KESALAHAN BERBUAH PENGAMPUNAN

oleh -148 views

Pada suatu hari Abu Ayyub Maimun bin Mahran al-Jazariy ra (w. 116/117 h) kedatangan seorang tamu. Lantas ia menyuruh pelayan (budak) perempuannya agar segera menyiapkan makan malam untuk tamunya.

Tidak beberapa lama sang pelayan perempuan datang dengan membawa nampan yang dipenuhi aneka masakan. Karena tergesa-gesa takut mendapat murka sang majikan, pelayan perempuan itu tersandung dan kuah panas dari masakan yang dibawa tumpah mengenai kepala Maimun bin Mahran ra.

Spontan Maimun bin Mahran ra marah namun ditahan lalu berkata: “Hai pelayan! Apakah engkau hendak membakarku?”.

Dengan santai sang pelayan menjawab: “Duhai guru kebaikan dan pengajar etika pada semua orang! Jangan marah, ingatlah pada apa yang telah difirmankan Allah ﷻ”.

“Apa yang telah difirmankan Allah ﷻ?” Tanya Maimun bin Mahran ra tak sabar.

وَٱلْكَٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ

Artinya: “Dan orang-orang yang menahan amarahnya.” Jawab pelayan itu.

“Aku telah menahan amarahku”. Bantah Maimun bin Mahran ra.

Sang pelayan perempuan berkata:

وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ

Artinya: “Dan memaafkan (kesalahan) orang.”

“Aku telah memaafkan kesalahanmu”. Embuh Maimun bin Mahran ra.

Sang pelayan perempuan berkata lagi: “Masih kurang Tuan, bukankah Allah ﷻ berfirman setelah itu:

وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ

Artinya: “Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran: 134).

Mendengar perkataan pelayannya Maimun bin Mahran ra tak bisa membantah lagi lalu berkata:

أَنْتِ حُرَّة لِوَجْهِ اللّٰهِ تَعَالٰى

“Engkau (sekarang) bebas kerena Allah ﷻ”.

Waallahu A’lamu

Penulis: Abdul Adzim

📌 Tulisan ini disadur dari kitab Ihya’ Ulumiddin juz 2 halaman 271, Daru al-Kutub al-Ilmiyah, cet 1971 M Bairut Lebanon karya Hujjatu al-Islam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazaliy (w. 505 H).

banner 700x350