AWAL PERJUMPAAN AT-TUSTARIY DENGAN SAMUDERA TASAWUF (2-Selesai)

oleh -1,223 views

Setelah genap satu tahun, aku membaca kalimat itu. Pamanku berkata:

“Sahl! Jagalah apa yang aku ajarkan padamu dan istiqamah membacanya hingga engkau masuk ke liang kubur. Sesungguhnya (mengamalkan) kalimat itu bermanfaat dunia akhirat.”

Sejak itulah aku tidak pernah meninggalkan membaca kalimat itu selama bertahun-tahun hingga aku merasakan manis dan ladzatnya dzikir sirri (menggunakan dzawq: perasaan dan syu`ur: kesadaran yang ada di dalam qalbu)ku

Kemudian setelah melewati beberapa tahun, pamanku berkata padaku:

“Sahl! Barang siapa merasa bahwa Allah ﷻ selalu bersamanya, Allah ﷻ senantiasa melihat dan menyaksikan keadaannya. Masihkah orang itu bermaksiat pada Allah ﷻ? Aku berpesan padamu, jangan sekali-kali bermaksiat kepada-Nya”.

Setelah itu, aku lebih senang Khalwat (berusaha menjauhkan diri dari berbagai kemaksiatan dan memfokuskan diri untuk melakukan amalan ibadah agar lebih mendekatkan diri kepada Allah ﷻ dengan cara menyepi).

***

Syaikh Sahl kecil melalui bimbingan pamannya seperti di tarik mega magnetik Uluhiyah untuk terus mendaki puncak keindahan Tasawuf. Meniti sorot cahaya suluk yang dinyalakan pamannya untuk bertemu cahaya nebula keabadian. Tangga demi tangga sufistik yang terjal dan menukik ia lalui dengan mudah, mengalahkan segala kesenangan dan syahwat duniawi di usianya yang masih dini. Ia telah menjadi sosok yang mampu menaklukan ruang dan waktu. Tiada detik, menit dan jam dilewati kecuali diisi dengan mengingat Allah ﷻ. Baginya tempat bermain yang paling menyenangkan adalah Khalwat—Ucapannya Dzikir, geraknya sholat dan tangisnya adalah doa munajat hingga kalimat dzikir yang diajarkan pamannya menjadi darah, daging, tulang dan nafasnya. Kelak kalimat dzikir itu akan dikenal para ahli dengan sebutan Dzikir atau Wirid Sahl at-Tustariy.

“Suatu hari saat usiaku akan beranjak baligh, keluargaku memintaku belajar al-Qur’an dan memahami maknanya. Tapi aku takut berpisah dengan impianku, meninggalkan kemesraan yang selama ini aku rajut. Akhirnya keluargaku memberiku jaminan, bahwa aku akan belajar al-Qur’an berserta maknanya pada seorang guru selama satu jam setiap hari. Selebihnya aku diperbolehkan meneruskan Khawatku.” Tutur Syaikh Sahl bin Abdullah at-Tustariy meneruskan kisahnya.

“Saat usiaku kira-kira menginjak enam atau tujuh tahun. Aku telah diberi kemudahan oleh Allah ﷻ menghafal al-Qur’an dan belajar memaknai isi yang terkandung di dalamnya. Di usia itu, aku sudah berpuasa setahun. Sahur dan berbuka dengan roti yang terbuat dari syair (Barli: sejenis tanaman padi) hingga usiaku baligh, umur 12 tahun. Lalu pada usia 13 tahun muncul pertanyaan-pertanyaan spritual yang rumit menghantam pikiranku, yang tidak mampu aku jawab. Aku bingung kepada siapa aku harus bertanya? Kemudian ada yang menyarankan agar aku pergi ke kota Bashrah. Di sana aku bertanya pada para ulamanya namun tidak ada satu pun jawaban dari mereka yang bisa mengobati resah kebingunganku. Maka aku putuskan untuk pergi ke kota ‘Abadan (sekarang Iran bagian selatan), di sana aku bertemu dengan seorang ulama yang dikenal dengan sebutan Habib Hamzah bin Abdullah al-‘Abadaniy. Aku haturkan dan aku tumpahkan segala pertanyaan yang selama ini mengusik benak dan hatiku. Ia menjawab semua pertanyaanku dengan jelas dan lugas, aku terkesima dan takjub dibuatnya dan aku putuskan untuk bersamanya barang beberapa hari, memungut mutiara ilmu dan hikmah yang keluar dari lisannya yang mulia serta belajar banyak etika yang indah dari kepribadiannya yang agung, santun dan bersahaja. Kemudian aku kembali ke Tustar, kota kelahiranku.

Pasca aku kembali ke kota kelahiranku, segala keperluan hidupku aku lakukan seorang diri. aku melanjutkan kebiasaanku berpuasa setiap hari. Aku membeli 16 Rithal atau sepadan dengan 12 Uqiyah biji syair Baghdad seharga 1 Dirham. Setiap akan sahur aku memasaknya 1 Uqiyah tanpa garam dan lauk pauk serta tanpa berbuka puasa, maka 1 Dirham aku cukupkan 1 tahun. Setelah itu aku mencoba menahan lapar dengan puasa 3 hari hanya berbuka sekali, lalu 5 hari. Kemudian 7 hari hingga aku mampu berpuasa 25 hari dengan sekali berbuka dan ini aku lakukan selama 20 tahun.

Setelah itu aku mengembara keluar dari tanah kelahiranku selam 2 tahun, lalu aku kembali ke Tustar membiasakan diri qiyamul lail semalam suntuk tanpa tidur sekejap pun.”

***

Muhammad bin Husain mengatakan: Aku mendengar Abu al-Abbas al-Baghdadiy mengatakan: Aku mendengar Ibrahim bin Faras mengatakan: Aku mendengar Nashir bin Ahmad Aku mendengar: Syaikh Sahl bin Abdullah at-Tustariy pernah berkata:

كل فعل يفعله العبد بغير اقتداء، طاعة كان أو معصية فهو عيش النفس، وكل فعل يفعله بالاقتداء فهو عذب على النفس.

“Setiap pekerjaan yang dilakukan seorang hamba tanpa mengikuti tuntunan (Syara’), baik dalam ketaatan maupun kemaksiatan. Maka dia itu sedang menghidupkan nafsunya (berbuat menurutkan nafsu). Dan setiap perbuatan hamba yang dilakukan dengan mengikuti tuntunan (Syara’), maka dia itu sedang menyiksa nafsunya.”

Waallahu A’lamu

Penulis: Abdul Adzim

Referensi:

✍️ Syaikh Abu al-Qasim Abdul Karim bin Hawazin al-Qusyairi| Ar-Risalah al-Qusyairiyah| Daru al-Kutub al-Ilmiyah hal 39-40.

✍️ Syaikh Sahl bin Abdullah at-Tustariy| Syaikhu al-Arifin| Daru ats-Tsaqafiyah li an-Nasuri hal 17-18

✍️ Syaikh Zakariya al-Anshariy| Nataiju al-Afkar al-Qudsiyah| Daru al-Kutub al-Ilmiyah juz 1 hal 169-173.

✍️ Syaikh Muhammad Ali bin Muhammad Alan al-Bakriy ash-Shiddiq asy-Syafi’iy| Al-Futuhat an-Nawawiyah ala al-Adzkar an-Nawawiyah| Daru al-Kutub al-Ilmiyah juz 5 hal 260

banner 700x350

No More Posts Available.

No more pages to load.