TRADISI KURBAN DI IDUL ADHA, BENARKAH BERMULA DARI KISAH IBRAHIM AS? (2)

oleh -301 views

Sementara dalam kitab al-Futuhat al-Ilahiyah Bitawdhihi Tafsir al-Jalain li Daqaiqi al-Khafiyah karya Syaikh Sulaiman bin Umar al-Ujailiy asy-Syafi’i atau yang dikenal dengan nama Syaikh Jamal (w. 1024 h) dan kitab Hasyiyatu ash-Shawiy ala Tafsir al-Jalaini karya Syaikh Ahmad bin Muhammad ash-Shawiy al-Mishriy al-Makkiy al-Malikiy (w. 1241) keduanya mangatakan:

والحكمة في ذلك: أن إبراهيم اتخذه الله تعالى خليلاً، والخلة هي صفاء المودة، ومن شأنها عدم مشاركة الغير مع الخليل، وكان قد سأل ربه الولد، فلما وهبه له، تعلقت شعبة من قلبه بمحبته، فجاءت غير الخلة تنزعها من قلب الخليل، فأمر بذبح المحبوب، لتظهر صفاء الخلة وعدم المشاركة فيها، حيث امتثل أمر ربهن وقدم محبته على محبة ولده.

“Adapun hikmah atau (sebab musabab) Nabi Ibrahim -‘alaihissalaam- diperintahkan menyembelih putranya Nabi Ismail -‘alaihissalaam-: Bahwa Nabi Ibrahim -‘alaihissalaam- telah memutuskan untuk menjadikan Allah ﷻ sebagai kekasihnya sedang definisi kekasih adalah cinta yang murni dan syaratnya harus tidak ada orang lain yang menyaingi dalam cintanya. Sebelum itu Nabi Ibrahim -‘alaihissalaam- telah memohon kepada Allah ﷻ agar dikarunia seorang anak, maka tatkala Allah ﷻ telah mengabulkan permintaannya. Hati Nabi Ibrahim -‘alaihissalaam- pecah mendua dengan mencintai putranya, akibatnya cinta selain pada Sang Kekasih (Allah ﷻ) yang berkecamuk di hati Nabi Ibrahim -‘alaihissalaam-. Allah ﷻ akhirnya memerintahkan Nabi Ibrahim -‘alaihissalaam- agar menyembelih seorang (selain Allah ﷻ) yang dicintainya agar tampak murni kasihnya (pada Allah ﷻ) dan tidak ada seorang pun menyekutukannya.”

Syaikh Jamal al-Ujailiy dan Syaikh Jamaluddin bin Muhammad Said bin Qasim al-Hallaq al-Qasimiy asy-Syafi’i (w. 1332 h) dalam karya Mahasinu at-Takwil menambahkan:

فلما قدم على ذبحه وكانت محبة الله أعظم عنده من محبة الولد خلصت الخلة حينئذ من شوائب المشاركة فلم يبق في الذبح مصلحة إذ كانت المصلحة إنما هي في العزم وتوطين النفس، فقد حصل المقصود، فنسخ الأمر وفُدي الذبيح وصدق الخليل الرؤيا وحصل مراد الرب.

“Ketika tiba pada waktu menyembelih putranya, cinta Nabi Ibrahim -‘alaihissalaam- pada Allah ﷻ lebih besar dibanding cinta pada putranya. Maka bersihlah kasih dan cinta Nabi Ibrahim -‘alaihissalaam- dari cela penyekutuan. Dengan begitu tidak diperlukan lagi menyembelih (putranya) karena tujuan inti dari perintah menyebelih adalah niat (yang bersih) serta ketenangan jiwa. Hasillah tujuan, dihapuslah perintah, ditebuslah apa yang disembelih, benarlah mimpi Nabi Ibrahim -‘alaihissalaam- dan terlaksana kehendak Tuhan ﷻ.”

Allah ﷻ berfirman:

وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِّمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۗ وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا

Artinya: “Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah menjadikan Ibrahim sebagai kekasihnya.” (QS. An-Nisa’: 125).

Ada pertanyaan mengenai sebab apa Allah ﷻ menjadikan Nabi Ibrahim -‘alaihissalaam- sebagai khalilullah (kekasih Allah ﷻ)?

Abu al-Faraj Jamaluddin Abdurrahman bin Ali bin Muhammad al-Jawziy al-Hanbaliy (w.597 h) dalam kitabnya Zada al-Masir fi Ilmi at-Tafsir menjelaskan:

“Sebab musabab Allah ﷻ menjadikan Nabi Ibrahim -‘alaihissalaam- sebagai khalilullah (kekasih Allah ﷻ) ada tiga pendapat:

Pertama, Karena dia memberi makanan. Telah diceritakan dari Abdullah bin Umar dari Nabi ﷺ bahwa Beliau bersabda:

يا جبريل لم اتخذ الله إِبراهيم خليلا؟ قال لإِطعامه الطعام

“Wahai Jibril, karena apa Allah ﷻ menjadikan Nabi Ibrahim sebagai kekasih-Nya?” Jibril menjawab: “Karena dia memberi makanan, wahai Muhammad”.

Kedua, bahwa orang-orang (di masa itu) sedang dilanda kelaparan, mereka pun pergi ke rumah Nabi Ibrahim -‘alaihissalaam- meminta makanan. Pada saat itu Nabi Ibrahim -‘alaihissalaam- setiap tahunnya mendapat jatah makanan dari temannya di Mesir, Nabi Ibrahim -‘alaihissalaam- pun mengutus pelayan-pelayannya yang masih muda untuk pergi ke temannya di Mesir dengan mengendarai Unta namun usahanya tidak membuahkan hasil, sang teman tidak mau memberikan jatah Nabi Ibrahim -‘alaihissalaam-. Mereka kembali dengan tangan hampa. Di tengah perjalanan pelayan-pelayan itu mengisi karung-karungnya dengan pasir agar orang-orang yang menuggu datangnya jatah Nabi Ibrahim -‘alaihissalaam- tidak kecewa. Sesampai di rumah Nabi Ibrahim -‘alaihissalaam- pelayan-pelayan muda itu memberi tahukan pada Nabi Ibrahim -‘alaihissalaam- apa sesungguh yang terjadi. Mendengar hal itu Nabi Ibrahim -‘alaihissalaam- cemas dan berfikir takut tidak bisa memenuhi kebutuhan mereka kemudian Nabi Ibrahim -‘alaihissalaam- tertidur.

Karena tidak tahu, Sayyidah Sarah tiba-tiba datang membuka karung-karung itu. Ajaib, ternyata karung-karung itu berisi tepung Huwari. Ia kemudian memerintahkan pada tukang roti untuk membuat roti lalu dibagikan pada segenap orang yang meminta makanan. Setelah itu Nabi Ibrahim -‘alaihissalaam- terbangun dari tidurnya lalu Nabi Ibrahim -‘alaihissalaam- bertanya pada Sayyidah Sarah: “Dari mana makanan itu?

“Dari sahabatmu yang dari Mesir.” Jawab Sayyidah Sarah

Nabi Ibrahim -‘alaihissalaam- menjawab: “Tidak, bahkan itu dari kekasihku Allah ﷻ.”

Mulai hari itu, Allah ﷻ menjadikan Nabi Ibrahim -‘alaihissalaam- sebagai kekasihnya. (dikutip dari riwayat Abu sholeh dari Ibnu Abbas ra).

Ketiga, karena Nabi Ibrahim -‘alaihissalaam- pernah memecahkan berhala dan menghujjat para pengikutnya.

Waallahu A’lamu

Penulis: Abdul Adzim

Referensi:

✍️ 𝐒𝐲𝐚𝐢𝐤𝐡 𝐀𝐡𝐦𝐚𝐝 𝐛𝐢𝐧 𝐌𝐮𝐡𝐚𝐦𝐦𝐚𝐝 𝐚𝐬𝐡-𝐒𝐡𝐚𝐰𝐢𝐲 𝐚𝐥-𝐌𝐢𝐬𝐡𝐫𝐢𝐲 𝐚𝐥-𝐌𝐚𝐤𝐤𝐢𝐲 𝐚𝐥-𝐌𝐚𝐥𝐢𝐤𝐢𝐲| 𝐇𝐚𝐬𝐲𝐢𝐲𝐚𝐭𝐮 𝐚𝐬𝐡-𝐒𝐡𝐚𝐰𝐢𝐲 𝐚𝐥𝐚 𝐓𝐚𝐟𝐬𝐢𝐫 𝐚𝐥-𝐉𝐚𝐥𝐚𝐢𝐧𝐢| 𝐃𝐚𝐫𝐮 𝐚𝐥-𝐊𝐮𝐭𝐮𝐛 𝐚𝐥-𝐈𝐥𝐦𝐢𝐲𝐚𝐡 𝐣𝐮𝐳 6 𝐡𝐚𝐥 323.

✍️ 𝐒𝐲𝐚𝐢𝐤𝐡 𝐒𝐮𝐥𝐚𝐢𝐦𝐚𝐧 𝐛𝐢𝐧 𝐔𝐦𝐚𝐫 𝐚𝐥-𝐔𝐣𝐚𝐢𝐥𝐢𝐲 𝐚𝐬𝐲-𝐒𝐲𝐚𝐟𝐢’𝐢| 𝐀𝐥-𝐅𝐮𝐭𝐮𝐡𝐚𝐭 𝐚𝐥-𝐈𝐥𝐚𝐡𝐢𝐲𝐚𝐡 𝐁𝐢𝐭𝐚𝐰𝐝𝐡𝐢𝐡𝐢 𝐓𝐚𝐟𝐬𝐢𝐫 𝐚𝐥-𝐉𝐚𝐥𝐚𝐢𝐧 𝐥𝐢 𝐃𝐚𝐪𝐚𝐢𝐪𝐢 𝐚𝐥-𝐊𝐡𝐚𝐟𝐢𝐲𝐚𝐡| 𝐃𝐚𝐫𝐮 𝐚𝐥-𝐊𝐮𝐭𝐮𝐛 𝐚𝐥-𝐈𝐥𝐦𝐢𝐲𝐚𝐡 𝐣𝐮𝐳 3 𝐡𝐚𝐥 345.

✍️ 𝐒𝐲𝐚𝐢𝐤𝐡 𝐌𝐮𝐡𝐚𝐦𝐦𝐚𝐝 𝐀𝐥𝐢 𝐚𝐬𝐡-𝐒𝐡𝐚𝐛𝐮𝐧𝐢𝐲| 𝐒𝐡𝐨𝐟𝐰𝐚𝐭𝐮 𝐚𝐭-𝐓𝐚𝐟𝐚𝐬𝐢𝐫| 𝐃𝐚𝐫𝐮 𝐚𝐥-𝐐𝐮𝐫’𝐚𝐧 𝐚𝐥-𝐊𝐚𝐫𝐢𝐦 𝐣𝐮𝐳 3 𝐡𝐚𝐥 40.

✍️ 𝐀𝐛𝐮 𝐚𝐥-𝐅𝐚𝐫𝐚𝐣 𝐒𝐲𝐚𝐢𝐤𝐡 𝐉𝐚𝐦𝐚𝐥𝐮𝐝𝐝𝐢𝐧 𝐀𝐛𝐝𝐮𝐫𝐫𝐚𝐡𝐦𝐚𝐧 𝐛𝐢𝐧 𝐀𝐥𝐢 𝐛𝐢𝐧 𝐌𝐮𝐡𝐚𝐦𝐦𝐚𝐝 𝐚𝐥-𝐉𝐚𝐰𝐳𝐢𝐲 𝐚𝐥-𝐇𝐚𝐧𝐛𝐚𝐥𝐢𝐲| 𝐙𝐚𝐝𝐚 𝐚𝐥-𝐌𝐚𝐬𝐢𝐫 𝐟𝐢 𝐈𝐥𝐦𝐢 𝐚𝐭-𝐓𝐚𝐟𝐬𝐢𝐫| 𝐃𝐚𝐫𝐮 𝐚𝐥-𝐊𝐮𝐭𝐮𝐛 𝐚𝐥-𝐈𝐥𝐦𝐢𝐲𝐚𝐡 𝐣𝐮𝐳 1 𝐡𝐚𝐥 128.

banner 700x350