TRADISI KURBAN DI IDUL ADHA, BENARKAH BERMULA DARI KISAH IBRAHIM AS ? (3-SELESAI)

oleh -483 views

Dalam versi lain sebab musabab Nabi Ibrahim -‘alaihissalaam- menyembelih putranya Nabi Ismail -‘alaihissalaam- adalah karena keras dan sedikitnya belas kasihan pada orang-orang pelaku maksiat. Keterangan ini banyak dijumpai dalam literatur ulama khususnya dalam kitab-kitab Tasawuf, salah satunya terdapat dalam kitab Siraju ath-Thalibin ala minhaji al-Abidin karya Syaikh Ihsan Muhammad Dahlan al-Jamfasiy al-Kediri. Dalam kitab tersebut Syaikh Ihsan mengatakan:

“Terdapat riwayat dari Qasamah bin Zuhair ra, beliau berkata:

بلغني أن إبراهيم عليه السلام حدث نفسه أنه أرحم الخلق، قال: فرفعه الله تعالى حتى أشرف على أهل الأرض فأبصر أعمالهم فلما رآهم وما يفعلون، قال: يارب دمر عليهم، فقال له ربه تعالى: أنا أرحم بعبادي منك يا إبراهيم. فاهبط فلعلهم يتوبون ويرجعون.

“Telah sampai padaku (sebuah riwayat): Pernah terbesit dalam hati Nabi Ibrahim -‘alaihissalaam-, bahwa dirinya adalah orang paling berbelas kasih pada makluk. Maka Allah ﷻ mengangkat Nabi Ibrahim -‘alaihissalaam- ke langit sehingga dia bisa mengamati dan melihat kelakuan semua penduduk bumi. Tatkala Nabi Ibrahim -‘alaihissalaam- melihat mereka dan apa yang dikerjakannya, Nabi Ibrahim -‘alaihissalaam- berkata: “Ya Rabb! Binasakan mereka semua”. Lalu Tuhannya Nabi Ibrahim -‘alaihissalaam- (Allah ﷻ) berkata: “Aku lebih berbelas kasihan pada hamba-hamba-Ku dibanding dirimu wahai Ibrahim. Maka sekarang turunlah kamu (ke bumi) barang kali mereka akan bertaubat dan kembali (kepada-Ku).

Dari Sayyidana Ali bin Abi Thalib -radhiyallahu ‘anhu-, beliau berkata: ”

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : لما رأى إبراهيم ملكوت السماوات والأرض أشرف على رجل على معصية من معاصي الله، فدعا عليه فهلك، ثم أشرف على آخر على معصية من معاصي الله، فدعا فهلك، ثم أشرف على آخر فذهب يدعو عليه، فأوحى الله إليه: أن يا إبراهيم إنك رجل مستجاب الدعوة، فلا تدع على عبادي فإنهم مني على ثلاث، إما أن يتوب فأتوب عليه، وإما أن أخرج من صلبه نسمة تملأ الأرض بالتسبيح، وإما أن أقبضه إلي، فإن شئت عفوت، وإن شئت عاقبت.

“Rasulullah ﷺ bersabda: “Ketika Ibrahim melihat kerajaan langit dan bumi, Ia melihat seorang telah melakukan maksiatan dari kemaksiatan-kemaksiatan yang dilarang oleh Allah ﷻ. Lalu ia mendoakan orang tersebut (dengan doa binasa), lantas binasalah orang itu. Kemudian Ibrahim melihat satu orang lagi yang melakukan maksiat, maka tanpa segan-segan Ibrahim mendoakan orang tersebut (dengan doa binasa). Lalu Allah ﷻ menurunkan wahyu kepada Ibrahim: Wahai Ibrahim! Engkau adalah orang yang dikabulkan doanya, maka jangan berdoa (binasa) terhadap hamba-hamba-Ku. Sesungguhnya mereka ada tiga (harapan) dari-Ku: 1- Bertaubat, maka Aku akan menerima taubatnya. 2- Akan lahir dari tulang rusuk mereka keturunan yang akan memenuhi bumi dengan Tasybih. 3- Berada dalam genggaman-Ku, bila Aku berkehendak, maka Aku akan mengampuninya dan bila Aku berhendak, maka Aku akan menyiksanya.”

Masih menurut Syaikh Ihsan dalam kitabnya ini: “Dikatakan: Berangkat dari kejadian ini yaitu keras dan sedikitnya belas kasihan Nabi Ibrahim -‘alaihissalaam- pada orang-orang pelaku maksiat. Allah ﷻ memerintahkan pada Nabi Ibrahim -‘alaihissalaam- agar menyembelih putranya Nabi Ismail -‘alaihissalaam-

Selanjutnya dalam sebagian kitab Tafsir juga disebutkan:

أنه كان يعرج به كل ليلة الى السماء، وهو قوله تعالى: {وَكَذَٰلِكَ نُرِي إِبْرَاهِيمَ مَلَكُوتَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ} [الأنعام: ٧٥] فعرج به ذات ليلة فاطلع على مذنب على فاحشة، فقال: اللهم أهلكه يأكل رزقك ويمشي على أرضك ويخالف أمرك، فأهلكه الله تعالى، فاطلع على آخر فقال: اللهم أهلكه ، فنودي: كف عن عبادي رويدا رويدا فإني طالما رأيتهم عاصين. فلما هبط أرى في المنام ما ذكر الله تعالى عنه حيث يقول: {إِنِّىٓ أَرَىٰ فِى ٱلْمَنَامِ أَنِّىٓ أَذْبَحُكَ فَٱنظُرْ مَاذَا تَرَىٰ} فلما تشمر وأخذ السكين بيده قال : اللهم هذا ولدي وثمرة فؤادي وأحب الناس فسمع قائلا يقول : أما تذكر الليلة التي سألت إهلاك عبادي، أو ما تعلم أني رحيم بعبادي كما أنت شفيق بولدك، فاذا سألتني إهلاك عبادي سألتك ذبح ولدك واحدا بواحد والبادي أظلم.

“Nabi Ibrahim -‘alaihissalaam- setiap malam dinaikan Allah ﷻ ke langit, selaras dengan apa yang difirmankan-Nya:

“Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan yang ada di langit dan di bumi …” (QS al-An’am: 75).

Maka pada suatu malam Nabi Ibrahim -‘alaihissalaam- dinaikan ke langit, lalu ia melihat seorang pendosa yang sedang berbuat kejelekan lantas berdoa “Ya Allah! Binasakan yang orang telah makan rezeki-Mu, berjalan di atas bumi-Mu tapi menyalahi perintah-Mu”. Seketika Allah ﷻ mengabulkan doa Nabi Ibrahim -‘alaihissalaam- dengan membinasakan mereka yang berbuat dosa. Di waktu yang lain Nabi Ibrahim -‘alaihissalaam- kembali melihat orang-orang yang berbuat dosa, maka tanpa rasa iba ia berdoa dengan doa yang sama: “Ya Allah! Binasakan yang orang telah makan rezeki-Mu, berjalan di atas bumi-Mu tapi menyalahi perintah-Mu”. Lalu terdengar suara menyeru tertuju pada Nabi Ibrahim -‘alaihissalaam-: “Berhentilah (mendoakan binasa) pada hamba-hamba-Ku, Aku sering kali melihat mereka berbuat maksiat (tapi masih Aku tangguhkan).

Tatkala Nabi Ibrahim -‘alaihissalaam- telah turun ke bumi, ia bermimpi sebagaimana yang dikisah Allah ﷻ dalam firman-Nya:

“Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu.” (QS. As-Saffat: 102).

Maka ketika Nabi Ibrahim -‘alaihissalaam- menyinsingkan lengan bajunya dan mengambil pisau sembari berdoa: “Ya Allah! Ini putraku, belahan jiwaku dan orang yang paling aku cintai”. Tiba-tiba terdengar suara berkata: “Tidakkah engkau ingat, saat engkau berdoa untuk membinasakan hamba-hamba-Ku? Atau engkau tidak tahu bahwa Aku sangat berbelas kasihan pada semua hamba-hamba-Ku? Sebagaimana engkau sangat mengasihi putramu. Ketika engkau memohon pada-Ku agar membinasakan hamba-hamba-Ku, maka aku meminta kepadamu agar menyembelih satu persatu dari putramu dan padang pasir tentu akan lebih gelap (engkau rasakan).

Waallahu A’lamu

𝑺𝒆𝒍𝒂𝒊𝒏 𝒌𝒊𝒕𝒂𝒃 𝒅𝒊 𝒂𝒕𝒂𝒔 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒎𝒆𝒏𝒋𝒂𝒅𝒊 𝒓𝒖𝒋𝒖𝒌𝒂𝒏 𝒖𝒕𝒂𝒎𝒂 𝒅𝒂𝒍𝒂𝒎 𝒕𝒖𝒍𝒊𝒔𝒂𝒏 𝒅𝒊 𝒆𝒅𝒊𝒔𝒊 𝒌𝒆 3 𝒊𝒏𝒊 𝑨𝒏𝒅𝒂 𝒃𝒊𝒔𝒂 𝒎𝒆𝒍𝒊𝒉𝒂𝒕𝒏𝒚𝒂 𝒅𝒊 𝒌𝒊𝒕𝒂𝒃-𝒌𝒊𝒕𝒂𝒃 𝒍𝒂𝒊𝒏 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒑𝒆𝒏𝒖𝒍𝒊𝒔 𝒄𝒂𝒏𝒕𝒖𝒎𝒌𝒂𝒏 𝒅𝒊 𝒌𝒐𝒍𝒐𝒎 𝒓𝒆𝒇𝒆𝒓𝒆𝒏𝒔𝒊 𝒅𝒊 𝒃𝒂𝒘𝒂𝒉 𝒊𝒏𝒊:

Penulis: Abdul Adzim

Referensi:

✍️ Syaikh Ihsan Muhammad Dahlan al-Jamfasiy al-Kediri| Siraju ath-Thalibin ala minhaji al-Abidin| Daru al-Kutub al-Ilmiyah juz 2 hal 258.

✍️ Syaikh Muhammad as-Sayyid at-Tijaniy| Daru al-Kutub al-Ilmiyah hal 342.

✍️ Syaikh Abi Abdullah Muhammad bin Ibrahim bin ‘Ubbad an-Nafaziy ar-Randiy| Ghawtsu al-Muwahibu al-Aliyah fi Syarhi al-Hikam al-‘Athaiyah| Daru al-Kutub al-Ilmiyah hal 196-197.

✍️ Syaikh Ahmad bin Muhammad bin ‘Ajibah al-Hasaniy| Iqadhi al-Himam fi Syarhi al-Hikam| Daru al-Kutub al-Ilmiyah juz 1 hal 307-308.

✍️ Syaikh Abi Nu’im Ahmad bin Abdullah al-Ashfahaniy| Hilyatu al-Awliya| Daru al-Kutub al-Ilmiyah juz 3 hal 104.

✍️ Syaikh Jalaluddin Abdurrahman bin Abi Bakr as-Suyuthiy| Ad-Durru al-Mantsur fi Tafsiri al-Ma’tsur| Daru al-Kutub al-Ilmiyah juz 3 hal 45.

✍️ Syaikh Abi al-Hajjaj Yusuf al-Balawi al-Malaqiy al-Andalusiy al-Malikiy dikenal dengan sebutan Ibnu Syaikh| Kitab Alif Ba’ fi Anwa’i al-Adab wa Funun al-Muhadharat wa al-Lughah| Daru al-Kutub al-Ilmiyah juz 1 hal 450.

banner 700x350

No More Posts Available.

No more pages to load.