TRADISI KURBAN DI IDUL ADHA, BENARKAH BERMULA DARI KISAH IBRAHIM AS? (1)

oleh -347 views

 

Menjelang hari raya Idhul Adha, kita sering mendengar statemen klasik bahwa tradisi kurban bermula dari kisah Nabi Ibrahim -‘alaihissalaam- yang diabdikan Allah ﷻ dalam al-Qur’an al-Karim:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعْىَ قَالَ يَٰبُنَىَّ إِنِّىٓ أَرَىٰ فِى ٱلْمَنَامِ أَنِّىٓ أَذْبَحُكَ فَٱنظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِىٓ إِن شَآءَ. فَلَمَّآ أَسْلَمَا وَتَلَّهُۥ لِلْجَبِينِ. وَنَٰدَيْنَٰهُ أَن يَٰٓإِبْرَٰهِيمُ، قَدْ صَدَّقْتَ ٱلرُّءْيَآ ۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِى ٱلْمُحْسِنِينَ.

Arti: Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS. as-Saffat: 102-105).

Penulis mencoba mencari dari mana statemen tersebut berasal, pertama ingin tahu kitab yang dibuat rujukan. Kedua adakah pendapat lain dari ulama terkait penyebab perintah Nabi Ibrahim -‘alaihissalaam- menyembelih Nabi Ismail -‘alaihissalaam-.

Alhamdullah, penulis menemukannya di beberapa literatur ulama terdahulu seperti dalam kitab Tafsir Ruhu al-Bayan karya Syaikh Ismail Haqqi bin Musthafa al-Istambuliy al-Hanafiy al-Khalwatiy (w. 1127 h) dengan panjang lebar, Syaikh Ismail Haqqi mengupas kisah dan kandungan Ayat di atas hingga beberapa halaman penuh namun yang paling pas digunakan sebagai rujukan statemen tradisi kurban yang berkembang di masyarakat adalah keterangan dalam kitab Dzurratu an-Nashihin fi al-Wa’dhi wa al-Irsyad karya Syaikh Utsman bin Hasan bin Ahmad asy-Syakir al-Khubawiy (w 1824 m). Berikut penjelasan detailnya:

“Dikatakan: “Sebab musabab Nabi Ibrahim -‘alaihissalaam- menyembelih puteranya Nabi Ismail -‘alaihissalaam- adalah pada suatu ketika Nabi Ibrahim -alaihi salam- pernah berqurban 1000 kambing, 300 Sapi, dan 100 Unta untuk dipersembahkan di jalan Allah ﷻ sehingga membuat orang-orang dan para Malaikat takjub dan terheran-heran.”

Lantas beliau berberkata:

كل ما تقرب ليس بشيئ عندي والله لو كان لي ابن لأذبنحه في سبيل الله وأتقرب به إلى الله تعالى.

“Setiap apapun telah aku Qurbankan itu tidak ada sesuatu yang berharga bagiku. Demi Allah ﷻ, jika aku mempunyai seorang anak laki-laki niscaya aku akan menyembelihnya ke jalan Allah ﷻ. Dan aku jadikan untuk mendekatkan diri kepada Allah ﷻ”.

Waktu pun berlalu dan hari silih berganti. Nabi Ibrahim -‘alaihissalaam- pun lupa akan ucapan yang telah dikatakan. Ketika beliau berada di Baitul Maqdis, beliau memohon kepada Allah ﷻ agar dikaruniai seorang anak. Dan Allah ﷻ pun memberi kabar gembir kepada beliau dengan lahirnya seorang putera. (seorang putera yang tampan dan sholeh bernama Ismail -‘alaihissalaam- dari istri beliau Sayyidah Hajar).

Allah ﷻ berfirman:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ

“Maka tatkala anak itu (Ismail -‘alaihissalaam-) sampai pada usia sanggup”. Maksudnya sampai (pada umur sanggup) berjalan bersama-sama Nabi Ibrahim -‘alaihi salam-, yaitu saat dia berumur 7 tahun maka dikatakan kepada Nabi Ibrahim -‘alaihissalaam- dalam tidurnya: “Tepatilah nadzarmu!”

Ibnu Abbas -radhiyallaahu ‘anhumaa- berkata:

لما كانت ليلة التروية ونام رأى في المنام من يقول يا إبراهيم أوف بنذرك فلما أصبح يتروى أي يتفكر أهو من الله أم من الشيطان فلذا سمي يوم التروية فلما أمسي رأى ثانيا في المنام فلما أصبح عرف أنه من الله ولذا سمي ذلك اليوم يوم عرفة واسم ذلك المكان عرفات ثم رأى في الليلة الثالثة مثله فهم بنحره ولذا سمي يوم النحر.

“Ketika malam Tarwiyah (tanggal 8 Dzul Hijjah) Nabi Ibrahim -‘alaihissalaam- tidur dan bermimpi. Dalam mimpi tersebut, seseorang berkata kepada beliau “Wahai Ibrahim, tepatilah nadzarmu!”. Setelah terbangun pada pagi hari, berliau berpikir dan mengangan-angan, sembari berkata pada dirinya “Apakah mimpi itu dari Allah ﷻ ataukah dari syetan ?”. Oleh karenanya hari itu dinamakan hari Tarwiyah.

Pada malam hari berikutnya (tanggal 9 Dul Hijjah) beliau tidur dan bermimpi seperti mimpi yang pertama. Setelah terbangun pada keesokan hari, beliau mengetahui bahwa mimpi tersebut berasal dari Allah ﷻ. Oleh karenanya hari itu dinamakan hari Arafah, dan tempat tersebut dinamakan Arafat.

Pada malam hari berikutnya (tanggal 10 Dzul Hijjah) beliau pun bermimpi dengan mimpi yang sama seperti sebelumnya. Setelah terbangun pada keesokan hari, beliau menyadari bahwa mimpi tersebut adalah perintah untuk menyembelih putra beliau. Oleh karenanya hari itu dinamakan hari Nahr (hari penyembelihan).

Ketika Nabi Ibrahim -‘alaihissalaam- akan mengajak putranya Nabi Ismail -‘alaihissalaam- untuk disembelih, beliau berkata kepada istri beliau Sayyidah Hajar “Pakaikanlah anakmu dengan pakaian yang bagus, karena sesungguhnya aku akan pergi bersamanya untuk bertamu!”.

Sayyidah Hajar pun memakaikan Nabi Ismail -‘alaihissalaam- dengan pakaian yang bagus, memberinya wangi-wangian, dan menyisir rambutnya. Kemudian Nabi Ibrahim -‘alaihissalaam- pergi bersama Nabi Ismail -‘alaihissalaam- dengan membawa sebuah pisau besar dan tali ke arah tanah Mina.

Dan Nabi Ismail -‘alaihissalaam- pun berlari-lari di depan ayahnya, saat itulah Iblis mendatangi Nabi Ibrahim -‘alaihissalaam- seraya berkata “Apakah kamu tidak melihat gagahnya anakmu ketika ia berdiri, ia begitu tampan, dan lembut tingkah lakunya?”. Nabi Ibrahim -‘alaihissalaam- berkata “Iya, tetapi aku diperintahkan Allah ﷻ untuk menyembelihnya”.

Maka ketika Iblis sudah berputus asa tidak bisa menggoda Nabi Ibrahim -‘alaihissalaam- maka ia pun pergi menemui Sayyidah Hajar (isteri Nabi Ibrahim -‘alaihissalaam-), dan berkata: “Wahai Hajar, bagaimana bisa kamu hanya duduk disini sedangkan Ibrahim pergi bersama anaknya untuk menyembelihnya!”.
Sayyidah Hajar berkata: “Kamu jangan dusta kepadaku, mana ada seorang ayah yang tega menyembelih putranya?”.

Iblis menjawab: “Lalu untuk apa Ibrahim membawa pisau besar dan tali?”.

Hajar bertanya: “Untuk alasan apa ia menyembelihnya?”.

Iblis menjawab: “Ia menyangka bahwa Tuhannya telah memerintahkannya untuk meyembelih anaknya”.

Sayyidah Hajar pun berkata: “Seorang Nabi tidak diperintahkan untuk kebatilan dan aku akan selalu percaya padanya. Nyawaku sebagai tebusan atas perkara itu, maka bagaimana dengan anakku (tentu ia pun demikian)”.

Maka ketika Iblis sudah berputus asa tidak bisa menggoda Sayyidah Hajar, ia pun pergi menemui Nabi Ismail -‘alaihissalaam- dan menggodanya: “Kamu sangat senang bermain-main, tetapi ayahmu membawa pisau besar dan tali, ia akan menyembelihmu ”.

Nabi Ismail -‘alaihissalaam- berkata: “Kamu jangan berbohong kepadaku, ayahku tidak akan menyembelihku !”.

Iblis berkata: “Ia menyangka bahwa Tuhannya telah memerintahkannya untuk menyembelihmu”

Nabi Ismail -‘alaihissalaam- berkata “Aku akan selalu tunduk dan taat terhadap perintah Tuhanku”.

Saat Iblis akan melontarkan perkataan lain untuk meggodanya, Nabi Ismail -‘alaihissalaam- mengambil batu-batu dan melemparkannya kepada Iblis sehingga mengenai mata kiri Iblis. Kemudian Iblis pun pergi dengan kecewa dan putus asa.
Nah, pada tempat tersebut Allah ﷻ mewajibkan atas kita melempar jumrah dengan niat melempar syetan dan mengikuti apa yang telah dilakukan Nabi Ismail -‘alaihissalaam-.

Setelah Nabi Ibrahim -‘alaihissalaam- sampai di tanah Mina, beliau berkata kepada puteranya:

يَا بُنَيَّ إِنِّيْ أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّيْ أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَا ذَا تَرَى

“Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah apa pendapatmu”.

Nabi Ismail -‘alaihissalaam- menjawab:

“يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِيْ إِنْ شَاءَ اللهُ مِنَ الصَّابِرِيْنَ”.

“Wahai ayahku, lakukan apa yang diperintahkan kepadamu, Insya’allah engkau akan menemuiku termasuk orang-orang yang sabar”.

Allah ﷻ berfirman:

فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِيْنِ

“Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipisnya.” Kemudian beliau menyembelih leher putra beliau dengan kuat, akan tetapi atas kehendak Allah ﷻ pisau tersebut tak mampu memotong leher Nabi Ismail -‘alaihissalaam-.

Nabi Ismail -‘alaihissalaam- berkata: “Wahai ayahku, kekuatanmu melemah karena cinta kepadaku sehingga engkau tidak kuasa untuk menyembelihku”.

Kemudian Nabi Ibrahim -‘alaihissalaam- menebaskan pisau besarnya pada batu dan batu tersebut terbelah menjadi dua. Nabi Ibrahim -‘alaihissalaam- heran dan berkata: “Pisau ini bisa memotong batu tetapi tidak bisa memotong daging”.

Namun atas kuasa Allah ﷻ, pisau tersebut berkata: “Wahai Ibrahim, kamu mengatakan: Potonglah, tetapi Tuhan semesta alam berkata: Jangan potong. Maka bagaimana aku melaksanakan perintahmu yang berlawanan dengan perintah Tuhanmu?”

Kemudian Allah ﷻ berfirman:

وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيْمُ قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا. إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِيْنَ. إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِيْنُ. وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيْمٍ.

“Dan Kami panggil dia, “Wahai Ibrahim” Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpimu itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar ujian yang nyata.Dan Kami tebus (ganti) anak itu dengan seekor sembelihan yang besar”.

Malaikat Jibril pun datang dengan membawa seekor Domba yang besar. Domba tersebut merupakan Domba kurban Habil putra Nabi Adam -‘alaihissalaam- yang masih hidup dalam Surga. Kemudian Domba tersebut dijadikan tebusan atau ganti Nabi Ismail -‘alaihissalaam-. Malaikat Jibril yang datang dan melihat Nabi Ibrahim -‘alaihissalaam- berusaha memotong leher putra beliau. Dengan rasa ta’dhim (hormat) dan kagum atas Nabi Ibrahim -‘alaihissalaam-, Malaikat Jibril berkata:

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ

“Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar.”

Kemudian Nabi Ibrahim -‘alaihissalaam-, menjawab:

لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ

“Tidak Tuhan kecuali Allah dan Allah Maha Besar.”

Nabi Ismail -‘alaihissalaam- pun mengikuti dengan ucapan:

اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ

“Allah Maha Besar, dan segala puji bagi Allah”

Allah ﷻ telah menjadikan kebaikan atas kalimat-kalimat tersebut dan mewajibkan atas kita untuk dikumandangkan pada hari-hari penyembelihan (tanggal 10 s/d 13 Dzul Hijjah) karena mengikuti apa yang telah dilakukan Nabi Ibrahim -‘alaihissalaam-.”

Wallahu A’lamu

Penulis: Abdul Adzim

Referensi:

✍️ 𝐒𝐲𝐚𝐢𝐤𝐡 𝐈𝐬𝐦𝐚𝐢𝐥 𝐇𝐚𝐪𝐪𝐢 𝐛𝐢𝐧 𝐌𝐮𝐬𝐭𝐡𝐚𝐟𝐚 𝐚𝐥-𝐈𝐬𝐭𝐚𝐦𝐛𝐮𝐥𝐢𝐲 𝐚𝐥-𝐇𝐚𝐧𝐚𝐟𝐢𝐲 𝐚𝐥-𝐊𝐡𝐚𝐥𝐰𝐚𝐭𝐢𝐲| 𝐓𝐚𝐟𝐬𝐢𝐫 𝐑𝐮𝐡𝐮 𝐚𝐥-𝐁𝐚𝐲𝐚𝐧| 𝐌𝐚𝐤𝐭𝐚𝐛𝐚𝐡 𝐚𝐬𝐲-𝐒𝐲𝐚𝐦𝐢𝐥𝐚𝐡 𝐚𝐥-𝐇𝐚𝐝𝐢𝐬𝐢𝐲𝐚𝐡 𝐣𝐮𝐳. 7 𝐡𝐚𝐥. 473-477.

✍️ 𝐒𝐲𝐚𝐢𝐤𝐡 𝐔𝐭𝐬𝐦𝐚𝐧 𝐛𝐢𝐧 𝐇𝐚𝐬𝐚𝐧 𝐛𝐢𝐧 𝐀𝐡𝐦𝐚𝐝 𝐚𝐬𝐲-𝐒𝐲𝐚𝐤𝐢𝐫 𝐚𝐥-𝐊𝐡𝐮𝐛𝐚𝐰𝐢𝐲| 𝐃𝐳𝐮𝐫𝐫𝐚𝐭𝐮 𝐚𝐧-𝐍𝐚𝐬𝐡𝐢𝐡𝐢𝐧 𝐟𝐢 𝐚𝐥-𝐖𝐚’𝐝𝐡𝐢 𝐰𝐚 𝐚𝐥-𝐈𝐫𝐬𝐲𝐚𝐝| 𝐃𝐚𝐫𝐮 𝐚𝐥-𝐀𝐫𝐪𝐨𝐦 212-214.

𝑩𝒂𝒄𝒂: 𝑲𝒐𝒎𝒆𝒏𝒕𝒂𝒓 𝒖𝒍𝒂𝒎𝒂 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒍𝒂𝒊𝒏 𝒎𝒆𝒏𝒈𝒆𝒏𝒂𝒊 𝒔𝒆𝒃𝒂𝒃 𝒎𝒖𝒔𝒂𝒃𝒂𝒃 𝑵𝒂𝒃𝒊 𝑰𝒃𝒓𝒂𝒉𝒊𝒎 -‘𝒂𝒍𝒂𝒊𝒉𝒊𝒔𝒔𝒂𝒍𝒂𝒂𝒎- 𝒅𝒊𝒑𝒆𝒓𝒊𝒏𝒕𝒂𝒉 𝒎𝒆𝒏𝒚𝒆𝒎𝒃𝒆𝒍𝒊𝒉 𝑵𝒂𝒃𝒊 𝑰𝒔𝒎𝒂𝒊𝒍 -‘𝒂𝒍𝒂𝒊𝒉𝒊𝒔𝒔𝒂𝒍𝒂𝒂𝒎- 𝒅𝒊𝒆𝒅𝒊𝒔𝒊 𝒃𝒆𝒓𝒊𝒌𝒖𝒕𝒏𝒚𝒂 𝒊𝒔𝒚𝒂𝒂𝒍𝒍𝒂𝒉

banner 700x350