KETIKA SUFI JATUH CINTA

oleh -866 views

Di saat hati mulai tersenyum, di Saat fikiran mulai melayang dan di saat jiwa raga bersorak sorai, maka saat itulah seseorang merasakan yang namanya cinta, merasakan yang namanya kasih sayang dan merasakan anugerah terindah dari  dzat yang maha pemurah, cinta itu datang tanpa di undang, hadir tanpa di panggil dan bersemayam tanpa diletakkan, yang berada dalam lubuk hati paling dalam.

Semua manusia pasti memiliki rasa seperti demikian, yakni memiliki rasa cinta, terlebih juga Para kaum sufi yang tentu juga seorang manusia seperti pada umumnya, sebagai bukti bahwa seorang sufi juga bisa jatuh cinta adalah kisah Nabi Yusuf AS, Itulah satu-satunya kisah cinta yang di abadikan dalam Al-Qur’an sebagai teladan bagi umat manusia, Bagaimana tidak, Nabi Yusuf punya segala sarana dan pendukung untuk berbuat maksiat dengan Zulaikha, namun beliau memilih lari mejauh darinya.

Kisah tersebut menggambarkan bagaimana tingkah seorang sufi ketika terjerat asmara, seorang yang sedang jatuh cinta, potensi berbuat maksiat sangatlah besar, Dia menghalalkan segala cara untuk selalu bersama dengan orang yang dia cintai, Terkecuali para sufi, mereka punya daya tahan kuat untuk tidak berbuat maksiat saat terjerat asmara.

Salah satu kisah percintaan seorang sufi adalah kisah Abdurrahman bin Abi Ammar, sebagaimana yang dikisahkan oleh Ibnu Al-Jauzi dalam kitab Akhbarun-Nisa’ bahwa : Dahulu ada seorang tabi’in yang ahli ibadah, dia bertempat tinggal di makkah namanya  adalah Abdurrahman, dia jatuh cinta pada Sulamah Az-Zarqa’, sahaya dari Sahal bin Abdurrahman bin Auf, dan rupanya Sulamah Az-Zarqa’ diam-diam juga mencintai Abdurrahman.

Suatu ketika Sulamah menemui Abdurrahman untuk menyatakan cintanya

“Ingin sekali rasanya menempelkan bibirku pada bibirmu,” ucap Sulamah pada kesempatan itu.

“Demi Allah, aku pun juga menginginkan itu.” sahut Abdurrahman.

“Lalu, kenapa tidak engkau lakukan?” tanya sulamah dengan lembut.

“Celakalah engkau, Aku mendengar Allah SWT berfirman:

 [الزخرف: 67] {الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ }

Artinya : Teman-teman akrab pada hari itu sebagainnya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa. (QS az-Zukhruf : 67)

“Aku tidak ingin persahabatan kita di dunia justru mengakibatkan permusuhan kita di akhirat” ucap Abdurrahman, Lalu dia bergegas pergi meninggalkan Sulamah, seraya menangis menahan ombak asmara di hatinya, dia kembali ke dunianya yang sunyi dan berusaha menghilangkan bayang-bayang Sulamah agar bisa fokus terhadap ibadahnya lagi.

Abdurrahman telah memberikan teladan yang cukup luar biasa dalam hal kekuatannya menahan diri dari godaan asmara yang telah menguasai hatinya, dia telah berupaya menggiring rasa cintanya untuk bisa sampai ke akhirat, dan dia sadar bahwa asmara itu tidak bisa dibiarkan tumbuh jika tidak dilanjutkan dengan ikatan yang sah menurut syariat. Maka satu-satunya jalan untuk selamat dari hal itu adalah dengan menjauhkan diri meskipun harus berperang melawan hatinya sendiri.

Dan telah masyhur kisah legendaris cintanya Qais dan laila, Bertahun-tahun lamanya mereka menahan rasa cinta yang sangat besar dalam lubuk hati mereka yang paling dalam, mereka lakukan semua itu semata-mata agar tidak terjerumus dalam kemaksiatan, sampai keduanya mati karena cinta yang begitu dahsyat meluluh lantahkan kehidupan mereka, Hingga menurut satu riwayat Qais dan laila berhasil bersatu di akhirat.

Al-Mubarrid, seorang ulama besar dibidang nahwu pada masa Abbasiyah bercerita bahwa di kufah pernah ada seorang pemuda yang ahli ibadah dan mujahadah (Tirakat), Suatu ketika dia berkunjung ke sebuah desa, Syahdan, dia melihat seorang gadis yang sangat cantik, dia jatuh cinta sampai-sampai seperti orang gila yang kehilangan akal sehatnya, gadis tersebut ketika mengetahui hal itu lama kelamaan merasa iba dan bersimpati kepadanya, Tanpa terasa diapun akhirnya juga jatuh cinta.

Si pemuda memberanikan diri berkunjung ke rumah gadis itu untuk meminangnya, Tapi apa boleh buat sang ayah menolak pinangan tersebut karena dia berencana menjodohkan putrinya itu dengan sepupunya, Penolakan sang ayah tentu saja menyisakan suatu yang teramat pahit bagi mereka berdua.

Akhirnya, suatu ketika si gadis memberanikan diri untuk bertindak nekat, Dia mengutus orang untuk mendatangi pemuda itu dan menyampaikan pesan “Aku mendengar engkau sangat mencintaiku, Begitu pula aku, Datanglah padaku sekarang, atau aku yang akan datang kepadamu.”

Pemuda itu menjawab “Tidak ada yang kupilih.” Dia kemudian membaca ayat:

قُلْ إِنِّي أَخَافُ إِنْ عَصَيْتُ رَبِّي عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ [الأنعام: 15]

Artinya : “Katakanlah Sesungguhnya aku takut terhadap adzab hari yang besar (hari kiamat), jika aku mendurakai Tuhanku.” (QS al-An’am : 15).

Ketika si gadis mendengar jawaban pemuda tadi dia bergumam “Dalam keadaan terlilit asmara, dia masih takut kepada Tuhannya, Demi Allah semua orang memiliki kemampuan yang sama untuk melakukan hal ini, Kalau dia bisa seharusnya aku juga bisa.”

Semenjak itu, gadis tersebut memutuskan untuk meninggalkan segala kesenangan duniawi dan dia menghabiskan seluruh waktunya untuk ibadah, Dia begiu terinspirasi dengan kesucian cinta dari pemuda tersebut, Singkat cerita gadis itu akhirnya jatuh sakit karena menahan asmara yang melandanya, dan tak lama kemudian dia meninggal dunia.

Si pemuda berziarah dan menangis di atas kuburan gadis itu, pada malam harinya dia bermimpi bertemu dengannya, Dia datang dengan wajah berseri-seri dan memakai gaun yang sangat indah.

“Bagaimana keadaanmu sekarang?” tanya si pemuda.

Gadis itu menjawab dengan menggubah sebuah syair:

نعم المحبة يا سؤلي محبتكم……. حب يقود إلى خير وإحسان.

Artinya : “Cinta terbaik adalah cinta yang ada padamu……. yaitu, cinta yang menuntunku pada kebaikan dan kemuliaan.”

Kisah cinta sufi di atas sangat penting untuk kita jadikan suri tauladan, Bagaimana bisa mereka menentang hatinya sendiri demi tidak terjatuh kelubang kemaksiatan, bagaimana bisa mereka meninggalakan sesuatu yang sangat di cintainya demi sebuah ketaatan, sungguh di balik itu semua ada skenario tuhan yang sangat indah, sebagaimana kisah Yusuf, ketika Zulaikha mengejar cintanya yusuf, yusuf jauh darinya, namun ketika Zulaikha mengejar cintanya Allah, Allah datangkan yusuf padanya.

Wannafsu kattifli intuhmilhu syabba ala

hubbir rodo’i wa in tuftimhu yan fatimi….

 

Author : Pusiri

Editor : Fakhrullah

Referensi :

Akhbarun Nisa’ li ibni Al-Jauzi | vol 1 | Hal 16.

Mashari’u Al-Usysaq | Vol 1 | Hal 176.

Tarthibu Al-Afwah | Vol 1 | Hal 439.

banner 700x350

No More Posts Available.

No more pages to load.