penulis jika mau menteladini para guru sepuh dan ulama-ulama hebat terdahulu. Jangan pernah berhenti mengabdi pada umat dan menyebarkan ilmu sembari meluangkan waktu untuk mengajar putra putri kita agar tujuan ilmu dan dakwah tidak terhenti serta pahala yang didapat berharap menjadi bekal amal jariyah di akhirat nanti. Barang kali nanti barokah mengajar anak-anak orang lain, putra putrinya menjadi seorang Alim Allamah manfaat pada semua orang dan diridhai Allah.

Saya teringat sebuah catatan yang ditulis oleh Syaikh Buhanuddin az-Zarnujiy (w. 591 h) dalam kitabnya yang terkenal Ta’limu al-Muta’lim Thariqu at-Ta’lim mengatakan:

ينبغى أن يكون صاحب العلم مشفقا ناصحا غير حاسد، فالحسد يضر ولا ينفع. وكان أستاذنا شيخ الإسلام برهان الدين رحمه الله يقول: قالوا إن ابن المعلم يكون عالما لأن المعلم يريد أن يكون تلميذه فى القرآن عالما فببركة اعتقاده وشفقته يكون ابنه عالما

Orang alim hendaknya memiliki rasa kasih sayang, mau memberi nasehat serta jangan berbuat dengki. Dengki itu tidak akan bermanfaat, justru membahayakan diri sendiri. Guru kita Syaikhul Islam Burhanuddin ra. Berkata : “Banyak ulama yang berkata : “Putra sang guru dapat menjadi alim, karena sang guru itu selalu berharap agar muridnya kelak menjadi ulama ahli Al-Quran. Kemudian atas berkah i’tikad baik dan kasih sayangnya itulah putranya menjadi seorang alim.”

Selanjutnya az-Zarnujiy mengisahkan sebuah hikayat:

وكان أبو الحسن يحكى أن الصدر الأجل برهان الأئمة جعل وقت السبق لابنيه الصدر الشهيد حسام الدين والصدر السعيد تاج الدين وقت الضحوة الكبرى بعد جميع الاسباق، وكانا يقولان: إن طبيعتنا تكل وتمل فى ذلك الوقت، فقال أبوهما رحمه الله: إن الغرباء وأولاد الكبراء يأتوننى من أقطار الأرض فلا بد من أن أقدم أسباقهم. فببركة شفقته فاق ابناه أكثر فقهاء الأمصار، وأهل الأرض فى ذلك العصر.

Abu al-Hasan bercerita: “Bahwa Ash-Shadrul Ajall Burhanul Aimmah menentukan waktu belajar kedua putranya yaitu Ash-Shadru asy-Syahid Hisamuddin dan Ash-Shadrus Sa’id Tajuddin pada waktu sebelum tengah hari setelah mengajar semua murid-muridnya. Lalu kedua putranya berkata; “Sungguh pikiran kami telah letih dan bosan belajar pada waktu itu”. Lantas ayahnya berkata; “Sesungguhnya para pendatang dan putra-putra para pembesar itu datang kepadaku dari berbagai macam daerah, maka aku harus mengajar mereka terlebih dahulu”. Akhirnya lantaran barakah kasih sayangnya, kedua putranya pun menjadi alim fiqh melebihi kebanyakan ahli fiqh pada masa itu.

Waallahu A’lamu

Penulis: Abdul Adzim

Referensi:

✍️ Syaikh Buhanuddin az-Zarnujiy| Ta’limu al-Muta’lim Thariqu at-Ta’lim| Daru al-Kutub hal 105-106.

banner 700x350